Gejok Lesung yang asli sebenarnya adalah suatu bentuk seni tradisional perkusi dengan alat musik sederhana berupa lesung dan antam/alu, yang aslinya adalah alat penumbuk padi dan bukan alat musik. Namun dalam perkembangannya gejog lesung dikemas sedemikian rupa menjadi sebuah kesenian tradisional yang dipentaskan untuk melestarikan budaya jawa untuk mengangkat potensi kearifan lokal.
Gejok Lesung sudah ada sejak dahulu kala sebagai warisan budaya turun menurun dari kakek moyang. Konon cerita gejog lesung ini diselenggarakan oleh masyarakat disamping untuk membangun kerukunan warga juga karena berbagai alasan. Pertama, dilakukan sebagai bentuk ekspresi kegembiraan dan rasa syukur kepada Sang Pencipta sesudah para petani selesai panen padi. Mereka menumbuk padi hasil panennya. Ini biasanya dimainkan oleh 3 atau 4 orang dan biasanya oleh para ibu. Kedua, gejog lesung dilakukan ketika salah satu warga mempunyai hajat. Disana para ibu berkumpul dan sebagian menumbuk beras di lesung untuk membuat tepung sebagai bahan memasak. Mereka menumbuk beras tersebut namun dengan irama sehingga pukulan tersebut terdengar seperti tabuhan yang enak didengar sehingga mereka juga merasa terhibur agar tidak merasa lelah. Ketiga, gejog lesung juga sering dilakukan pada waktu bulan purnama pada malam hari ketika cuacanya cerah. Orang-orang pada berkumpul ramai-ramai untuk bersenang-senang bersama. Yang keempat, dahulu kala gejog lesung dilakukan ketika disuatu malam terjadi gerhana bulan. Gerhana bulan ini di percaya sebagai mitos masyarakat jawa bahwa gerhana bulan terjadi karena Dewi Sri ditelan oleh Bethoro Kolo, yang dalam dunia pewayangan adalah sosok dewa dari kayangan yang bersifat jahat. Gejog Lesung ini dimaksudkan untuk menghalau Bethoro Kolo agar melepaskan rembulan. Yang terakhir seni Gejog Lesung terinspirasi dari kejadian cerita Bandung Bondowoso ketika memenuhi permintaan Rara Jonggrang untuk membuatkan 1000 candi dalam satu malam, akan tetapi Roro Jonggrang bermaksud menggagalkan upaya Bandung Bondowoso dengan cara menyuruh para dayang untuk menumbuk lesung sebelum fajar agar ayam mulai berkokok. Itu pertanda hari sudah pagi. Upaya itu berhasil, Bandung Bondowoso gagal memenuhi janjinya dan hanya berhasil membuat 999 candi/arca dan akhirnya Bandung Bondowoso mengutuk Roro Jonggrang menjadi candi yang ke-1000.
Dalam perkembangannya di kemudian hari gejog lesung sebagai warisan budaya sekarang dikemas menjadi sebuah kesenian tradisional yang inovatif sehingga layak ditonton dan menghibur. Kesenian ini sekarang dipentaskan dalam acara-acara tertentu seperti misalnya; peringatan perayaan hari kemerdekaan, gelar budaya, pentas kethoprak, fragmen, sholawat, dsb. Alat musik aslinya adalah lesung, alu, dan bambu. Selanjutnya seni ini sekarang juga dikolaborasikan dengan alat musik lain seperti; gamelan, kendhang, kempul, kethuk dan saron. Lagu-lagu yang dinyanyikan juga disesuaikan dengan kebutuhan, seperti lagu-lagu religi atau lagu-lagu yang populer saat ini seperti campursari dan lain-lain. Jumlah pemainnya sekitar 25 meliputi penabuh, penari dan penyanyi. Seni tradisional ini masih eksis dan berkembang sampai sekarang di Sungapan, desa Argodadi, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan nama Seni Musik Gejog Lesung "Guyup Rukun" dengan yel-yel penyemangat "Gumyaak Tenan", atau dalam bahasa Indonesia berarti sungguh-sungguh meriah.
Kojrat Wiyana