Tradisi Nyadran adalah ritual ziarah kubur dan penghormatan leluhur masyarakat Jawa yang berakar dari zaman Majapahit (sekitar abad ke-13) melalui ritual Sraddha. Tradisi ini awalnya bertujuan mendoakan arwah agar mencapai ketenangan, kemudian diakulturasikan oleh Wali Songo dengan nilai-nilai Islam, menjadi kegiatan membersihkan makam, tahlilan, dan kenduri pada bulan Ruwah (Syaban).
Berikut adalah detail tradisi Nyadran sejak era Majapahit:
- Akar Sejarah (masa Majapahit): Tradisi ini berakar dari ritual Sraddha (Sanskerta:Keyakinan) yang dilakukan pada masa Majapahit, khususnya untuk menghormati Raja Gayatri. Pada masa ini, ritual dilakukan di candi-candi untuk perwujudan penghormatan leluhur, seperti candi Kidal.
- Pergeseran Makna dan Akulturasi: Saat Islam masuk ke Jawa, tradisi ini tidak dihilangkan, melainkan disesuaikan oleh para Wali Songo (terutama Sunan Kalijaga). Unsur-unsur Hindu-Buddha berakulturasi dengan ajaran Islam, di mana doa-doa lama diganti menjadi doa tahlil dan tasyakuran.
- Waktu Pelaksanaan: Sultan Agung menetapkan bulan Ruwah (Syaban) dalam kalender Jawa sebagai waktu khusus untuk melaksanakan tradisi ini guna menyambut Ramadhan.
- Serangkaian Prosesi Nyadran:
1. Besik: Gotong royong membersihkan makam leluhur dari rumput dan kotoran.
2. Nyekar: Tabur bunga mawar dan melati di atas makam.
3. Doa Bersama/Tahlilan: Mendoakan arwah leluhur di area makam atau masjid desa.
4. Kenduri/Kembul Bujana: Makan bersama dimana warga membawa makanan dari rumah, menciptakan suasana kebersamaan tanpa sekat sosial.
- Nilai-nilai yang Terkandung: Nyadran melestarikan nilai gotong royong, sedekah, penghormatan kepada orang tua/leluhur, serta pengingat akan kematian.
Tradisi ini masih dilestarikan dengan antusiasme tinggi di berbagai pedesaan di Yogyakarta, termasuk di Sungapan, Argodadi. Tradisi ini dimaksudkan untuk mendoakan para leluhur yang bersemayam di makam tersebut. Salah satu tradisi ini selalu dilaksanakan di wilayah RT 74 Pedukuhan Sungapan. Menurut seorang sesepuh di Pedukuhan Sungapan, Bapak Narto Semedi, acara nyadran ini diperuntukkan para arwah leluhur yang disemayamkan di 3 makam yang berdekatan yang berlokasi di wilayah RT 74 dan 75. Adapun arwah-arwah leluhur yang dimaksud utamanya adalah arwah figure sebagai cikal bakal di masing-masing makam. Yang pertama adalah Eyang Kyai Sungu yang dipercaya sebagai tokoh yang cikal bakal yang dimakamkan di makam Kyai Sungu. Yang kedua adalah arwah Kyai Tumbak Tuwo yang cikal bakal di makam Kyai Tumbak Tuwo dan yang ketiga adalah arwah Kyai Sureng yang di makamkan di Makam Kyai Sureng. Acara nyadran biasanya dilakukan sekitar tanggal 20 bulan Syaban. Acara dihadiri oleh semua warga yang mempunyai ahli waris yang dimakamkan di tiga makam tersebut. Mereka bukan hanya yang berdomisili di RT 74 dan 75, namun juga diikuti oleh warga yang berasal dari luar Pedukuhan Sungapan.
Prosesi acara
Acara yang dilaksanakan setiap tahun berdasarkan tuntutan agama pada intinya adalah untuk mendoakan para leluhur yang dimakamkan di 3 makam tersebut. Oleh karena warga yang datang mayoritas beragama Islam, acara intinya adalah amaliah tahlil yang dipimpin oleh kaum rois atau seorang ustadz kemudian dilanjutkan tausiah yang dimaksudkan untuk menambah keimanan. Pada acara tersebut sebagai rangkaian prosesi, panitia menyiapkan ubo rampe atau sesaji berupa berbagai macam makan, lauk pauk dan bunga sebagai rangkaian acara wilujengan (permohonan selamat kepada Tuhan yang Maha Esa). Acara ini biasanya dilaksanakan pada malam hari.
Acara tradisi budaya untuk memupuk rasa kegotongroyongan
Acara yang bernuansa religi ini sebenarnya sangat strategis untuk membangun semangat gotong rotong masyarakat yang sekarang nampak mulai semakin pudar seiring dengan kesibukan masing-masing. Semakin tingginya tuntutan kebutuhan dan karena perubahan gaya hidup, orang kadang mengesampingkan budaya gotong royong. Kekuatan masyarakat terutama di pedesaan sebenarnya terletak pada kekuatan budaya gotong royong masyarakat. Sebagai manusia sosial, orang tidak akan bisa hidup sendiri tanpa bantuan dari orang lain dalam hal sekecil apapun. Namun tidak sedikit sekarang ini mengesampingkan gotong royong karena sudah merasa mampu secara ekonomi. Faktanya, orang yang rela bergotong royong tanpa pamrih pada umumnya adalah golongan masyarakat tingkat bawah.