Sebuah kekayaan budaya tradisional yang tetap eksis dan lestari, yang didukung oleh Ketoprak "Bayu Aji Argodadi", "Cipto Budoyo", "Rante Budoyo", "Manunggal Budoyo" dan "Ketoprak Pamong Argodadi" yang bersinergi dengan para seniman, hadir di tengah masyarakat pecinta seni ketoprak dalam rangka mendukung Desa (Kalurahan) Budaya Argodadi.
Sejarah Kesenian Ketoprak
Kesenian ketoprak adalah sebuah seni drama tradisional Jawa yang lahir di Surakarta pada awal abad ke-20 dan berkembang pesat di Yogyakarta. Awalnya ketoprak diciptakan sebagai hiburan rakyat dengan iringan lesung, kemudian kesenian ini bertransformasi menggunakan gamelan lengkap untuk menceritakan cerita babad, kerajaan-kerajaan, legenda, dan sejarah masyarakat Jawa.
1. Ketoprak Lesung (Fase Awal)
- Asal-Usul, ketoprak diperkirakan lahir sekitar tahun 1908 di Solo awal mula dijadikan sebagai hiburan rakyat jelata (petani) untuk melepas penat setelah bekerja di sawah berhari-hari, mereka berkumpul di bawah sinar bulan purnama.
- Instrumen, musik iringan yang digunakan masih sangat sederhana, yang terdiri dari lesung (alat penumbuk padi), seruling, terbang, dan kendang. Karena dari tabuhan lesung yang berbunyi "prak-prak-prak", maka kesenian ini disebut ketoprak.
2. Fase Transformasi di Jaman Mataram
- Inovasi Keraton, pada tahun 1920-an para seniman di Keraton Mangkunegaran Surakarta mengadopsi ketoprak lesung ini menjadi lebih elegan dengan menambahkan instrumen gamelan Jawa.
- Gaya Pementasan, cerita ketoprak yang bervariasi mulai dari tema kehidupan sehari-hari hingga kisah sejarah, legenda, dan cerita klasik kerajaan hingga cerita carangan (karangan). Sejak saat itu, pertunjukan ketoprak mulai menyebar luas tumbuh subur di wilayah Yogyakarta.
3. Ketoprak Dor (Fase Perantauan)
- Penyebaran, seiring dengan menyebarnya para perantau Jawa ke berbagai daerah lain seperti wilayah Sumatra kesenian ketoprak juga ikut berkembang di daerah perantauan.
- Ketoprak Dor, di Deli Sumatra, gaya ketoprak sedikit berubah, beradaptasi dan dikenal dengan sebutan Ketoprak Dor karena identik dengan suara senjata mainan yang digunakan sebagai tanda pergantian babak, gaya pementasannya lebih dinamis, ceria, dan lebih menyerupai bentuk opera rakyat.
Berbagai unsur Pertunjukan Ketoprak
Kesenian ketoprak lahir dari gabungan dari berbagai elemen seni pertunjukan tradisional Jawa, antara lain:
- Dialog dan Tembang, dialog antar tokoh adalah bagian utama dalam pentas ketoprak, yang sering kali diselingi dengan tembang (nyanyian Jawa) untuk mengekspresikan emosi dan memperkuat alur cerita.
- Kostum, kostum berfungsi untuk menambah daya tarik tersendiri. Sesuai dengan karakter masing-masing, para pemain mengenakan busana tradisional Jawa lengkap, pakaian sehari-hari rakyat jelata maupun pakaian kebesaran ala Kerajaan.
- Pakain Humor (dagelan), pertunjukan ketoprak biasanya diselingi dengan banyolan (dagelan) yang segar untuk semakin menarik dan menghibur penonton. Pentas biasanya mengundang tokoh-tokoh pelawak terkenal agar semakin banyak penonton yang datang.
Durasi Pertunjukan
Durasi pertunjukan seni tradisional ketoprak sangat bervariasi dan tergantung jenis pementasannya:
- Pementasan Lengkap (Tradisional), biasanya ini adalah pentas tanggapan oleh pribadi atau kelompok masyarakat dalam acara tertentu yang dapat berlangsung antara 4 hingga 6 jam. Lakon pertunjukan utuh ini biasanya mengangkat cerita sejarah, legenda, atau kisah kerajaan yang mendalam.
- Ketoprak Humor, ketoprak humor adalah variasi dari kesenian tradisional Jawa, ketoprak, yang dikemas dengan unsur komedi modern, meskipun tetap menggunakan latar belakang sejarah atau legenda Jawa kuno, para pemain dibebaskan untuk melakukan improvisasi, menyelipkan lelucon segar, dan menggunakan bahasa gaul masa kini.
- Format yang lebih segar sama sekali di luar pakem, dalam cerita sayembara diadakan oleh tokoh tertentu dengan syarat-syarat yang lucu dan tidak masuk akal, sering kali untuk mengobati penyakit atau mencari orang hilang yang mengundang gelak tawa penonton. Ketoprak ini biasanya berseri dan disiarkan/ditayangkan melalui stasiun radio atau TV dengan durasi lebih pendek.
- Pementasan Modern/Festival: biasanya hanya berdurasi 1 hingga 2 jam dengan cerita yang dipadatkan agar lebih sesuai dengan selera penonton masa kini.
Komponen-Komponen Pertunjukan Ketoprak
Baik buruknya sebuah pertunjukan seni ketoprak di panggung tentu dipengaruhi oleh banyak banyak elemen pendukung yang harus solid bersinergi untuk dapat menyuguhkan sebuah pentas yang berkualitas.
1. Tim Kreatif dan Produksi
- Sutradara, adalah seorang penanggung jawab utama yang mengatur jalannya cerita, penjiwaan karakter, dan memimpin proses latihan.
- Penulis Naskah, berperan sebagai penyusun alur cerita, baik cerita rakyat, legenda, babad sejarah, maupun cerita carangan.
- Pimpinan Produksi, bertugas mengelola manajemen pementasan, termasuk pendanaan, perizinan, dan promosi.
2. Pemain dan Pemeran (Pelakon)
- Tokoh Utama (Sentral), adalah karakter kunci yang menggerakkan alur cerita, seperti Raja, Pangeran, atau Kesatria.
- Tokoh Pendukung (Figuran), adalah karakter prajurit, dayang, atau rakyat yang meskipun tidak banyak dialog, sangat krusial dalam membangun suasana panggung yang lebih menarik.
- Pemain Lawak (Punokawan/Dagelan), adalah karakter yang bertugas mencairkan suasana dan menyajikan humor segar kepada audience.
3. Penabuh/Pengrawit dan Pelantun (Penyanyi)
- Pengrawit, adalah penabuh gamelan yang memainkan instrumen musik tradisional Jawa sebagai pengiring.
- Waranggaga (Sindhen), adalah pelantun tembang (vokal) yang bernyanyi sesuai transisi cerita.
4. Pendukung Teknis
- Penata Artistik (Set dan Lighting), bertugas merancang dekorasi panggung (seperti replika keraton atau hutan) dan pencahayaan untuk membangun suasana panggung agar lebih hidup dan menarik.
- Penata Busana dan Rias, bertanggung jawab penuh atas kostum tradisional (beskap, kebaya, mahkota) dan tata rias sesuai dengan karakter.
- Penata Suara (Sound System), bertugas menata setting sound system dan memastikan suara dialog, nyanyian, dan musik terdengar jelas oleh penonton.
Kesenian Ketoprak di Argodadi
Sebagai Desa yang telah resmi menyandang status Kalurahan (Desa) Budaya sejak awal tahun 2022 melalui Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, masyarakat Kalurahan Argodadi masih menyimpan segudang kesenian tradisional termasuk kesenian ketoprak sebagai aset budaya yang harus terus dilestarikan. Beberapa kelompok kesenian ketoprak yang masih eksis antara lain:
- Kelompok Ketoprak "Bayu Aji Argodadi", eksis pentas tahun 2017, pernah membawakan lakon klasik "Keris Kyai Tunggulwulung" yang didukung oleh para pemain Argodadi dan sekitar.
- Kesenian Ketoprak "Pamong Argodadi", dari Kalurahan Argodadi, pernah pentas pada hari Jumat (06/10/2017) dengan mengambil lakon "Trunojoyo Tundhung" bertempat di Balai Desa Argodadi. Pentas Ketoprak ini adalah awal dari kepedulian Pemerintah Desa untuk melestarikan budaya, dengan tema "Sebagai Media Untuk Membangun dan Mewujudkan Pamong dan Lembaga Desa Yang Harmonis dan Melestarikan Warisan Budaya Yang Adi Luhung Menuju Desa Wisata Budaya".
- Kesenian Ketoprak "Cipto Budoyo" dari Pedukuhan Demangan, Argodadi, Sedayu.
- Kesenian Ketoprak "Manunggal Budoyo" dari Pedukuhan Kadibeso, Argodadi, Sedayu, diresmikan pada 14 April 2018 bertepatan dengan acara tersebut mementaskan lakon "Srikandi Madiun".
- Kesenian Ketoprak "Rante Budoyo", berdiri pada tahun 2020 atas inisiatif dari komunitas sepeda onthel, Ketua Bapak Listiya Purwa Kaliyanta dengan basecamp di Rumah Joglo Sotearden, di Pedukuhan Sungapan, RT 81, Kalurahan Argodadi, Kapanewon Sedayu. Para anggota komunitas sepeda onthel, juga bertekad ikut serta melestarikan warisan budaya tradisional ketoprak. Sejarah pentas, pada tahun 2020 ketika peresmian grup ketoprak dan ketika tanggapan dari warga.
Demikian sekilas tentang kesenian tradisional ketoprak, semoga tetap lestari dan berkembang sampai akhir zaman untuk membentengi gelombang budaya asing yang semakin menggerus budaya kita yang adiluhung. Terima Kasih.
Wassalam.