Terinspirasi dari lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat pengrajin sandal waktu itu sekitar tahun 1980an di Tasikmalaya, Bapak Nursidin (50 tahun) atau Mang Ujang, pemilik "Dewi Collection", yang sekarang tinggal di Sungapan, RT 76, Kalurahan Argodadi, merintis karier sebagai pengrajin sejak kelas III Sekolah Dasar. Di Tasik waktu itu, sudah biasa anak-anak kelas III sudah tertarik untuk belajar membuat sandal sepulang sekolah tanpa disuruh orang tua dan tidak mengharapkan upah namun lebih kepada sebuah kebutuhan untuk sebuah ketrampilan. Itulah yang membedakan budaya kerja di Tasikmalaya dengan daerah lain. Mereka secara sukarela ikut-ikutan membuat sandal di tempat tetangga atau saudara dengan harapan setelah lulus SD mereka sudah siap mandiri sebagai pengrajin sandal. Sungguh luar biasa. Sangat berbeda dengan generasi muda sekarang yang tidak pernah tertarik belajar bekerja apalagi untuk pekerjaan-pekerjaan yang dianggap kurang bergengsi. Mereka lebih memilih bermain gadget atau menghabiskan waktu luangnya untuk bermain, tidak peduli dengan kondisi orang tuanya yang banting tulang siang malam untuk biaya pendidikan dan sekolahnya. Alasan lain karena Tasikmalaya mayoritas tetangganya adalah pengrajin sandal, sehingga di daerah itu terkenal sebagai sentral kerajinan sandal. Sandal yang diproduksi adalah apa yang disebut dengan sandal sponan (semua bagian sandal dibuat tangan/handmade bukan sandal cetak (yang dibuat dengan cara dirangkai/dilem). Produksi yang sangat banyak tentu saja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal namun lebih ke pasar internasional, diekspor ka Australia pada tahun 1980an. Sebuah bisnis yang luar biasa waktu itu. Namun sayangnya kejayaan bisnis itu harus berakhir secara tragis gara-gara pengiriman pesanan terlambat sampai tujuan. Selesai sudah riwayat sentra kerajinan sandal itu dan praktis semua pengrajin mulai gulung tikar dan tidak ada satupun pengrajin sandal di kampungnya yang bertahan hingga sekarang. Sungguh suatu peristiwa yang menyedihkan. Namun keadaan seperti ini tidak menyurutkan fikiran Bapak Nursidin. Dengan berbekal keahliannya sebagai pengrajin sandal, pada tahun 1989 dia bertekad hijrah ke Yogyakarta dan bekerja sebagai pengrajin sandal pada seorang pengusaha. Tiga tahun dilalui bekerja di Yogyakarta namun karena suatu hal kemudian dia kembali ke Tasikmalaya, dan bekerja di sebuah perusahaan sepatu di Bogor yang cukup besar. Dengan segudang pengalamannya sebagai pengrajin sandal, sesudah lulus serangkaian tes membuat sandal, dia diangkat sebagai perancang/designer sandal di perusahaan itu. Sebuah posisi yang luar biasa tentu saja, karena tidak banyak orang yang mampu mengerjakannya dan upah yang diterima juga cukup menggiurkan. Akan tetapi sayangnya karena jabatan itu mungkin menyebabkan orang lain merasa tersingkir dan dirugikan. Ini terbukti ketika dalam perjalanannya pulang kampung, disebuah stasiun Kereta Api tiba-tiba dia diserang, dipukuli oleh sekelompok orang tak kenal. Beruntungnya atas kesigapan aparat kepolisian dia tertolong dan dapat melanjutkan perjalanan sampai ke rumah dengan selamat. Sejak saat itu dia putuskan tidak kembali ke perusahaan tersebut dan akhirnya memilih kembali lagi ke Jogja, dan bekerja sebagai pengrajin sandal pada seorang pengusaha. Namun lambat laun karena tuntutan kebutuhannya, akhirnya dengan berbekal dari ketekunan dan pengalamannya, muncullah insting kewirausahaannya mulai tahun 2018 hingga sekarang. Dengan modal seadanya dia berusaha secara mandiri menjadi pengrajin sandal yang melayani pesanan pedagang maupun konsumen secara langsung.
Jenis sandal yang diproduksi
Sandal adalah salah satu alas kaki tertua manusia, yang mulai dikenal manusia 10.000an tahun yang lalu di Mesir, Yunani, dan Romawi hingga Jepang dengan menggunakan bahan kulit, papirus, daun palem atau kayu. Sandal terus berevolusi dari sekadar pelindung kaki menjadi bagian dari tren mode dan kenyamanan sehari-hari di seluruh dunia. Sesuai dengan dinamika gaya hidup tren produk sandalpun berubah-ubah sehingga Dewi Collection menawarkan jenis sandal sponan bukannya sandal cetak. Yang dimaksud dengan sandal sponan (bahan alas kaki dari spon) adalah jenis yang dirangkai dari tatak/alas kaki dan tali sandal/kulit muka secara manual atau handmade, mulai dari mendesain, memotong, menjahit, mengelem, dan melipat. Sedangkan untuk produk jenis cetak dirangkai dari tatak/alas kaki yang sudah jadi dan kulit muka/tali sehingga pengrajin tinggal merangkai alas dan kulit muka sehingga waktunya lebih cepat.
Kemampuan produksi
Oleh karena keterbatasan tenaga kerja, semua pekerjaan diselesaikan sendiri, mulai dari mendesain, memotong hingga merangkai (finishing) dilakukan seorang diri, Dewi Colletion hanya mampu membuat 3-4 kodi atau 60 hingga 80 pasang per minggu. Jumlah produksi tergantung pada tingkat kesulitannya, misalnya pada model dan variasi ukurannya.
Jaringan pemasaran
Bagi Bapak Nursidin, untuk memasarkan produknya tidaklah sulit karena banyak pedagang sandal yang mau memasarkannya. Jadi Bapak Nursidin tidak pernah menganggur karena tidak ada order. Sebenarnya seberapapun banyaknya jumlah yang bisa dibuat pasti laku terjual. Namun jumlah yang dapat produksi sangat tergantung pada kemampuan pengrajin membuat sandal. Ini tentu menjadi sebuah wacana ke depan, perlunya manajemen yang lebih baik terutama bidang produksi yang membutuhkan banyak tenaga kerja. Praktis ini sebenarnya adalah peluang kerja bagi warga lingkungan.
Ancaman yang terus menjadi bayang-bayang
Seiring dengan dinamika kehidupan di era globalisasi, Dewi Collection tak lepas dari ancaman-ancaman yang menghadang di masa depan, antara lain:
1. Membanjirnya sandal impor dari luar negeri, dari China misalnya, yang harganya jauh lebih murah dan lebih awet.
2. Bahan dasar yang harganya terus melambung sehingga tidak mampu bersaing dengan produk impor.
3. Kesulitan mencari tenga kerja karena mayoritas generasi muda sekarang tidak tertarik berprofesi sebagai pengrajin sandal.
Tantangan-tantangan ini memang harus dihadapi dan Dewi Collection berharap akan bisa diatasi di masa mendatang dan terus melaju sebagai pengrajin sandal yang sukses, mampu memberikan lapangan pekerjaan kepada warga sekitar. Semoga!!!
Terima Kasih telah membaca artikel ini, semoga bermanfaat.