Gubuk Layangan

🗓 18 June 2026 ✍ Kojrat Wiyana 👁 103x dibaca
Gubuk Layangan

Sebuah usaha kerajinan layangan oleh seorang anak muda yang awalnya membuat layangan hanya sebagai hobi namun akhirnya kebanjiran order dari komunitas penggemar layangan.

Asal Mula Layangan

Layangan yang selama ini kita kenal hanya sebagai mainan anak-anak di sawah atau di desa-desa ternyata menyimpan sejarah peradaban manusia yang luar biasa yang tak pernah kita bayangkan. Layangan diperkirakan berasal dari Tiongkok sekitar 2.500-3.000 tahun lalu, yang pada awalnya digunakan untuk keperluan kemiliteran dan ritual. Seiring berjalannya waktu, layangan menyebar ke seluruh Nusantara melalui jalur perdagangan, dan berkembang menjadi alat bantu nelayan, perlengkapan ritual budaya, dan sarana permainan rakyat.

Berikut Fase-Fase Perkembangan Layangan

> Asal-Usul dari Tiongkok: Diciptakan oleh filsuf Mozi dan Lu Ban sekitar abad ke-5 SM, layangan terbuat dari kayu. Pada masa itu, layangan berperan sangat vital karena digunakan untuk mengukur jarak, mengirim pesan rahasia, dan sebagai sinyal militer.

> Jejak Prasejarah di Indonesia: Di Nusantara, permainan ini telah dikenal sejak dahulu kala. Salah satu bukti sejarah tertua telah ditemukan pada lukisan gua di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, yang diperkirakan telah berusia 4.000 tahun SM.

> Fungsi Budaya: Di Indonesia, layangan tradisional seperti Kaghati Kolope dibuat dari daun umbi gadung untuk keperluan ritual adat. Di Bali, layangan berkaitan erat dengan mitologi Rare Angon (artinya "anak gembala") adalah manifestasi Dewa Siwa yang turun ke bumi dalam wujud anak-anak. Ia dikenal luas sebagai Dewa Layang-Layang, pembawa kesuburan, dan pelindung.

> Dalam Catatan Sejarah Melayu: Pada abad ke-17, permainan layang-layang sempat tercatat dalam literatur Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu), permainan layang-layang sebagai bagian dari festival dan kegiatan pembesar kerajaan.

> Layangan Masa Kini: Layangan semakin populer hampir di seluruh pedesaan layangan dipergunakan sebagai alat hiburan hingga digunakan dalam festival layang-layang tingkat Nasional hingga Internasional.

Jenis-Jenis Layangan

Ada beberapa jenis layangan berdasarkan fungsi dan bentuknya, yakni layangan aduan (untuk kompetisi potong-memotong tali), layangan hias (untuk pajangan atau festival dengan bentuk unik), serta layangan tradisional yang menjadi ciri khas budaya suatu daerah.

Berikut Penjelasan Lebih Lanjut:

1. Layangan Aduan

Layangan ini didesain khusus untuk bermanuver lincah dan memotong tali lawan di udara.

  • Layangan Sukhoi: Layangan ini dikenal memiliki manuver lincah, kemampuan menukik tajam, serta cocok untuk posisi tempur ulur maupun jepret saat adu putus benang.
  • Layangan Gapangan: Jenis layangan aduan berukuran lebih besar dengan rangka kaku, sering dihiasi motif unik di bagian sayapnya dan dilengkapi dengan sendaren (pita suara getar).
  • Layangan Seot: Memiliki ciri khas ekor pendek dan rangka sangat ringan untuk gerakan gesit. Layangan ini dirancang khusus untuk bermanuver cepat, lincah, dan agresif saat bertarung memotong tali layangan lawan di udara.

2. Layangan Hias dan Tradisional

Layangan ini khusus didesain untuk keindahan visual, warna, dan ukuran.

  • Layangan Bebean, adalah layangan khas Bali berbentuk ikan yang dilengkapi dengan guwangan (pita suara) sehingga menghasilkan dengungan khas saat terbang.
  • Layangan Janggan, adalah layangan megah dari Bali yang memiliki ekor super panjang dan kepala menyerupai naga atau burung.
  • Layangan Rokkaku, adalah layangan tradisional asli Jepang yang berbentuk segi enam yang stabil saat terbang.

3. Layangan Unik dan Modern

  • Layangan Tiga Dimensi (3D), Bentuknya menyerupai hewan seperti burung, gurita, karakter kartun, atau hewan lain yang nampak hidup di udara.
  • Layangan Kereta (Train Kite), Layangan ini terbuat dari rangkaian puluhan hingga ratusan layangan kecil yang dihubungkan menjadi satu tali utama, layangan ini terbuat dari rangkaian puluhan hingga ratusan layangan kecil yang dihubungkan menjadi satu tali utama, menghasilkan pemandangan seperti naga terbang di langit, panjangnya bisa mencapai 100 meter lebih.

Bahan-Bahan untuk Membuat Layangan

Untuk membuat layang-layang diperlukan dua komponen utama, yaitu kerangka untuk struktur bentuk dan penutup agar dapat menangkap angin.

  • Bahan untuk Kerangka, bambu tipis (atau lidi untuk layang-layang ukuran kecil) atau serat karbon, fiber, atau sedotan plastik untuk model mini.
  • Bahan Penutup, bisa digunakan kertas minyak (paling umum), kertas koran, atau plastik tipis atau plastik mulsa/untuk pertanian atau kain nilon ripstop agar lebih tahan lama.
  • Alat dan Bahan Pendukung, dibutuhkan lem kertas, isolasi (selotip), atau lem tembak, benang jahit atau senar nilon sebagai tali kendali dan rangka, gunting atau cutter, penggaris.

Untuk merakit sebuah layangan tentu saja ada berbagai cara dan langkah tergantung pada jenis dan tingkat kerumitan layangan. Namun hal yang paling sulit dalam membuat layangan adalah menjaga keseimbangan rangka (agar layangan tidak oleng atau "ngunting" saat terbang) dan menyeruput bambu agar memiliki kelenturan yang pas.

Pengrajin "Gubuk Layangan"

Adalah seorang anak muda yang bernama Mas Bowo yang beralamat di Pedukuhan Brongkol, Kalurahan Argodadi, Kapanewon Sedayu, berawal dari hobi bermain layangan jenis ram-raman, manol 3 dan naga. Awalnya layangan hanya dimainkan disamping rumah, di lapangan dan akhirnya di pantai baik sekadar bermain bersama komunitas hingga event yang bersifat lomba. Ukuran layangan yang dibuat bervariasi mulai dari yang kecil hingga yang super besar (sekitar 3 x 4 meter). Namun untuk jenis layangan naga, pasti berukuran panjang dan bisa mencapai 120 meter, karena layangan ini dibuat dari rangkaian layang-layang kecil yang berjumlah sekitar 120 buah dan harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Ada keasyikan tersendiri untuk memainkan layangan yang berukuran super besar atau layangan naga. Untuk memainkannya dibutuhkan beberapa orang dan tambatan yang kuat terutama untuk layangan naga. Pernah pada sebuah even festival, senar layangan naga harus ditambatkan pada sebuah mobil, dan layangan ini mampu mengangkat orang ke udara. Ada sebuah cerita yang sungguh-sungguh terjadi, suatu ketika sebuah layangan naga dimainkan hanya oleh 3 orang dan hanya ditambatkan pada sebuah sepeda motor namun karena tarikan layangan yang sangat kuat akhirnya orang dan motor tersebut terseret dan tercebur ke sawah karena tidak kuat menahan.

Hobi Berubah Menjadi Bisnis

Berkat keahlian membuat layangan dan semakin banyaknya komunitas yang mengenalnya, Mas Bowo ini akhirnya dibanjiri order untuk membuat layangan yang digunakan orang sebagai sekedar hiburan hingga digunakan dalam acara lomba. Pada tahun 2019, mulailah membuat layangan untuk dijual mulai dari yang berukuran kecil hingga layangan naga. Untuk membuat layangan, dibutuhkan waktu 2-3 jam untuk sebuah layangan ram-raman atau manol 3, tergantung ukuran juga, dengan diharga 20.000 - 50.000 rupiah. Tetapi untuk membuat layangan naga dibutuhkan waktu berminggu-minggu dengan pathokan harga lebih dari 1 juta rupiah. Layangan dibuat hanya atas dasar pesanan yang datang dari penghobi sekitar dan dari luar. Layangan-layangan yang dibuat juga dapat dilengkapi lampu LED bertenaga baterai atau dinamo untuk menambah daya tarik jika dimainkan pada malam hari.

Demikian cerita tentang layangan yang masih ngetren hingga kini. Terima kasih sudah membaca artikel ini semoga menambah khasanah pengetahuan kita.

Wassalam 

Artikel Terkait

← Kembali ke Berita