Mi Legendaris, makanan kawula era Kerajaan Mataram, kata "lethek" atau kusam tidak selalu berkonotasi jelek, ironisnya, justru banyak yang memburu karena citarasanya yang khas. Benar apa yang dikatakan Shakespeare "Apalah arti sebuah nama".
Sejarah Makanan Mie
Makanan olahan mie sekarang ini sudah sangat populer mulai dari kalangan bawah hingga kalangan atas, sehingga olahan mie bisa dibanderol mulai yang termurah Rp 10.000; hingga yang termahal $325 atau sekitar Rp 4,2 juta per porsi (Niu Ba Ba di Taipei, Taiwan). Makanan mie berasal dari Tiongkok (China) yang sejarahnya dapat ditelusuri kembali hingga 4.000 tahun lalu. Bukti arkeologis tertua berupa mangkuk berisi mie dari tepung millet ditemukan di Lembah Kuning (Yellow River), Tiongkok, pada masa Dinasti Han (206 SM - 220 M). Berikut adalah fakta-fakta tentang penyebarannya:
Jenis-Jenis Olahan Mi
Sekarang ini ada banyak sekali jenis mie yang dibedakan berdasarkan bahan dasar, bentuk, hingga ciri khas daerahnya. Berikut adalah macam-macam mie yang paling populer:
Berdasarkan Bahan Dasar
Macam-macam Kuliner Mie Khas Nusantara
Mie Internasional
Sejarah Mie Lethek
Mie Lethek adalah kuliner legendaris asal Srandakan, Bantul, yang telah ada sejak era Kerajaan Mataram. Dinamai "lethek" (kusam) karena warnanya yang kecokelatan tanpa pemutih. Makanan ini terbuat dari pati singkong, gaplek, dan tapioka, dan uniknya, proses penggilingan adonannya masih ditarik oleh tenaga sapi hingga saat ini.
Perjalanan sejarah Mi Lethek terbagi menjadi dua fase penting, yaitu era Kerajaan Mataram dan era modern:
Mie Lethek banyak digemari bukan hanya oleh masyarakat Bantul namun juga oleh masyarakat luar mulai dari kalangan bawah hingga pejabat bahkan Presiden Barrack Obama. Orang ke Jogja belum lengkap jika belum mencicipi mi lethek. Sejarah Mi Lethek berawal di Dusun Bendo, Srandakan, Bantul, Yogyakarta, pada tahun 1940. Kuliner legendaris ini dirintis oleh seorang perantau asal Yaman bernama Umar Bisyir.
Nama "lethek" berasal dari bahasa Jawa yang berarti kusam atau kotor. Mi ini dinamai demikian karena penampilannya yang berwarna cokelat keruh. Warna tersebut alami tanpa bahan pemutih atau bahan kimia. Pada awal mula didirikan, tujuan Umar Bisyir memproduksi mi adalah untuk misi sosial dan membantu mencukupi kebutuhan pangan rakyat yang sulit akibat masa penjajahan.
Mi Lethek dibuat dari bahan dasar pati singkong, yakni campuran tepung tapioka dan tepung gaplek (singkong yang dikeringkan). Penggunaan tepung gaplek inilah yang memberikan warna alami kecokelatan pada mi.
Salah satu ciri khas Mi Lethek yang dipertahankan hingga kini adalah proses pembuatannya yang sangat tradisional. Untuk mencampur dan menggiling adonan tepung, pengrajin menggunakan silinder batu seberat 1 ton yang ditarik oleh tenaga sapi. Setelah digiling, adonan dipotong kotak- kotak, dikukus, dicetak menyerupai mi, dan dijemur di bawah terik matahari. Proses tanpa bahan pengawet ini membutuhkan waktu dua hari.
Sempat meredup pada era 1980-an akibat gempuran mi instan modern, Mi Lethek kembali bangkit dan dicari banyak orang karena tren makanan sehat. Saat ini, produksinya telah dikelola oleh generasi ketiga seperti di Pabrik Mi Lethek Garuda. Mi ini menjadi salah satu warisan kuliner budaya tak benda yang populer di Bantul dan telah dicicipi berbagai kalangan.
Apa yang Special Dengan Mi Lethek?
Dengan melihat sejumlah keunggulannya tersebut di atas, mi lethek sebagai makanan khas Bantul layak dinikmati kapan saja dimana saja.
Terima Kasih telah membaca artikel ini, semoga bermanfaat.
Wassalam