Bakpia 77

🗓 27 June 2026 ✍ Kojrat Wiyana 👁 80x dibaca
Bakpia 77

Sebuah makanan oleh-oleh legendaris khas Yogyakarta yang mampu menembus pasar seluruh kota di Indonesia didorong oleh ketahanan produk yang kini mencapai hingga 10-14 hari berkat inovasi pengemasan hampa udara (vacuum).

Asal Muasal Bakpia

Makanan bakpia berasal dari Tiongkok dengan nama asli Tou Luk Pia (kue berisi daging) yang dibawa oleh pendatang Tionghoa ke Yogyakarta pada 1940-an. Melalui proses akulturasi, isi bakpia disesuaikan menjadi pasta kacang hijau agar bisa diterima oleh masyarakat lokal (muslim), yang kemudian menjadi ikon kuliner Yogyakarta.

Beberapa Fase Sejarah Perjalanan Bakpia Menjadi Camilan Legendaris

  1. Awal Mula di Yogyakarta (1940-an), Kue ini diperkenalkan oleh seorang perantau dari Tiongkok bernama Kwik Sun Kwok, yang menyewa lahan di Kampung Suryowijayan milik warga lokal bernama Niti Gurnito. Resep asli kala itu menggunakan minyak dan isian daging babi.
  2. Adaptasi Resep dan Budaya, Untuk memperluas jangkauan pasarnya, Kwik memodifikasi resep bakpia dengan mengganti isian menjadi kacang hijau dan menggunakan minyak nabati agar dapat dinikmati oleh semua kalangan.
  3. Lahirnya Bakpia Pathok (1948), Diawali oleh seorang pedagang pionir bernama Lim Bok Sing yang memproduksi bakpia di kawasan Pathuk, Yogyakarta. Karena masyarakat kesulitan mengingat nama penjual, bakpia ini mulai dinamai sesuai sesuai nomor rumah produksinya (seperti Bakpia Pathok 75, 145, dll) dan akhirnya populer sebagai Bakpia Pathok.
  4. Evolusi Modern: Jika awalnya hanya diisi kacang hijau, kini bakpia berkembang pesat dengan berbagai varian rasa kekinian seperti cokelat, keju, green tea hingga durian untuk semakin menarik banyak pelanggan.

Jenis-Jenis Bakpia

Untuk lebih menarik dan memenuhi selera konsumen, bakpia Jogja umumnya diproduksi dengan empat varian utama:

  1. Bakpia Basah (kulit berlapis lembut, tahan 4-7 hari),
  2. Bakpia Kering (kulit renyah, tahan hingga 1 bulan),
  3. Bakpia Kukus (tekstur seperti kue bolu yang sangat lembut), dan
  4. Bakpia Krispi (kulit garing dan berlapis).

Bakpia 77

Adalah Ibu Hartini yang beralamat di Pedukuhan Dumpuh, Kalurahan Argodadi, Kapanewon Sedayu yang bertekad memulai sebuah usaha kerajinan bakpia, makanan khas Jogja sejak bulan Juni 2014. Hal ini didorong oleh kondisi keluarga yang harus tetap eksis secara ekonomi untuk membiayai anak-anak yang masih membutuhkan biaya sekolah dan lain-lain. Dengan belajar dari saudara, tetangga yang bekerja sebagai pembuat bakpia akhirnya memperoleh ilmu untuk membuat bakpia dan dengan bimbingan tetangga tersebut dibuatlah bakpia untuk yang pertama kalinya dengan hasil yang cukup luar biasa dengan alat-alat dan bahan seadanya antara lain alat pemanggang bakpia sederhana sebanyak 2 pcs, kacang hijau 1 kg, terigu 1 kg, gula pasir 1 kg dan minyak goreng 1 liter.

Alasan Pemilihan Nama Bakpia 77

Pilihan brand ini bukan tanpa alasan. Angka 7 sejak dahulu dianggap sebagai bilangan paling mistis, sakral, unik dan penuh misteri di dunia diakui secara religious, filosofis, cosmic, scientific (matematika). Diharapkan dengan pemilihan angka 7 ini akan membawa kekuatan (power) dan keuntungan dalam menjalankan bisnisnya.

Varian Bakpia yang Diproduksi

Bakpia 77 saat ini memproduksi 2 varian, yaitu bakpia basah kacang hijau dan kumbu hitam dan varian kering dengan rasa cokelat, keju, pandan dll. Namun untuk sementara bakpia 77 hanya diproduksi berdasarkan pesanan (made by order) sehingga produksi sangat tergantung pada toko-toko tempat penitipan.

Produk Bakpia 77 Tanpa Bahan Pengawet, Rasanya Unik, Harga Terjangkau

Keuntungan setinggi-tingginya, sebesar-besarnya adalah target dari setiap usaha. Namun Bakpia 77 tidak serta merta mencapai target tanpa mempertimbangkan aspek keamanan bagi konsumen, tidak mau mengorbankan orang lain untuk mencapai target bisnisnya. Bakpia 77 bertekad produknya dibuat dari bahan yang berkualitas tanpa bahan pengawet maupun pemanis buatan yang menurut pengamatan menjadi penyebab berbagai penyakit bahkan pada anak-anak usia dini sekalipun. Namun produk tetap di jaga citarasanya yang unik dan tidak kalah dengan produk bakpia yang sudah terkenal saat ini dengan harga yang lebih terjangkau. Untuk bakpia basah dapat bertahan 5 hari dan bakpia kering dapat bertahan selama 10 hari.

Pelatihan-Pelatihan

Pelatihan-pelatihan yang pernah diikuti adalah pelatihan tentang tata cara pengelolaan keuangan usaha dari dinas UMKM Bantul dan pelatihan-pelatihan untuk mendapatkan ijin-ijin produksi makanan seperti NIB, Sertifikat Halal dan IUMK.

Dukungan Tenaga Kerja

Bakpia 77 masih merupakan usaha rumahan (home industry) sehingga untuk proses produksi masih berjalan lancar tanpa kendala dengan cara merekrut dan pemberdayaan ibu-ibu tetangga jika ada order yang banyak.

Kendala yang Dihadapi

Kendala yang dihadapi saat ini adalah tidak menentunya jumlah orderan (cenderung menurun) seiring dengan sepinya iklim usaha dan sektor wisata yang masih lesu. Pesanan sangat tergantung pada pesanan toko tempat penitipan Bakpia 77 dan jarang ada pesanan dari individu karena bakpia memang bukan makanan konsumsi harian namun jenis makanan oleh-oleh. Yang kedua adalah harga bahan baku yang melonjak drastis namun tidak bisa serta merta menaikkan harga jual.

Cara Pemasaran

Pemasaran (marketing) adalah komponen yang sangat penting dan menjadi kunci suksesnya dalam sebuah usaha sehingga berbagai jaringan marketing telah dibangun termasuk melalui media sosial.

Harapan ke Depan

Tidak bisa dipungkiri bahwa omzet penjualan bakpia sangat tergantung pada angka kunjungan wisata, sehingga harapan ke depannya semoga iklim usaha dan jumlah kunjungan wisata akan segera pulih kembali seperti pada tahun-tahun sebelum wabah covid 19 sehingga akan berdampak positif pada omzet penjualan usaha rumahan seperti Bakpia 77.

Demikian sekilas tentang Bakpia 77 sebuah usaha rumahan (home industry) yang berada di Kalurahan Argodadi. Semoga bermanfaat.

Wassalam.

Artikel Terkait

← Kembali ke Berita