Wayang Orang "Kridha Beksa Wirama Tunggal"

🗓 03 July 2026 ✍ Kojrat Wiyana 👁 85x dibaca
Wayang Orang

Seni Tradisional Wayang Orang yang telah diakui UNESCO sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity, sebuah seni pertunjukan warisan leluhur yang unik, eksotik, epic dan edukatif, sebuah teater tradisional dari Jawa dan Bali dengan memadukan tari, drama, dan musik kolosal secara langsung.

Sejarah Wayang Wong (Wayang Orang)

Seni pertunjukan wayang orang atau wayang wong (Bahasa Jawa) memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan berakar dari kebudayaan istana (keraton) di Jawa.

  • Awal Mula di Keraton Mataram

         Pertunjukan ini pertama kali diciptakan pada masa pemerintahan Sultan Hamangkurat I di                       Keraton Mataram pada tahun 1731.

  • Perkembangan di Mangkunegaran (1757)

         Seni ini semakin disempurnakan dan diformalkan sebagai sebuah seni pertunjukan tari oleh                   Kanjeng Pangeran Adipati Arya (K.P.A.A) Mangkunegara I pada 1757 di Pura Mangkunegaran,                 Surakarta.

  • Transformasi ke Masyarakat Umum

         Pada akhir masa Mangkunegaran VI (sekitar 1895), terjadi krisis ekonomi yang membuat para                 penari istana diberhentikan. Mereka membentuk kelompok sendiri, mengamen dari kampung ke           kampung, dan mengubahnya menjadi teater rakyat yang populer hingga saat ini.

Pethilan Wayang Wong

Pethilan wayang orang adalah pertunjukan teater tari tradisional Jawa yang membawakan satu episode atau adegan khusus (pethilan) dari kisah epik Mahabharata atau Ramayana, bukan cerita utuh dari awal hingga akhir seperti pertunjukan wayang wong. Istilah "pethilan" berasal dari bahasa Jawa yang berarti potongan atau cuplikan dari kesenian wayang orang. Lakon pethilan biasanya difocuskan pada peristiwa spesifik yang sarat akan aksi, filosofi, dan intrik seperti misalnya:

  1. Perang Kembang, adalah adegan ikonik saat ksatria tampus (seperti Arjuna atau Bambang Sumantri) melawan raksasa yang kejam.
  2. Gathutkaca Suteja, adalah petikan dari epic Mahabharata yang mengisahkan perselisihan namun berakhir dengan perdamaian.
  3. Semar Tambal, adalah lakon yang sering dibawakan dalam acara gelar budaya lokal khas Yogyakarta.
  4. Peperangan Antar Tokoh, misal: adegan Gatotkaca Lahir atau Bambang Ekalaya.
  5. Cerita Asmara dan Penculikan, misal contoh: Sinta Obong atau Pregiwa Pregiwati.

Seni pethilan ini durasinya dimodifikasi sedemikian rupa sehingga pertunjukan menjadi lebih dinamis dan cocok untuk pertunjukan panggung modern dibandingkan pertunjukan wayang kulit yang durasinya semalam suntuk.

Grup Wayang Wong yang Populer

Tak pelak lagi karena kesenian ini berawal dari Solo, grup wayang wong yang terkenal di Indonesia sebagian besar berpusat di Pulau Jawa secara turun temurun dari beberapa generasi. Berikut adalah grup-grup wayang wong yang paling legendaris dan aktif hingga saat ini:

  1. Wayang Wong Sriwedari (Solo). Didirikan pada tahun 1910 atas prakarsa Paku Buwono X, kelompok ini merupakan salah satu grup tertua di Indonesia. Mereka terkenal dengan dedikasi tinggi dan rutin mementaskan kisah epik Mahabharata dan Ramayana.
  2. Wayang Orang Ngesti Pandowo (Semarang). Berdiri sejak tahun 1937, grup ini sangat populer karena mampu mengemas pertunjukan wayang orang dengan sentuhan yang lebih populer dan dinamis. Mereka biasa pentas di Gedung Kesenian Ki Narto Sabdho, Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang.
  3. Wayang Orang Bharata (Jakarta). Berdiri pada tahun 1972, grup ini menjadi pusat pelestarian seni wayang orang gaya Surakarta di ibu kota. Gedung Wayang Orang Bharata di Senen, Jakarta Pusat, menjadi tempat pertunjukan rutin mereka.
  4. Grup Wayang Wong Keraton (Yogyakarta). Kelompok penari dan abdi dalem di lingkungan Keraton Yogyakarta, seperti kelompok Kridha Beksa Wirama. Grup ini sangat menjaga pakem, estetika, dan filosofi tari klasik gaya Yogyakarta yang agung.

Daya Tarik Internasional

Seni pertunjukan Wayang Orang sangat eksotik dan diapresiasi di luar negeri. Bentuk teater tradisional Jawa yang memadukan drama, tari, dan musik ini sukses memukau penonton internasional karena kostumnya yang megah, gerakan tari yang anggun, serta filosofi ceritanya. Pertunjukan wayang orang dan wayang kulit secara keseluruhan telah diakui oleh UNESCO sebagai Masterpiece of the oral and Intangible Heritage of Humanity. Pertunjukan ini sangat diminati oleh publik global karena berbagai alasan berikut:

  1. Eksotisme Visual dan Audio, perpaduan tata rias wajah, kostum rumahan tokoh epos (Ramayana dan Mahabharata), alunan musik gamelan memberikan pengalaman teater yang unik yang berbeda dari opera barat. Visual kostum tokoh yang begitu unik dan gemerlap seolah membawa kita (penonton) menyaksikan suasana kehidupan yang epic dan heroik dalam dunia nyata.
  2. Pertunjukan yang Megah, pementasan wayang orang berskala besar (kolosal) sering diadakan di berbagai pusat kesenian tingkat dunia. Pentas wayang orang pernah mencatatkan sejarah sukses di Jerman, salah satunya adalah pagelaran akbar lakon "Kresna Duta" yang sukses memukau penonton di tiga kota besar: Hamburg, Hannover, dan Bremen. Pertunjukan ini menggabungkan drama tari tradisional dan gamelan dengan durasi sekitar 90 menit.
  3. Diplomasi Budaya, pertunjukan wayang orang sering kali dikemas dengan melibatkan narasi visual yang mudah dipahami (lintas bahasa) sehingga pesan moral dalam cerita dapat diterima oleh penonton dari berbagai latar belakang budaya.

Wayang Wong "Kridha Beksa Wirama Tunggal"

Paguyuban kesenian wayang wong ini berada di Pedukuhan Demangan, Kalurahan Argodadi, Kapanewon Sedayu dengan susunan pengurus sebagai berikut:

  1. Ketua           : Bapak Sriyono, Bakal Dukuh, Argodadi
  2. Wakil Ketua : Bapak Widodo, Demangan, Argodadi
  3. Sekretaris    : Bapak Suwandi, Demangan, Argodadi
  4. Bendahara   : Bapak Widodo, Demangan, Argodadi

Sejarah Berdiri

Paguyuban wayang wong ini menurut penuturan narasumber, Bapak Basiyo (78 tahun), yang beralamat di Pedukuhan Demangan, Kalurahan Argodadi, paguyuban wayang wong ini diperkirakan telah berdiri pada tahun 1948 dengan ketua dijabat oleh Bapak Adi Sutrisno dari Demangan, Argodadi, Sedayu. Adapun latar belakang pendiriannya kurang lebih bertujuan untuk membangun kesatuan dan persatuan, kegotongroyongan, ikatan persaudaraan, pelestarian, penyaluran bakat seni dan juga untuk memberikan hiburan kepada masyarakat. Bapak Basiyo adalah salah satu tokoh kesenian di Pedukuhan Demangan dan sekitarnya yang tidak hanya bergelut dalam bidang kesenian wayang wong, tetapi juga ketoprak, karawitan dan jathilan/oglek. Dalam kelompok wayang wong ini Bapak Basiyo berperan sebagai pengendang karawitan pengiringnya. Pemain wayang wong biasanya berjumlah sangat banyak sekitar 70-100 orang pemain, tergantung lakon yang dipentaskan. Pada awalnya dalang wayang wong ini adalah Bapak Pujo Sukir dari Argorejo, Sedayu kemudian dilanjutkan oleh Bapak Adi Sutrisno dari Demangan.

Dalang Wayang Wong Sebuah Peran Dengan "Skill Dewa"

Dalam pementasan wayang wong peran dalang sangat vital berbeda dengan dalang wayang kulit sehingga tidak sembarang orang mampu menjadi dalang dan hanya pemain pilihan yang mampu menjadi dalang. Tingkat kesulitannya sangat tinggi lantaran dalang berperan sebagai sutradara, narrator (jantur dan carita), pengendali iringan (keprak), penerjemah bahasa (Bahasa Kawi ke Bahasa Jawa kromo/ngoko), penyampai pesan moral (penyambung filosofi dan tuntunan hidup bagi penonton) dan pemimpin artistik. Dalam pertunjukan wayang wong karakter diperankan oleh manusia, dalang bukan sekadar menggerakkan boneka, melainkan mengarahkan seluruh jalannya pentas. Menabuh Keprak bukanlah peran sembarangan, bukan asal pukul. Keprak berfungsi sebagai penanda aba-aba atau pemantap gerak tari para pemain. Dalam pementasan, bunyi keprak membantu menyelaraskan irama langkah, adegan perkelahian, hingga memberikan penekanan emosi pada karakter. Seorang dalang wayang orang harus seseorang yang multitalenta dalam bidang seni wayang orang karena harus menguasai alur cerita, gerakan, peran, karakter dan musik iringan gamelan. Namun sayangnya pelaku seni seperti ini sekarang makin langka ditemukan. Mereka rata-rata sudah berusia lanjut dan belum ada regenerasi. Mayoritas generasi sekarang sepertinya sama sekali tidak tertarik untuk mewarisi, sementara di negara lain seni seperti ini sangat dikagumi dan tidak sedikit yang ingin mempelajari. Barangkali ini menjadi sebuah pertimbangan jika kesenian ini tidak ingin punah, mesti harus ada perhatian khusus dari para pemangku kepentingan (stake holder). Karena selama ini sepertinya para pelaku seni di pedesaan bukan hanya wayang orang, tetapi kesenian lain seperti ketoprak, karawitan, jatilan, gejog lesung, hadroh/sholawatan, khadisiswo/salisiswo dan lain-lain, memang seolah tidak ada apresiasi apalagi penghargaan secara materi, jika ada donasi jumlahnya terlalu kecil. Hebatnya para pelaku seni itu secara sukarela melakukannya tanpa imbalan bahkan mereka dengan senang hati mengumpulkan iuran untuk bisa mewujudkan sebuah pertunjukan.

Jumlah Pemain

Seperti sudah banyak diketahui bahwa seni pertunjukan wayang orang termasuk pertunjukan kolosal, sehingga membutuhkan pemain yang sangat banyak. Dalam sebuah pertunjukan wayang orang dibutuhkan pemain yang sangat banyak, untuk peran-peran sebagai berikut:

  1. Ngestina              : 15 orang
  2. Kurawa                 : 15 orang
  3. Pandawa              : 15 orang
  4. Dworowati            :   5 orang
  5. Ratu Sabrang       : 15 orang
  6. Punokawan          :   4 orang
  7. Kahyangan           :   3 orang
  8. Kethek                  :   5 orang
  9. Putri                      :   4 orang
  10. Dhalang                :   2 orang
  11. Penabuh/Wiyogo : 15 orang
  12. Sinden                  :   2 orang

Total Kurang Lebih       : 100 orang

Jumlah ini belum termasuk crew dan jumlah ini tentu saja juga tergantung pada lakon ceritanya. Jika pementasan wayang orang hanya diperlukan untuk acara penyambutan atau hiburan singkat biasanya dipentaskan pethilan wayang orang yang berdurasi 30-45 menit, dengan pemain sebagai berikut:

  1. Pemain Utama     :   2 orang
  2. Dhalang                :   1 orang
  3. Penabuh               : 15 orang
  4. Sinden                  :   2 orang

Total Personil                : 20 orang

Perjalanan Pentas

Puluhan tahun lalu pertunjukan wayang wong merupakan salah satu hiburan populer bagi rakyat di pedesaan, sehingga grup wayang orang ini lebih banyak ditanggap oleh individu masyarakat atau untuk memeriahkan acara-acara perayaan. Namun pethilan wayang orang ini juga pernah diundang dalam suatu acara kedinasan di daerah Poncosari, Srandakan, Bantul.

Demikian perjalanan sejarah wayang orang Kridha Beksa Wirama Tunggal dari Demangan, Argodadi yang masih lestari hingga sekarang.

Terima Kasih, semoga menginspirasi.

Wassalam.

Artikel Terkait

← Kembali ke Berita