Sebuah acara tahunan di bulan Syuro untuk melestarikan warisan adat dan budaya tradisional yang adiluhung oleh masyarakat Pedukuhan Cawan sebagai wahana memupuk budaya gotong royong, mempromosikan aneka kesenian tradisional, memayu hayuning bawana dan memberdayakan UMKM di tengah lesunya roda perekonomian.
Asal Usul Tradisi Baritan atau Sedekah Bumi
Terbukti dalam sejarah perkembangan peradaban manusia Jawa sejak jaman dahulu kala, kehidupan mereka ternyata sudah menunjukkan perilaku kehidupan yang bernuansa religius. Dalam prakteknya masyarakat melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat ritual, spiritual dalam berbagai acara seremonial yang melibatkan semua lapisan masyarakat yang bersatu padu. Salah satu contohnya adalah sebuah ritual sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta dengan berbagai sebutan yang berbeda di masing-masing wilayah, misalnya sedekah bumi, baritan, wiwitan, bersih dusun, merti dusun dan lain-lain walapun sedikit berbeda prosesnya namun substansinya sama, yaitu tasyakuran atau syukuran, istilah yang populer dan lebih agamis masa kini. Istilah "syukuran" adalah suatu bentuk perilaku yang lebih dipersembahkan kepada Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa sehingga apapun yang dilakukan didasari dengan rasa ikhlas tingkat tinggi, dilakukan dengan setulus hati seolah tidak sedikitpun mengharapkan imbalan apapun. Tradisi sedekah bumi dahulu kala bermula dari praktek sesaji masyarakat Jawa Kuno yang dipersembahkan kepada para Dewa dan Roh Leluhur. Selanjutnya ritual ini berkembang dan seolah berubah makna menjadi suatu wujud syukur atas hasil panen masyarakat petani yang melimpah untuk memohon keselamatan. Seiring dengan datangnya ajaran agama baru di Nusantara, tradisi ini dipadukan dengan nilai-nilai Islam oleh para Wali dan menjadi sebuah akulturasi budaya yang dapat diterima oleh semua kalangan.
Berikut adalah garis besar fase-fase sejarah perkembangan, makna tradisi sedekah bumi:
- Nyekar (ziarah kubur) dan memanjatkan doa bersama atau amaliah tahlil.
- Kirab Budaya yang diikuti oleh semua warga masyarakat dengan pakaian tradisional dan membawa gunungan, jodhang, sarang, sesaji dll.
- Larungan, yaitu membuang sesaji ke sungai atau ke laut dll.
- Berebut Berkat atau gunungan makanan dan hasil bumi, puncak acara yang paling dinanti, di mana warga saling berebut makanan atau nasi berkat yang dipercaya membawa berkah dan kesuburan.
- Pentas kesenian tradisional (wayang kulit, karawitan, jatilan dll).
- Kenduri atau makan bersama dengan mengolah hasil bumi.
- Penyembelihan hewan ternak sebagai simbol rasa syukur dan tolak bala.
4. Nilai Filosofis: Sebagai ungkapan rasa terima kasih manusia kepada Tuhan atas rejeki, memupuk kerukunan warga, dan menjaga keharmonisan alam.
Tradisi Baritan Ketupat dan Sedekah Bumi di Praon Cawan
Tradisi Baritan di Praon Cawan adalah acara tradisi tahunan pada bulan Syuro di Pedukuhan Cawan, Kalurahan Argodadi, Kapanewon Sedayu, Kabupaten Bantul. Baritan pada tahun ini dilaksanakan pada hari Ahad (Minggu) Legi, 12 Muharram 1448 H (tahun Hijriyah) atau 12 Syuro 1960 (tahun Jawa) atau 28 Juni 2026 (tahun Masehi). Acara ini diselenggarakan oleh warga Pedukuhan Cawan dengan di bawah koordinator Bapak Hanu Lingga Purnama, Dukuh Cawan yang dihadiri oleh oleh Lurah Argodadi (Bapak Prayitno), Wakil Ketua Desa Budaya/Kasi Tata Laksana (Bapak Listya Purwa Kaliyanta), Unsur Kelembagaan, Petugas Monitoring dari Dinas Kebudayaan DIY (Bapak Sutarya), Pendamping Budaya Kalurahan Argodadi (Bapak Sukirno), Para Dosen dan Mahasiswa UNDIP dan UNISA, guru-guru pendamping karawitan SDN 2 Dingkikan, TK Masyithoh Cawan dan semua lapisan masyarakat Pedukuhan Cawan dan sekitar.
Proses Acara
Pra Acara
Sudah menjadi tradisi di lingkungan masyarakat Argodadi dalam acara-acara seremonial pasti dilengkapi dengan acara amaliah tahlil untuk mendoakan para leluhur. Acara seperti ini juga diselenggarakan sebagai acara Baritan Kupat dan Sedekah Bumi Pedukuhan Cawan pada hari Kamis malam Jumat tanggal 25 Juni 2026 di Pendopo Praon Cawan yang diikuti oleh warga Pedukuhan Cawan.
Adapun acara utama pada hari Ahad (Minggu), 28 Juni 2026 selengkapnya sebagai berikut:
1. Senam Massal
Senam massal yang diikuti oleh warga masyarakat Cawan dan sekitarnya dimulai pukul 06.00 di halaman parkir sebelah utara Wisata Praon Cawan.
2. Gelar Seni Karawitan dari SDN 2 Dingkikan
Dalam sesi ini digelar seni karawitan special dari Wiji Kesuma Laras yaitu kelompok karawitan anak- anak bimbingan SDN Dingkikan. Generasi yang digadang-gadang menjadi penerus seni karawitan masa depan.
3. Gelar Seni Karawitan oleh Kridho Mudho Wiromo dari Pedukuhan Cawan Kalurahan Argodadi.
4. Kirab Budaya
Kirab budaya adalah parade Padukuhan Cawan yang tergabung dalam kelompok RT dari wilayah masing-masing menuju lokasi Wisata Praon Cawan. Di antara kelompok warga ada yang menggotong tandu berisi serangkaian sesaji dan makanan, gunungan yang terbuat dari ketupat berserta lauk, dan gunungan berisi hasil bumi seperti sayur mayur dan sebagainya. Satu persatu kelompok itu masuk ke Pendopo Wisata Praon Cawon dengan kostum yang berwarna-warni dengan diiringi alunan gamelan karawitan yang bertalu-talu.
5. Sambutan-Sambutan
6. Larungan
Satu item prosesinyang tidak kalah menarik adalah upacara adat larungan yang dilakukan oleh tim yang dipimpin oleh Bapak Sudarmanto. Melarung berarti membuang, yang dilarung adalah serangkaian sesaji yang disusun dalam sebuah ancak (kotak terbuat dari bambu dan daun pisang atau jati khusus untuk sesaji). Sesaji kemudian dibawa oleh tim dalam sebuah perahu rakit ke tengah sungai Progo kemudian ancak ditaruh di atas air dan terapung terbawa arus air. Prosesi ini dilakukan sebagai simbol.
7. Doa
Doa atau umbul dongo dipimpin oleh Bapak Muhammad Shokeh, memohon keselamatan, ketentraman, kesejahteraan kepada Tuhan Allah SWT untuk keluarga besar masyarakat Pedukuhan Cawan dan sekitarnya.
8. Kembul Bujono
Kembul Bujono adalah acara makan bersama yang diikuti oleh seluruh hadirin. Hidangan yang dihidangkan adalah menu makanan yang dibawa oleh para warga baik yang berupa sesaji maupun yang ada dalam "sarang" (wadah makanan terbuat dari anyaman daun kelapa lengkap dengan daun pisang atau daun jati). Acara ini sebagai simbol akan pentingnya berbagi dalam keadaan suka dan duka. Bersamaan dengan itu dilaksanakan acara ngalap berkah.
9. Ngalap Berkah
Prosesi yang ditunggu-tunggu oleh warga adalah rebutan gunungan atau berkahan, yaitu acara memperebutkan gunungan ketupat dan gunungan sayur-sayuran dan hasil bumi oleh semua warga yang hadir. Ketupat atau sayur-sayuran yang diperebutkan dipercaya membawa berkah dan bernilai spiritual yang tinggi.
10. Pemeriksaan Kesehatan dari UNISA
Dalam acara itu juga diselenggarakan kegiatan pemeriksaan kesehatan untuk warga masyarakat yang hadir secara gratis oleh mahasiswa UNISA yang sedang menjalani program KKN di Pedukuhan Cawan.
11. Pentas Jatilan
Pentas Jatilan sebagai acara penutup dimulai pukul 13.30 wib hingga pukul 17.00 wib oleh kelompok seni Jatilan Kridho Mudo Wiromo dari Pedukuhan Cawan, Kalurahan Argodadi. Acara ini mementaskan 2 babak tarian yang berlangsung sangat meriah dan dipadati oleh penonton.
Acara adat Baritan Ketupat dan Sedekah Bumi kali ini berlangsung lancar, khikmat dari awal hingga akhir. Acara ini merefleksikan betapa tingginya semangat gotong royong, kebersamaan, toleransi, kerja keras tanpa pamrih dari seluruh lapisan masyarakat Pedukuhan Cawan. Acara ini pada dasarnya dimaksudkan untuk memupuk semangat gotong royong, memayu hayuning bawana (melestarikan alam) nguri-uri adat dan budaya tradisional serta memberikan kesempatan kepada para pelaku UMKM untuk menggerakkan roda ekonominya. Diharapkan acara ini akan tetap lestari sebagai kearifan lokal dan semakin semarak, meriah juga menjadi potensi yang bernilai ekonomi di masa depan. Demikian penuturan Bapak Suparjo, narasumber dan tokoh masyarakat dari Pedukuhan Cawan.
Sekian, semoga bermanfaat.
Terima Kasih.
Wassalam.