Sanggar Tari Kartika Budaya Argodadi

🗓 08 July 2026 ✍ Kojrat Wiyana 👁 44x dibaca
Sanggar Tari Kartika Budaya Argodadi

Berangkat dari visi dan misinya, di tengah gempuran pengaruh budaya asing, Sanggar Tari Kartika Budaya bertekat mencetak calon-calon generasi penerus untuk tetap mencintai dan melestarikan warisan seni tari tradisional yang adiluhung.

Sejarah Seni Tari

Seni adalah bagian dari budaya manusia sebagai bentuk ekspresi yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Berawal sejak zaman prasejarah ribuan tahun lalu, seni tari telah dipergunakan dalam acara ritual keagamaan, komunikasi, dan ungkapan emosi. Gerakan tubuh manusia yang berirama mulai digunakan sebagai sarana untuk meminta hujan, merayakan panen, atau menyembah kekuatan gaib. Namun seiring perkembangan kehidupan manusia, akhirnya fungsi seni tari bergeser menjadi sebuah pertunjukan hiburan. Pada zaman modern, seni tari menjadi lebih terstruktur, karena pengaruh dari tokoh-tokoh seperti Isadora Duncan dikenal sebagai pelopor tari ekspresif dan tari modern, sedangkan Martha Graham merevolusi tari modern dan menciptakan lebih dari 180 karya seni tari. Mereka mengubah tari menjadi ekspresi yang lebih bebas dan emosional, menggabungkan teknik dengan penjiwaan yang mendalam.

Jejak Sejarah Seni Tari di Indonesia

  • Pada Zaman Prasejarah, gerakan tari pada saat itu masih sangat sederhana, hanya berupa hentakan kaki atau tepukan tangan. Sebagai buktinya adalah penemuan peninggalan bersejarah seperti nekara perunggu (peninggalan prasejarah) Zaman Logam yang menggambarkan aktivitas menari sebagai ritual penghormatan leluhur.
  • Pada Zaman Hindu-Buddha, pada zaman ini tari menjadi lebih sakral dan berkembang di lingkungan istana sebagai sarana pemujaan. Faktanya dapat dilihat pada relief candi dan perkembangan Tari Topeng Panji.
  • Pada Zaman Islam, tokoh seperti Wali Songo menggunakan tari sebagai media dakwah dan hiburan rakyat misalnya Tari Saman yang kental dengan syair pujian.
  • Pada Masa Kolonial dan Kemerdekaan, tari bertransformasi menjadi identitas budaya dan sebagai alat diplomasi bangsa. Muncul berbagai kreasi tari baru karya koreografer seperti Bagong Kussudiardja.

Jenis-Jenis Tari

Berdasarkan koreografi, aliran, dan fungsinya, seni tari dapat diklasifikasikan menjadi tari tradisional, modern, hingga kontemporer yang menampilkan ciri khas gerakan serta makna berbeda di setiap pertunjukannya.

Berikut adalah penggolongan jenis seni tari:

1. Berdasarkan Koreografinya

  • Tari Tunggal (Solo), adalah tarian yang dibawakan oleh satu orang penari, contohnya adalah Tari Golek dari Jawa Tengah dan Tari Gandrung dari Banyuwangi.
  • Tari Berpasangan (Duet), adalah tarian yang diperagakan oleh dua orang secara berpasangan, contoh: Tari Topeng dari Jawa Barat.
  • Tari Kelompok (Group), adalah tarian yang diperagakan oleh lebih dari dua orang atau secara berkelompok, contoh: Tari Saman dari Aceh atau Tari Kecak dari Bali.

2. Berdasarkan Alirannya

  1. Tari Tradisional, adalah tarian yang diwariskan dari generasi ke generasi, berakar pada budaya masyarakat setempat.

        - Klasik, adalah tari yang berkembang di lingkungan keraton atau istana dengan aturan gerak                   baku, contoh: Tari Bedhaya Ketawang.

        - Rakyat, adalah tarian yang tumbuh di lingkungan rakyat jelata, gerakannya lebih bebas dan                     sederhana, contoh: Tari Reog Ponorogo atau Tari Lengger.

     2. Tari Kreasi Baru, adalah tarian tradisional yang dikembangkan atau dipadukan dengan unsur                 modern sehingga menghasilkan bentuk baru. Contoh: Tari Jaipong atau Tari Ratoeh Jaroe.

     3. Tari Modern (Modern/Contemporary Dance), adalah tarian yang bebas dari aturan tradisional,               lebih menekankan pada ekspresi individu dan teknik gerak bebas. Contoh: Tari Hip-Hop, Tari                Jazz atau Tari Kontemporer.

3. Berdasarkan Fungsinya

  • Tari Ritual, adalah tari yang berfungsi sebagai sarana upacara keagamaan atau adat, biasanya bersifat sakral dan magis. Contoh: Tari Tor-Tor (Sumatera Utara) dan Tari Sanghyang (Bali).
  • Tari Hiburan, adalah tari yang bertujuan semata-mata untuk bersenang-senang dan menghibur penonton, kadangkala melibatkan partisipasi masyarakat. Contoh: Tari Gambyong atau dansa sosial.
  • Tari Pertunjukan, adalah tarian khusus yang dikonsep untuk dipentaskan dengan nilai seni tinggi, tata panggung, dan cerita yang matang. Contoh: Sendratari Ramayana.

Sanggar Tari Kartika Budaya

Sejarah Berdiri

Sanggar Tari Kartika Budaya berdiri di Pedukuhan Demangan, Desa Argodadi, Kapanewon Sedayu sejak tanggal 1 Juli 2015 oleh seorang anak muda lulusan SMKI yang bernama Uswatun Khasanah, yang pada waktu itu masih berusia 21 tahun dengan berbekal ketrampilan menari dari sekolah, sekarang aktif sebagai guru SD Negeri Jetis Sedayu dan masih melanjutkan studi jurusan PGSD. Sanggar tari ini beralamat di Pedukuhan Demangan, RT 36, Kalurahan Argodadi, Kapanewon Sedayu. Berangkat dari kenyataan di masyarakat bahwa seni tari kini semakin terancam punah karena tergerus oleh seni budaya asing yang lebih menarik bagi generasi muda masa kini, Uswatun Khasanah merasa terpanggil untuk mendirikan "Sanggar Tari Kartika Budaya" dengan tujuan:

  1. Ikut andil dalam usaha pelestarian budaya yang adiluhung yang sekarang sudah mulai pudar.
  2. Memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk memanfaatkan waktu di luar jam sekolah untuk kegiatan yang positif, agar tidak kecanduan bermain gadget yang dapat merusak anak-anak secara fisik dan mental.
  3. Memberikan peluang kepada anak-anak yang mempunyai potensi untuk terus dilatih menjadi anak-anak yang berprestasi di masa depan.

Akhirnya terbentuknya pengurus sanggar tari pada tanggal 1 Juli 2015 dan terus mengembangkan bukan hanya pelatihan-pelatihan seni tari tradisional namun juga tari kreasi baru serta seni musik tradisional Yogyakarta.

Sasaran Pelatihan

Target sasaran pelatihan tari di Sanggar Tari Kartika Budaya adalah anak-anak mulai usia 4 tahun hingga dewasa yang berdomisili di Pedukuhan Demangan dan sekitarnya. Pada awal berdiri Pengurus Sanggar mengumpulkan anak-anak berjumlah kurang lebih hanya 10 orang anak. Anak-anak pedesaan seusia itu biasanya tidak mempunyai kegiatan di luar jam sekolah, tidak dibimbing oleh orang tuanya yang sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Sanggar tari ini hadir untuk membimbing mereka dengan kegiatan yang positif untuk membentuk karakter yang baik.

Sarana Prasarana

Untuk mendukung proses pembelajaran dan pelatihan diperlukan sarana antara lain:

a. Ruang Latihan berukuran 6 x 8 meter

b. Cermin dinding berukuran 5 x 2 meter

c. Ruang Kostum berukuran 2 x 9 meter

d. Soundsistem

e. Kostum tari sebanyak 80 stel

Semua sarana prasarana tersebut diadakan dengan modal sendiri.

Ekspansi Pelatihan

Seiring dengan permintaan masyarakat, Sanggar Tari Kartika Budaya akhirnya berkembang tidak hanya menyelenggarakan kegiatan latihan seni tari, namun berkembang menjadi sebuah Lembaga Bimbingan Belajar dan wahana rekreasi. Kegiatan lain yang diselenggarakan adalah bimbingan belajar Bahasa Inggris untuk anak-anak TK dan SD  mulai Januari 2025, serta sebagai wahana kegiatan rekreasi senam untuk ibu-ibu lingkungan sekitar. Jadwal kegiatan setiap hari Sabtu mulai pukul 09.00 hingga 17.00 meliputi Les Bahasa Inggris, Latihan Tari dan diakhiri dengan kegiatan senam untuk ibu-ibu.

Sejarah Pentas

Anak-anak Sanggar Tari Kartika Budaya pernah mengikuti berbagai pentas seni dalam acara sebagai berikut:

  1. Lomba Tari di Mall SCH,
  2. Lomba Tari di Mall Pakuwon,
  3. Lomba Tari di Mini Zoo,
  4. Lomba Tari di Lalisa,
  5. Lomba Tari di Hamzah Batik,
  6. Mewakili Kalurahan Argodadi pada Acara Pentas Selasa Wagen,
  7. Mewakili Kabupaten Bantul dalam Lomba Upacara Adat.

Dukungan:

Sanggar tari ini memperoleh dukungan dari berbagai lapisan masyarakat sekitar, terutama orang tua/wali murid, lingkungan RT, Bapak Dukuh, Pemerintahan Kalurahan Argodadi hingga Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul.

Tantangan:

Berbagai tantangan tentu selalu dihadapi antara lain:

  1. Menurunnya minat generasi muda ketika anak-anak sudah beranjak remaja/dewasa, mereka kebanyakan hanya belajar menari hingga tingkat SMP.
  2. Minimnya dukungan dana untuk pentas, selama ini solusinya adalah dengan dana yang dikumpulkan dari wali murid.

Perijinan:

a. Nomor Induk Kesenian (NIK) dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul.

b. Perijinan berusaha berbasis mikro.

Respon Masyarakat

Respon masyarakat sampai saat ini sangat positif dan mendukung kegiatan sanggar dan selalu diberi kesempatan untuk mengisi acara-acara di masyarakat.

Promosi

Oleh karena target pelatihannya adalah anak-anak, pengurus mempromosikan sanggar tari ini kepada sekolah-sekolah sekitar tingkat PAUD, TK, SD dan SMP melalui media sosial.

Harapan

Berangkat komitmennya dari visi dan misinya, Sanggar Kartika Budaya mengharapkan dukungan dari para pemangku kepentingan agar tujuan dan harapan masyarakat dapat tercapai, mencetak generasi muda yang mencintai dan mau melestarikan seni budaya tradisional di masa depan.

Terima Kasih, semoga bermanfaat.

Wassalam 

Artikel Terkait

← Kembali ke Berita