Mi Lethek

🗓 28 May 2026 ✍ Kojrat Wiyana 👁 100x dibaca
Mi Lethek

Mi Legendaris, makanan kawula era Kerajaan Mataram, kata "lethek" atau kusam tidak selalu berkonotasi jelek, ironisnya, justru banyak yang memburu karena citarasanya yang khas. Benar apa yang dikatakan Shakespeare "Apalah arti sebuah nama".

Sejarah Makanan Mie

Makanan olahan mie sekarang ini sudah sangat populer mulai dari kalangan bawah hingga kalangan atas, sehingga olahan mie bisa dibanderol mulai yang termurah Rp 10.000; hingga yang termahal $325 atau sekitar Rp 4,2 juta per porsi (Niu Ba Ba di Taipei, Taiwan). Makanan mie berasal dari Tiongkok (China) yang sejarahnya dapat ditelusuri kembali hingga 4.000 tahun lalu. Bukti arkeologis tertua berupa mangkuk berisi mie dari tepung millet ditemukan di Lembah Kuning (Yellow River), Tiongkok, pada masa Dinasti Han (206 SM - 220 M). Berikut adalah fakta-fakta tentang penyebarannya:

  • Masuk ke Indonesia dibawa oleh para imigran dan jalur perdagangan Tiongkok, kemudian beradaptasi dengan lidah Nusantara melahirkan hidangan bakmi.
  • Mie Instan diciptakan oleh Momofuku Ando, seorang pengusaha Jepang kelahiran Taiwan yang membuat Chicken Ramen pada tahun 1958.

Jenis-Jenis Olahan Mi

Sekarang ini ada banyak sekali jenis mie yang dibedakan berdasarkan bahan dasar, bentuk, hingga ciri khas daerahnya. Berikut adalah macam-macam mie yang paling populer:

Berdasarkan Bahan Dasar

  • Mie Telur: Terbuat dari tepung terigu dan tambahan telur. Teksturnya kenyal dan gurih. Paling sering digunakan untuk bakmi ayam, mie goreng, atau Cwie Mie.
  • Bihun: Berbahan dasar tepung beras. Warnanya putih, berbentuk sangat tipis, dan ringan. Cocok untuk isian sup, soto, atau bihun goreng.
  • Soun: Dibuat dari pati kacang hijau atau singkong. Teksturnya kenyal dan transparan/bening saat dimasak.
  • Kwetiau: Berbahan dasar beras, memiliki bentuk yang pipih dan lebar. Biasanya dimasak dengan cara digoreng atau disiram.

Macam-macam Kuliner Mie Khas Nusantara

  • Mie Aceh: Mie kuning tebal dengan kuah kenyal kaya rempah, bercita rasa pedas dan gurih.
  • Bakmi Jawa: Disajikan dengan kuah nyemek (sedikit kuah/kental) atau digoreng, dimasak menggunakan arang.
  • Mie Celor (Palembang): Disajikan dengan kuah kaldu ebi (udang) yang kental dan gurih, sering dijuluki spaghetti ala Indonesia.
  • Mie Kopyok (Semarang): Potongan mie kuning yang disajikan dengan tauge, tahu pong, dan siraman kuah kaldu encer serta keripik gendar.

Mie Internasional

  • Ramen: Mie Jepang dengan tekstur kenyal, disajikan dengan kuah kaldu gurih (shoyu, miso, atau tonkotsu) dan berbagai toping.
  • Soba: Mie khas Jepang yang terbuat dari tepung buckwheat (gandum hitam), biasanya disajikan dingin dengan saus celup atau kuah hangat.
  • Pad Thai: Kuliner khas Thailand berupa mie beras pipih yang di goreng dengan bumbu asam manis, taoge, kacang, dan telur.

Sejarah Mie Lethek

Mie Lethek adalah kuliner legendaris asal Srandakan, Bantul, yang telah ada sejak era Kerajaan Mataram. Dinamai "lethek" (kusam) karena warnanya yang kecokelatan tanpa pemutih. Makanan ini terbuat dari pati singkong, gaplek, dan tapioka, dan uniknya, proses penggilingan adonannya masih ditarik oleh tenaga sapi hingga saat ini.

Perjalanan sejarah Mi Lethek terbagi menjadi dua fase penting, yaitu era Kerajaan Mataram dan era modern:

  • Era Kerajaan Mataram: Mi Lethek telah menjadi makanan rakyat (kawula Mataram) sejak zaman Kerajaan Mataram. Kala itu, mi ini dibuat dari sari pati singkong atau ubi kayu oleh warga lokal dan menjadi hidangan yang cukup merakyat untuk memenuhi kebutuhan makan waktu itu.
  • Era 1940-an: Pada sekitar tahun 1940, seorang pendatang asal Yaman bernama Umar Bisyir Nahdi mendirikan pabrik/industri rumahan mi lethek di kawasan Bantul, tepatnya di tepi Sungai Progo. Usaha ini awalnya bertujuan untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pangan dan bersyiar. Sejak saat itulah resep dan metode produksi tradisional ini terus dilestarikan hingga kini mencapai generasi ketiga.

Mie Lethek banyak digemari bukan hanya oleh masyarakat Bantul namun juga oleh masyarakat luar mulai dari kalangan bawah hingga pejabat bahkan Presiden Barrack Obama. Orang ke Jogja belum lengkap jika belum mencicipi mi lethek. Sejarah Mi Lethek berawal di Dusun Bendo, Srandakan, Bantul, Yogyakarta, pada tahun 1940. Kuliner legendaris ini dirintis oleh seorang perantau asal Yaman bernama Umar Bisyir.

  • Asal Mula Nama dan Tujuan Pembuatan

         Nama "lethek" berasal dari bahasa Jawa yang berarti kusam atau kotor. Mi ini dinamai demikian             karena penampilannya yang berwarna cokelat keruh. Warna tersebut alami tanpa bahan pemutih           atau bahan kimia. Pada awal mula didirikan, tujuan Umar Bisyir memproduksi mi adalah untuk               misi sosial dan membantu mencukupi kebutuhan pangan rakyat yang sulit akibat masa                           penjajahan.

  • Komposisi Bahan Tradisional

        Mi Lethek dibuat dari bahan dasar pati singkong, yakni campuran tepung tapioka dan tepung                gaplek (singkong yang dikeringkan). Penggunaan tepung gaplek inilah yang memberikan warna              alami kecokelatan pada mi.

  • Proses Pembuatan yang Unik

        Salah satu ciri khas Mi Lethek yang dipertahankan hingga kini adalah proses pembuatannya yang          sangat tradisional. Untuk mencampur dan menggiling adonan tepung, pengrajin menggunakan              silinder batu seberat 1 ton yang ditarik oleh tenaga sapi. Setelah digiling, adonan dipotong kotak-          kotak, dikukus, dicetak menyerupai mi, dan dijemur di bawah terik matahari. Proses tanpa bahan          pengawet ini membutuhkan waktu dua hari.

  • Eksistensi dan Regenerasi

        Sempat meredup pada era 1980-an akibat gempuran mi instan modern, Mi Lethek kembali bangkit dan dicari banyak orang karena tren makanan sehat. Saat ini, produksinya telah dikelola oleh generasi ketiga seperti di Pabrik Mi Lethek Garuda. Mi ini menjadi salah satu warisan kuliner budaya tak benda yang populer di Bantul dan telah dicicipi berbagai kalangan.

Apa yang Special Dengan Mi Lethek?

  1. Proses penggilingan bahan dengan tenaga sapi. Bukan tanpa alasan. Mi hasil penggilingan silinder yang diputar dengan tenaga sapi ini kualitasnya lebih baik dibanding dengan tenaga mesin. Ibarat seperti membuat sambal yang diulek manual dengan blender rasanya akan beda. Mitos atau fakta? Belum ada penelitian.
  2. Proses pengolahan dari semua bahan yang alami tanpa bahan pemutih, sehingga warnanya yang kusam atau dekil, tidak putih. Namun dibalik warnanya yang "lethek", mi ini justru lebih aman dikonsumsi.
  3. Ramuan bumbu buatan dari bahan organic berbeda dengan bumbu mi instan. Sehingga menghasilkan cita rasa yang khas dan unik.
  4. Mi Lethek ideal dikonsumsi oleh anak-anak autis, karena produk ini dapat dikonsumsi sebagai pengganti tepung.
  5. Harga Mi Lethek yang masih relatif murah sangat terjangkau oleh segala lapisan masyarakat.

Dengan melihat sejumlah keunggulannya tersebut di atas, mi lethek sebagai makanan khas Bantul layak dinikmati kapan saja dimana saja.

Terima Kasih telah membaca artikel ini, semoga bermanfaat.

Wassalam

Artikel Terkait

← Kembali ke Berita