Berangkat dari visi dan misinya, di tengah gempuran pengaruh budaya asing, Sanggar Tari Kartika Budaya bertekat mencetak calon-calon generasi penerus untuk tetap mencintai dan melestarikan warisan seni tari tradisional yang adiluhung.
Sejarah Seni Tari
Seni adalah bagian dari budaya manusia sebagai bentuk ekspresi yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Berawal sejak zaman prasejarah ribuan tahun lalu, seni tari telah dipergunakan dalam acara ritual keagamaan, komunikasi, dan ungkapan emosi. Gerakan tubuh manusia yang berirama mulai digunakan sebagai sarana untuk meminta hujan, merayakan panen, atau menyembah kekuatan gaib. Namun seiring perkembangan kehidupan manusia, akhirnya fungsi seni tari bergeser menjadi sebuah pertunjukan hiburan. Pada zaman modern, seni tari menjadi lebih terstruktur, karena pengaruh dari tokoh-tokoh seperti Isadora Duncan dikenal sebagai pelopor tari ekspresif dan tari modern, sedangkan Martha Graham merevolusi tari modern dan menciptakan lebih dari 180 karya seni tari. Mereka mengubah tari menjadi ekspresi yang lebih bebas dan emosional, menggabungkan teknik dengan penjiwaan yang mendalam.
Jejak Sejarah Seni Tari di Indonesia
Jenis-Jenis Tari
Berdasarkan koreografi, aliran, dan fungsinya, seni tari dapat diklasifikasikan menjadi tari tradisional, modern, hingga kontemporer yang menampilkan ciri khas gerakan serta makna berbeda di setiap pertunjukannya.
Berikut adalah penggolongan jenis seni tari:
1. Berdasarkan Koreografinya
2. Berdasarkan Alirannya
- Klasik, adalah tari yang berkembang di lingkungan keraton atau istana dengan aturan gerak baku, contoh: Tari Bedhaya Ketawang.
- Rakyat, adalah tarian yang tumbuh di lingkungan rakyat jelata, gerakannya lebih bebas dan sederhana, contoh: Tari Reog Ponorogo atau Tari Lengger.
2. Tari Kreasi Baru, adalah tarian tradisional yang dikembangkan atau dipadukan dengan unsur modern sehingga menghasilkan bentuk baru. Contoh: Tari Jaipong atau Tari Ratoeh Jaroe.
3. Tari Modern (Modern/Contemporary Dance), adalah tarian yang bebas dari aturan tradisional, lebih menekankan pada ekspresi individu dan teknik gerak bebas. Contoh: Tari Hip-Hop, Tari Jazz atau Tari Kontemporer.
3. Berdasarkan Fungsinya
Sanggar Tari Kartika Budaya
Sejarah Berdiri
Sanggar Tari Kartika Budaya berdiri di Pedukuhan Demangan, Desa Argodadi, Kapanewon Sedayu sejak tanggal 1 Juli 2015 oleh seorang anak muda lulusan SMKI yang bernama Uswatun Khasanah, yang pada waktu itu masih berusia 21 tahun dengan berbekal ketrampilan menari dari sekolah, sekarang aktif sebagai guru SD Negeri Jetis Sedayu dan masih melanjutkan studi jurusan PGSD. Sanggar tari ini beralamat di Pedukuhan Demangan, RT 36, Kalurahan Argodadi, Kapanewon Sedayu. Berangkat dari kenyataan di masyarakat bahwa seni tari kini semakin terancam punah karena tergerus oleh seni budaya asing yang lebih menarik bagi generasi muda masa kini, Uswatun Khasanah merasa terpanggil untuk mendirikan "Sanggar Tari Kartika Budaya" dengan tujuan:
Akhirnya terbentuknya pengurus sanggar tari pada tanggal 1 Juli 2015 dan terus mengembangkan bukan hanya pelatihan-pelatihan seni tari tradisional namun juga tari kreasi baru serta seni musik tradisional Yogyakarta.
Sasaran Pelatihan
Target sasaran pelatihan tari di Sanggar Tari Kartika Budaya adalah anak-anak mulai usia 4 tahun hingga dewasa yang berdomisili di Pedukuhan Demangan dan sekitarnya. Pada awal berdiri Pengurus Sanggar mengumpulkan anak-anak berjumlah kurang lebih hanya 10 orang anak. Anak-anak pedesaan seusia itu biasanya tidak mempunyai kegiatan di luar jam sekolah, tidak dibimbing oleh orang tuanya yang sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Sanggar tari ini hadir untuk membimbing mereka dengan kegiatan yang positif untuk membentuk karakter yang baik.
Sarana Prasarana
Untuk mendukung proses pembelajaran dan pelatihan diperlukan sarana antara lain:
a. Ruang Latihan berukuran 6 x 8 meter
b. Cermin dinding berukuran 5 x 2 meter
c. Ruang Kostum berukuran 2 x 9 meter
d. Soundsistem
e. Kostum tari sebanyak 80 stel
Semua sarana prasarana tersebut diadakan dengan modal sendiri.
Ekspansi Pelatihan
Seiring dengan permintaan masyarakat, Sanggar Tari Kartika Budaya akhirnya berkembang tidak hanya menyelenggarakan kegiatan latihan seni tari, namun berkembang menjadi sebuah Lembaga Bimbingan Belajar dan wahana rekreasi. Kegiatan lain yang diselenggarakan adalah bimbingan belajar Bahasa Inggris untuk anak-anak TK dan SD mulai Januari 2025, serta sebagai wahana kegiatan rekreasi senam untuk ibu-ibu lingkungan sekitar. Jadwal kegiatan setiap hari Sabtu mulai pukul 09.00 hingga 17.00 meliputi Les Bahasa Inggris, Latihan Tari dan diakhiri dengan kegiatan senam untuk ibu-ibu.
Sejarah Pentas
Anak-anak Sanggar Tari Kartika Budaya pernah mengikuti berbagai pentas seni dalam acara sebagai berikut:
Dukungan:
Sanggar tari ini memperoleh dukungan dari berbagai lapisan masyarakat sekitar, terutama orang tua/wali murid, lingkungan RT, Bapak Dukuh, Pemerintahan Kalurahan Argodadi hingga Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul.
Tantangan:
Berbagai tantangan tentu selalu dihadapi antara lain:
Perijinan:
a. Nomor Induk Kesenian (NIK) dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul.
b. Perijinan berusaha berbasis mikro.
Respon Masyarakat
Respon masyarakat sampai saat ini sangat positif dan mendukung kegiatan sanggar dan selalu diberi kesempatan untuk mengisi acara-acara di masyarakat.
Promosi
Oleh karena target pelatihannya adalah anak-anak, pengurus mempromosikan sanggar tari ini kepada sekolah-sekolah sekitar tingkat PAUD, TK, SD dan SMP melalui media sosial.
Harapan
Berangkat komitmennya dari visi dan misinya, Sanggar Kartika Budaya mengharapkan dukungan dari para pemangku kepentingan agar tujuan dan harapan masyarakat dapat tercapai, mencetak generasi muda yang mencintai dan mau melestarikan seni budaya tradisional di masa depan.
Terima Kasih, semoga bermanfaat.
Wassalam