Budidaya Hidroponik

🗓 10 June 2026 ✍ Kojrat Wiyana 👁 66x dibaca
Budidaya Hidroponik

Dibangun di tengah gempuran gelombang PHK akibat wabah Covid 19, adalah seorang pemuda Syahri Ramadan yang mampu mengubah keputusasaan menjadi sebuah titik balik yang mendorong dirinya membangun sebuah usaha mandiri yang akan bersejarah dalam hidupnya kelak.

Asal Muasal Budidaya Hidroponik

Budidaya hidroponik, atau budidaya tanaman tanpa tanah, telah dikenal dan dipraktikkan sejak ribuan tahun lalu. Metode ini sangat efisien dalam penggunaan air dan lahan, berkembang dari rakit apung suku Aztek Kuno hingga menjadi sistem pertanian cerdas (smart farming) yang presisi di era modern.

Berikut adalah Sejarah Penting Fase-Fase Perkembangan Hidroponik

  1. Hidroponik pada Jaman Kuno (Ribuan Tahun SM)
  • Taman Gantung Babilonia adalah salah satu contoh yang paling awal dari teknik bercocok tanam tanpa tanah di daratan, tanaman disiram secara terus-menerus menggunakan sistem perairan yang canggih pada masanya.
  • Suku Aztek di Meksiko telah mempraktikkan pertanian berbasis air yang menggunakan rakit yang dikenal dengan nama chinampas di atas Danau Tenochtitlan. Mereka menanam tanaman di atas rakit yang terbuat dari lumpur dan vegetasi yang mengapung di permukaan air.

     2. Awal Mula Penelitian Ilmiah di Jaman Modern (Abad ke-17)

  • Francis Bacon (1627) adalah filsuf dan politikus di Kerajaan Inggris. Ia merupakan salah satu tokoh yang menetapkan dasar-dasar empirisme melalui penggunaan metode induktif. Konsep  menanam tumbuhan tanpa tanah pertama kali ditulis dalam buku Sylva Sylvarum dan A Natural history. Teori ini akhirnya memicu gelombang eksperimen botani di Eropa.
  • John Woodward (1699), Ilmuwan dan Geolog, Mempublikasikan hasil ekperimen yang menunjukkan bahwa tanaman tumbuh lebih baik dalam air yang mengandung kotoran atau tanah dibandingkan air murni, hal ini membuktikan bahwa tanaman membutuhkan nutrisi spesifik.

     3. Penemuan Komposisi Larutan Nutrisi/Pupuk Hidroponik (Abad ke-19)

  • Julius von Sachs dan Wilhelm Knop (1860-an): Ilmuwan/ahli Botani asal Jerman ini berhasil mengembangkan metode pertama untuk menanam tanaman secara utuh dalam larutan nutrisi cair. Penemuan ini meletakkan dasar ilmiah untuk nutrisi tanaman modern.
  • Istilah "Hidroponik" (1937): Dr.William F. Gericke, seorang ahli nutrisi tanaman dari Universitas California, Berkeley, menemukan istilah ini dari bahasa Yunani hydro = air dan ponos = bekerja. Ia berhasil menumbuhkan tomat setinggi 25 kaki di bak air berisi nutrisi, membuktikan bahwa metode ini layak secara komersial.

     4. Perkembangan dalam Skala Global (Jaman Perang Dunia II)

  • Pulau Wake/Sebuah Atol Koral di Pasifik Utara: Dipergunakan oleh Angkatan Darat dan Laut Amerika Serikat menggunakan sistem hidroponik untuk menyediakan stok sayuran segar bagi pasukan mereka di pulau karang Pasifik yang tandus selama Perang Dunia II.
  • Era Modernisasi: Sistem pertanian Hidroponik ini terus disempurnakan dengan penemuan teknik seperti Nutrient Film Technique (NFT) yang ditemukan oleh Allen Cooper, seorang ahli biologi dan peneliti DNA, di Inggris pada tahun 1960-an.

     5. Sejarah Hidroponik di Tanah Air Indonesia

  • Awal Mula (tahun 1970-an): Hidroponik mulai masuk ke Indonesia sebagai materi kuliah akademis dan serangkaian eksperimen di lingkungan Universitas, seperti Universitas Gadjah Mada (UGM).
  • Pelopor Komersial (tahun 1980-an): Tokoh penting yang inspiratif di balik popularitas hidroponik di Indonesia adalah Bob Sadino. Ia mempelopori budidaya dan penjualan sayuran hidroponik skala industri di Indonesia pada tahun 1982, memperkenalkan metode budidaya ini kepada konsumen yang lebih luas.
  • Era Modern (Kini): Hidroponik berkembang pesat pada era ini dari yang sekadar sebagai hobi skala rumah tangga hingga menjadi industri pertanian modern yang didukung oleh sistem smart greenhouse (rumah kaca pintar) untuk menjamin pasokan pangan sehat.

Sejarah Hidroponik Syahri Ramadan Hidro Balab

Syahri Ramadan (28 tahun) adalah seorang pemuda, warga Pedukuhan Sukoharjo, Kalurahan Argodadi, Kapanewon Sedayu ini sejak masih berusia muda sudah mempunyai impian memiliki usaha mandiri akan tetapi karena situasi dan kondisi, masih belum dapat menemukan bentuk usaha yang cocok baginya. Hari demi hari dia lalui dan ketika gelombang covid 19 melanda dunia termasuk Indonesia, dan menyebabkan gelombang PHK di mana-mana akhirnya mengingatkannya kembali akan imipiannya di masa lalu, memiliki usaha mandiri.Tak bisa dibayangkan betapa menyedihkannya situasi seperti itu ketika harus berhenti bekerja secara tiba-tiba. Namun bagi Syahri Ramadan, putus asa, kesedihan bukan sebuah penyelesaian, namun justru menjadikannya sebagai titik balik untuk bangkit menggugah cita-cita awal untuk membangun sebuah usaha mandiri. Berbekal dari ilmu yang diperoleh dari media sosial seperti Youtube, Instagram, dll, akhirnya ditemukanlah ide bisnisnya, budidaya pertanian yang berbasis air (hidroponik). Mengapa hidroponik? Karena jenis pertanian ini tidak membutuhkan lahan luas, tidak harus ke sawah dan lebih mudah dikendalikan.

Percobaan Perdana

Pada tahun 2020, dengan berbekal ilmu pengetahuannya, dengan tekadnya yang kuat dan atas dukungan dari keluarga serta ketersediaan lahan yang cukup di sekitar rumah dia segera memulai membangun sarpras seperti talang pvc modifikasi, pompa airator, selang, naungan greenhouse sederhana (berkerangka bambu) dan lain-lain. Pada waktu itu dia memulai dengan menanam sawi sekitar 80 lubang dengan media ukuran 1x4 meter. Waktu terus berlalu, dan sambil mempelajari teknik pertanian hidroponik yang benar, akhirnya 45 hari kemudian, itulah saat yang ditunggu-tunggu, panen perdana tiba walau dengan hasil yang kurang memuaskan. Namun dia tetap bersyukur, dan segera memanen dan membagi-bagikannya kepada para tetangga dan sanak saudaranya. Secara materi percobaan pertamanya memang tidak menguntungkan, namun di balik kegagalan itu dapat diperoleh banyak pengalaman-pengalaman berharga untuk memperbaiki langkahnya pada eksperimen-eksperimen selanjutnya.

Perkembangan Hidroponik Syahri Ramadan Hidro Balab

Pengalaman pertamanya kurang sukses tidak menyurutkan niat dan semangatnya, justru semakin tertantang untuk tetap berusaha menanam sampai berhasil karena bagi dia kegagalan adalah sukses yang tertunda. Mulailah dia menanam yang kedua kalinya, bukan menanam sawi namun selada dengan petak berukuran 4 x 8 meter atau sekitar 800 lubang tanam. Pada penanaman kedua ini sudah digunakann greenhouse dengan kerangka besi hollow dan plastik UV dengan pertimbangan bahan ini lebih awet dan rapi. Hari demi hari kapasitas lahan terus ditambah seiring dengan semakin bertambahnya kepercayaan konsumen dan menjaga kontinyuitas stok, dengan rotasi penanaman setiap hari. Pada saat ini Syahri Ramadan Hidro Balab memiliki lahan tanam dengan kapasitas tanaman sekitar 4600.

Beberapa Alat dan Sarana Prasarana yang Dibutuhkan:

1. Peralatan untuk Semai dan Tanam

  • Talang PVC modifikasi adalah wadah berlubang sebagai tempat akar tumbuh.
  • Rockwool adalah media tanam hidroponik paling populer karena mengikat air dan udara dengan baik.
  • Tray Semai adalah wadah plastik untuk menaruh rockwool selama proses penyemaian benih.
  • Kain Flanel (opsional) yang digunakan sebagai sumbu penyerap air jika menggunakan sistem sumbu (wick sistem).

2. Sistem Hidroponik

    Jenis instalasi hidroponik yang digunakan adalah Sistem NFT(Nutrient Film Technique) yaitu air            bernutrisi dialirkan tipis secara terus menerus melalui talang. Keunggulan penggunaan talang                adalah karena kemudahan dalam proses pembersihan. Pembersihan talang dilakukan sesudah              masa panen selesai. Kebersihan ini juga menjadi penentu keberhasilan tanaman selanjutnya karena      dapat mengurangi timbulnya penyakit pada tanaman.

3.Kebutuhan Nutrisi dan Perawatan

  • Nutrisi AB Mix: Pupuk khusus hidroponik yang terdiri dari dua larutan terpisah (A dan B) yang dicampur dengan air sebagai sumber makanan utama tanaman.
  • TDS Meter (Total Dissolved Solid) digunakan untuk mengukur kepekatan atau konsentrasi nutrisi di dalam air agar sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Kendala-Kendala yang Sering Dihadapi

Budidaya hidroponik ternyata tidak semudah yang kita bayangkan apalagi kalau hanya melihat hamparan tanaman selada yang tumbuh menghijau segar yang sangat menarik hati bagi siapapun yang melihatnya. Namun di balik hijau segarnya tanaman itu tersimpan sederetan suka dukanya selama merawat mulai dari nol hingga masa panen. Kendala yang sering dihadapi antara lain:

1. Masalah Nutrisi dan pH Air: Ketidakseimbangan kadar nutrisi dapat menyebabkan daun                        menguning atau gosong. Tingkat pH yang terlalu tinggi atau rendah dapat menghalangi penyerapan      unsur hara.

2. Ketergantungan pada Daya Listrik: Sistem sirkulasi air (seperti NFT atau DFT) sangat bergantung          pada pompa air dan aerator. Jika listrik padam dapat menghentikan pasokan oksigen dan membuat      akar membusuk.

3. Serangan Hama dan Jamur: Serangan ini mengakibatkan busuk akar akibat cendawan (phytium sp)      dan hama kutu daun sering terjadi jika kelembapan terlalu tinggi dan lingkungan instalasi kotor.

4. Biaya Awal dan Pemeliharaan: Investasi awal untuk peralatan (pipa, pompa, netpot, rockwool, dan nutrisi AB Mix) cukup tinggi dan membutuhkan pengetahuan teknis khusus. Mengapa tidak banyak orang yang melakukan budidaya hidroponik karena usaha ini termasuk usaha padat modal.

Faktor Pendukung

Seperti selayaknya yang dilakukan orang jika akan memulai sebuah bisnis dan untuk meminimalisir tingkat kegagalan, langkah awal yang seolah wajib dilakukan adalah melakukan analisis SWOT (Strengths Weaknesses Opportunities Threats). Demikian juga Syahri Ramadan Hidro Balab berdasarkan hasil analisis SWOT, kesimpulannya adalah bahwa bisnis ini memenuhi syarat kelayakan usaha, artinya bisnis ini memiliki strengths (kekuatan) dan Opportunities (peluang) yang lebih tinggi dibandingkan dengan Weaknesses (kelemahan/kekurangan) dan Threats (tantangan/ancaman). Berikut adalah poin-poinnya:

1. Letak kebun yang berada di tengah kampung menjadi sebuah pertimbangan tersendiri karena                masih ada pohon-pohon sekitar sebagai naungan dan sebagai pelindung dari tiupan angin yang            kencang yang dapat merusak tanaman dan greenhouse, berbeda jika lokasi lahan berada di sawah.

2. Lahan budidaya yang berada di sekitar rumah lebih mudah dipantau keamanannya setiap saat, dari      gangguan hewan atau gejala-gejala penyakit yang akan menyerang.

3. Ketersediaan air sebagai material popok yang cukup yang dapat diperoleh dari Pamsimas                      Pedukuhan Sukoharjo dan ketersediaan lahan sekitar masih cukup luas untuk ekspansi.

4. Jaringan pasar yang sudah terbuka, yang sudah dibangun selama ini. Produk kebun hidroponik ini          yang sudah dikenal konsumen dan pelanggan sudah cukup banyak bukan hanya wilayah Sedayu            namun juga sampai di kota Yogyakarta.

5. Dengan kondisi usia pemiliknya yang masih muda, dukuungan keluarga dan semangat yang                    menyala-nyala, bisnis ini layak untuk cepat berkembang.

6. Peluang untuk berkontribusi dalam program pemerintah memperkuat ketahanan pangan dalam            menghadapi ancaman krisis pangan.

 Demikian sekilas gambaran tentang Budidaya Hidroponik Syahri Ramadan Hidro Balab, semoga menginspirasi.

Wassalam 

Artikel Terkait

← Kembali ke Berita