Berakar dari seni tradisional panahan, jemparingan bukan hanya sebagai bentuk olah raga fisik namun lebih kepada olah rasa (feeling) untuk membentuk karakter ksatria (sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh) yang harus disandang oleh masyarakat Yogyakarta.
Sejarah Senjata Panah, dari Zaman Batu Hingga Sekarang
Berbicara tentang Jemparingan tidak akan lepas dari senjata panah pada jaman batu. Senjata panah (busur dan anak panah) adalah salah satu senjata proyektil tertua di bumi. Temuan teknologi ini menjadi salah satu penanda utama transisi evolusi dan kecerdasan manusia purba. Senjata panah diperkirakan sudah dibuat manusia sekitar 72.000 hingga 60.000 tahun yang lalu pada Zaman Batu (era Paleolitik). Bukti arkeologis tertua berupa mata panah dapat ditemukan di situs Gua Sibudu, Afrika Selatan. Di samping itu, temuan tertua di luar Afrika yang sezaman diperkirakan berasal dari sekitar 31.000 tahun yang lalu. Pada masa zaman prasejarah, manusia purba telah menggunakan panah ini sebagai senjata utama untuk berburu hewan liar di hutan dan bertahan hidup dari jarak jauh sebelum berkembang menjadi senjata perang massal di berbagai peradaban kuno. Berawal sebagai senjata panah sebagai alat berburu dan senjata perang, panahan kini telah berevolusi menjadi cabang olahraga prestisius tingkat dunia.
Berikut adalah Sejarah Penemuan Panah di Dunia:
Transformasi Menjadi Olahraga (Era Modern)
Perkembangan Panahan di Indonesia
Panahan Sebagai Akar Penemuan Jemparingan
Dari berbagai sumber menyatakan bahwa kegiatan jemparingan berakar dari panahan. Jemparingan adalah seni panahan yang berevolusi menjadi seni memanah tradisional khas Kerajaan Mataram (khususnya gaya Mataram Ngayogyakarta) yang awalnya berfungsi sebagai latihan ketangkasan prajurit dan keluarga kerajaan. Istilah jemparingan berasal dari kata jemparing yang berarti anak panah. Meskipun berakar dari teknik memanah dasar, jemparingan memiliki beberapa perbedaan mencolok dengan panahan modern, antara lain:
Jemparingan di Kesultanan Ngayogyokarto
Asal muasal jemparingan di Kesultanan Yogyakarta atau jemparingan gaya Mataram Ngayogyokarto, dapat ditelusuri sejak awal keberadaan Kesultanan Ngayogyokarto. Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792), Raja pertama Yogyakarta, mendorong segenap pengikut dan rakyatnya untuk belajar memanah sebagai sarana untuk membentuk mental/watak kesatria. Watak kesatria yang dimaksudkan meliputi empat nilai yang harus disandang oleh warga Yogyakarta. Keempat nilai yang diperintahkan Sri Sultan Hamengku Buwono I untuk dijadikan pegangan hidup rakyatnya tersebut adalah sawiji, greget, sengguh, dan ora mingkuh. Sawiji berarti focus/berkonsentrasi, Greget berarti bersemangat, Sengguh berarti mempunyai rasa percaya diri, dan Ora Mingkuh berarti bertanggung jawab/tidak menghindar.
Filosofi Jemparingan
Sehubungan dengan tujuan pembentukan karakter atau watak sawiji itulah maka jemparingan tampak sangat berbeda dengan panahan lain yang hanya berfocus pada kemampuan pemanah untuk dapat membidik target dengan tepat. Pemanah jemparingan gaya Mataram tidak hanya memanah dalam posisi bersila, namun juga tidak membidik dengan mata. Busur diposisikan mendatar di hadapan perut sehingga bidikan panah didasarkan pada perasaan (feeling) pemanah. Gaya memanah semacam ini sangat selaras dengan filosofi jemparingan gaya Mataram itu sendiri, pamenthanging gandewa pamanthenging cipta. Filosofi ini memiliki arti bahwa membentangnya busur sejalan dengan konsentrasi yang ditujukan pada sasaran yang dibidik. Dalam kehidupan sehari-hari, pamenthanging gandewa pamanthenging cipta memiliki pesan agar manusia yang memiliki cita-cita hendaknya berkonsentrasi penuh pada tujuan atau targetnya agar cita-citanya dapat terwujud.
Properti Jemparingan
Tidak terpaut jauh dari panahan, properti yang dibutuhkan antara lain: Busur atau gandewaa, wong-wongan atau bandulan atau sasaran berupa silinder kecil, Jemparingan/ anak panah yang terdiri dari deder, bedor, wulu, dan nyenyep. Deder adalah batang anak panah. Bedor adalah mata anak panah, yang terbuat dari bulu unggas, berfungsi untuk menstabilkan laju jemparing. Sedangkan nyenyep adalah bagian yang berada pada paling pangkal dari jemparing yang nantinya diletakkan pada tali busur saat digunakan untuk memanah.
Gandewa terdiri cengkolak, lar, dan kendheng. Cengkolak adalah pegangan busur, biasanya terbuat dari kayu yang keras tapi ringan. Lar adalah bilah yang terpasang pada kiri dan kanan cengkolak, biasanya terbuat dari bambu, kelentingannya digunakan untuk meluncurkan jemparing. Kendheng adalah tali busur yang masing-masing ujungnya diikat di ujung-ujung lar. Bandul adalah sasaran yang digunakan sebagai target jemparingan. Bandul atau wong-wongan mencitrakan orang yang sedang berdiri. Bentuknya silinder tegak sepanjang 30 cm dengan diameter sekitar 3 cm, kurang lebih 5 cm bagian atas diberi warna merah, dinamakan molo atau sirah (kepala). Bagian bawah diberi warna putih, disebut awak (badan). Pertemuan antara molo dan awak diberi warna kuning setebal 1 cm, disebut jangga (leher). Sebuah bola kecil yang dihubungkan dengan seutas tali ditaruh di bawah bandulan, pemanah yang mengenai bola ini akan dikurangi nilainya. Bandul dan bola tersebut tergantung kencang dengan ikatan tali di bagian atas dan bawah. Di bagian atas digantung lonceng kecil yang akan berdenting sebagai penanda jika ada jemparing yang mengenai bandulan.
Gandewa maupun jemparing dibuat khusus oleh pengrajin. Tiap gandewa dan jemparing disesuaikan dengan postur tubuh pemanah, salah satunya adalah rentang tangan pemanah. Penyesuaian ini perlu dilakukan agar pemanah nyaman dan dapat memanah dengan optimal. Hal ini menyebabkan perlengkapan jemparingan bersifat pribadi dan sulit untuk dipinjam-pinjamkan.
Jemparingan Masa Kini
Seiring dengan perkembangan zaman, jemparingan gaya Mataram Ngayogyakarta pun ikut berkembang. Hingga saat ini terdapat berbagai macam cara memanah begitu juga bentuk sasaran yang dibidik. Namun semuanya tetap berpijak pada filosofi awal jemparingan sebagai sarana untuk melatih konsentrasi dan tidak meninggalkan cara memanah sambil duduk bersila. Beberapa kelompok jemparingan tidak lagi membidik sasaran dengan posisi gendewa horizontal di depan perut, namun gandewa berada dalam posisi vertikal sedikit miring sehingga pemanah dapat membidik dengan mata. Teknik jemparingan seperti ini membutuhkan gendewa bentuk baru, yaitu adanya lekukan pada bagian cengkolak sebagai tempat menaruh jemparing, bagian yang tidak dibutuhkan jika gendewa dalam posisi horizontal. Bandulan juga bervariasi, ada yang hanya terdiri dari molo dan awak, ada juga yang menambah bokong, yaitu bagian hitam sepanjang 1 cm di pangkal bandulan. Di lingkungan Keraton Yogyakarta, kegiatan jemparingan masih rutin dilakukan pada setiap hari Selasa sore di Pelataran Kamandungan Kidul, sebelah utara Alun-Alun Selatan.
Perkembangan Jemparingan di Luar Keraton
Seiring dengan meluasnya pengaruh Keraton Mataram, Jemparingan mulai dikenal di luar lingkup kerajaan. Permainan ini kemudian diadaptasi oleh masyarakat umum, terutama di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya hingga ke pelosok desa. Hingga kini, jemparingan tidak hanya menjadi bagian dari tradisi Keraton, tetapi telah menjadi perlombaan dalam berbagai acara kebudayaan, baik di tingkat lokal maupun nasional. Jemparingan menjadi semakin populer seiring dengan bertambahnya jumlah komunitas-komunitas yang melestarikannya. Mereka tidak hanya mengutamakan aspek olahraga, namun juga mengenalkan nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya..
Teknik Jemparingan yang Unik
Mengapa jemparingan disebut unik? Berbeda dengan teknik olah raga yang lain, dalam bermain jemparingan pemain tidak membidik sasaran tanpa melihat. Dengan memposisikan busur atau gandewa di depan perut pemanah ketika membidik hanya mengandalkan perasaan (feeling) untuk mencapai sasaran wong-wongan atau bandulan yang berbentuk tiang yang berukuran lebar sekitar 3cm dan panjang 30 cm. Pemain duduk bersila sebagai ciri khas dalam Jemparingan, suatu sikap yg melambangkan kesederhanaan dan keseimbangan, yang sangat dijunjung tinggi dalam budaya Jawa. Kombinasi antara teknik dan filosofi ini menjadikan jemparingan lebih dari sekadar sebagai bagian kegiatan olahraga, namun menjadi sebuah bentuk meditasi dan relfeksi diri.
Jemparingan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB)
Penetapan Jemparingan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia, menjadi salah satu langkah penting dalam sejarah pelestarian tradisi ini. Pengakuan resmi ini diharapkan mendorong generasi muda semakin mengenal dan menghargai Jemparingan sebagai bagian dari identitas budaya bangsa. Semakin banyak komunitas dan kelompok seni di Yogyakarta yang terus mengadakan pelatihan dan perlombaan Jemparingan. Kegiatan seni ini juga telah merambah ke beberapa sekolah dan lembaga pendidikan dan mulai mengintegrasikan ke dalam program ekstrakurikuler mereka. Upaya pelestarian ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, komunitas budaya dan masyarakat umum. Dalam even-even festival budaya Jemparingan juga sering digelar sebagai salah satu atraksi utamanya. Jemparingan sebagai salah satu warisan budaya yang mengedukasi masyarakat akan pentingnya harmoni, konsentrasi, dan keseimbangan. Jemparingan menjadi lebih dari kegiatan sekadar olahraga, namun lebih mencerminkan pada nilai-nilai luhur yang menjadi ciri khas masyarakat Jawa. Dengan melestarikan Jemparingan, kita tidak hanya menjaga tradisi leluhur, tetapi juga memperkuat identitas budaya Indonesia di mata dunia. Semoga Jemparingan tetap hidup dan terus diwariskan kepada generasi mendatang sebagai salah satu kebanggaan budaya Nusantara.
Terima Kasih telah membaca artikel ini, semoga bermanfaat.
Wassalam