Sebuah mahakarya warisan nenek moyang yang sangat agung dan ditetapkan sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity (Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia) oleh UNESCO pada tahun 2005.
Senjata pada Masa Kehidupan Manusia Purba
Secara historis dan naluriah, manusia purba sudah mengenal senjata untuk bertahan hidup, melindungi diri dari berbagai ancaman dan serangan binatang atau musuh bahkan perannya sangat vital bagi manusia yang menggantungkan hidupnya dari hasil perburuan. Pada zaman prasejarah diperkirakan senjata berbentuk alat tikam atau belati sederhana yang terbuat dari batu, tulang hewan atau sengat ikan pari. Berbagai macam senjata kuno yang sudah ada antara lain: Kapak genggam (Chopper), alat serpih (Flakes) digunakan sebagai pisau, tombak kayu dan tulang dan batu lempar (Bolas). Alat ini biasanya diberi pegangan dari kain agar nyaman digenggam dan digunakan sebagai senjata pelindung diri. Seiring berjalannya waktu senjata kuno ini terus berevolusi dan salah satunya menjadi senjata yang berbentuk keris.
Kapan Keris Ditemukan?
Keris adalah suatu jenis senjata tajam. Namun sampai sekarang belum sepenuhnya diketahui kapan keris mulai dibuat karena tidak ada sumber tertulis yang deskriptif dari masa sebelum abad ke-15, walaupun penyebutan istilah "keris" telah tercantum pada prasasti Taji Ponorogo dari abad ke-10 Masehi. Ada berbagai teori yang menjelaskan asal muasal keris Nusantara. Seorang penulis bernama G.B. Gardner dalam bukunya Keris and Other Malay Weapon keris dianggap sebagai bentuk inovasi dari senjata tikam prasejarah. Namun diperkirakan asal mula kata "keris" merupakan singkatan dari kata-kata bahasa Jawa "Mlungker-mlungker kang biso ngiris", bentuk keris yang berkelok/mlungker diperkirakan sebagai inovasi dari bentuk keris yang awalnya lurus, karena diilhami dari seekor ular yang sedang melata yang dianggap sakral mengingat orang Jawa pada saat itu mengagungkan Dewa Siwa yang berkalungn ular.
Fase-fase Sejarah Perkembangan Keris Pusaka
Pada perkembangannya, bukan hanya difungsikan sebagai senjata tajam, namun lebih sebagai apa yang disebut "pusaka". Istilah "pusaka" mempunyai arti yang bernuansa sakral, dan dapat diartikan sebagai barang, harta benda, atau warisan leluhur yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Berikut adalah fase-fase sejarah perkembangan keris dalam budaya Nusantara:
Makna Filosofis dan Budaya dari Sebuah Keris
Jika dilihat dari bentuknya, keris memiliki tiga bagian utama, yaitu: mata (bilah), hulu (pegangan), dan Sarung (warangka). Secara filosofis keris mencerminkan:
Keris Sebagai Mahakarya Sains Para Empu
Kalau dianalisis secara nalar, sulit dipercaya apakah mungkin ketika teknologi belum secanggih seperti sekarang ini nenek moyang kita sudah mampu menciptakan sebuah karya yang sangat mengagumkan. Keris membuktikan pencapaian luar biasa peradaban Nusantara dalam teknologi metalurgi dan rekayasa material tingkat lanjut sejak berabad-abad lalu oleh nenek moyang kita yang tidak dilakukan oleh bangsa lain. Ini juga menunjukkan bahwa nenek moyang kita telah memiliki peradaban yang melampaui batas peradaban bangsa lain. Keahlian dalam seni tempa logam yang diwariskan oleh para empu membuat keris telah diakui secara global. Pada 25 November 2005, UNESCO menetapkan keris sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity (Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia).
Berikut adalah poin-poin sebagai bukti nyata teknologi metalurgi tingkat tinggi:
Pengetahuan metalurgi tingkat tinggi ini telah dikuasai para empu jauh sebelum bangsa Eropa mengenal teknik penempaan baja modern yang serupa.
Jenis-jenis Keris
Keris adalah senjata tradisional Nusantara yang banyak ditemukan di daerah Jawa, Bali, dan Madura. Jenis keris dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk bilah, jumlah lekukan (luk), serta wilayah asalnya. Keris pada umumnya dibedakan menjadi dua bentuk dasar, yakni bilah lurus dan bilah berlekuk. Berikut adalah jenis-jenis keris berdasarkan kategori utamanya:
1. Berdasarkan Jumlah Luk (Lekukan)
- Luk 3 (Jangkung): Melambangkan cita-cita, perlindungan, dan doa agar pemiliknya selalu diberi ketentraman dan umur panjang.
- Luk 5 (Pandhawa): Melambangkan panca indra dan karakter kesatria dan dipercaya membawa kewibawaan dan keberanian.
- Luk 7 (Sempana): Bermakna pitulungan (pertolongan), sebagai sarana tolak bala dan perlindungan dari mara bahaya.
- Luk 9 (Jigja/Panimbal): Melambangkan tingkat spiritualitas tinggi, dipercaya membawa ketenangan batin dan kewibawaan seorang pemimpin.
- Luk 11 (Carita/Sabuk Inten): Bermakna kemukten (kemakmuran), melambangkan kedinamisan dan harapan agar rezeki selalu terkumpul.
- Luk 13 (Sengkelat): Adalah luk terbanyak dalam pakem keraton, melambangkan kesempurnaan kekuasaan, kewibawaan tingkat tinggi, dan kejayaan.
Sedangkan keris yang memiliki luk lebih dari 13, luk 15 misalnya, sering disebut sebagai keris Kalawijen dan biasanya tidak termasuk pusaka standar keraton.
2. Berdasarkan Wilayah/Gaya (Dapur)
3. Berdasarkan Fungsi
Keris-Keris yang Dipercaya Mempunyai Kesaktian Tinggi
Dari berbagai cerita di masyarakat, ada beberapa keris pusaka yang memiliki kesaktian tingkat tinggi. Manifestasi kesaktiannya antara lain, keris bisa berdiri tegak (Pancer), keris mampu berdiri di atas permukaan datar tanpa dipegang. Secara ilmiah, ini membuktikan tingkat presisi dan keseimbangan titik berat yang sangat tinggi dari hasil tempaan sang Empu. Kedua, keris yang bertuah (Energi Spiritual), dipercaya memancarkan energi yang dapat memberikan pengaruh tertentu, seperti memberikan kewibawaan (kharisma), mendatangkan keselamatan (tolak bala), mampu menyerap berbagai bisa binatang berbahaya hingga memberikan rasa percaya diri bagi pemiliknya. Mengapa ada beberapa keris yang memiliki daya magis seperti ini? Karena keris biasanya dibuat oleh empu yang sakti dan dalam proses pembuatannya dimulai dengan beberapa laku ritual sebagai berikut:
Beberapa Keris Sakti yang Pernah Ada
Merupakan keris paling melegenda dari era awal Kerajaan Singasari. Dibuat oleh Mpu Gandring atas pesanan Ken Arok, keris ini terkenal dengan kutukan menelan korban jiwa hingga tujuh keturunan akibat dibunuh oleh Ken Arok sendiri sebelum keris itu sempurna.
Pusaka sakti milik Sunan Kalijaga yang digunakan untuk menyebarkan ajaran Islam sekaligus mengalahkan kebatilan di tanah Jawa. Keris ini sangat dihormati dan pusakanya masih disucikan hingga kini melalui tradisi jamasan.
Keris legendaris lain yang konon memiliki kesaktian mampu mengusir wabah penyakit dan menangkal mara bahaya. Keris ini memiliki 13 luk (kelokan) dan menjadi simbol keberanian serta keteguhan iman.
Berasal dari era Kerajaan Majapahit dengan bentuk naga yang menghiasi bilahnya. Keris ini melambangkan kekuasaan, kewibawaan, dan kemakmuran, serta konon memiliki kekuatan magis tingkat tinggi untuk mengabadikan kejayaan pemegangnya.
Kisah keris sakti milik Sunan Giri yang unik, karena konon senjata ini pernah digunakan oleh sang Wali sebagai pena untuk menulis.
Berdasarkan uraian di atas, keris layak disebut sebagai sebuah mahakarya agung Nusantara yang menjadi bukti kejayaan para leluhur yang sangat mengagumkan dan layak kita apresiasi.
Terima Kasih telah membaca artikel ini, semoga bermanfaat.
Wassalam