Maya Pengrajin Besek

🗓 17 May 2026 ✍ Kojrat Wiyana 👁 49x dibaca
Maya Pengrajin Besek

Sejarah Besek

Menurut definisi besek adalah wadah tradisional berupa kotak atau keranjang kecil yang terbuat dari anyaman bambu. Wadah yang melekat kuat dalam budaya Nusantara ini sangat populer sebagai pembungkus ramah lingkungan untuk berbagai makanan dan hantaran.

  • Akar Budaya Agraris: Besek berakar erat dengan kebiasaan masyarakat agraris di Nusantara, terutama di pulau Jawa, Bali dan Sunda. Berdasarkan catatan sejarah, wadah ini telah dikenal sejak masa kerajaan Hindu-Buddha sekitar tahun 400 Masehi.
  • Solusi Kearifan Lokal: Sebelum adanya produk kemasan modern seperti plastik atau styrofoam, masyarakat pedesaan memanfaatkan bambu yang tumbuh melimpah di lingkungan sekitar untuk membuat wadah penyimpanan serbaguna.
  • Fungsi Sejak Jaman Dahulu: Anyaman bambu ini dulunya dibuat khusus dengan rongga-rongga kecil yang memungkinkan sirkulasi udara sehingga makanan di dalamnya tidak mudah basi. Biasanya digunakan untuk membawa bekal ke ladang, tempat sesaji, hingga wadah lauk-pauk.

Kandungan Makna Sosial Budaya

  • Simbol Berbagi: Di wilayah Yogyakarta, Jawa dan Sunda, besek sangat identik dengan tradisi kenduri, syukuran, atau hajatan. Nasi dan lauk-pauk yang dimasukkan ke dalam besek biasanya dibagikan kepada para tamu undangan sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih.
  • Kuliner Khas: Besek juga menjadi wadah ikonik untuk kuliner tradisional seperti gudeg, tape ketan, hingga lauk-pauk daging kurban.
  • Filosofi Anyaman: Pola menganyam besek yang saling menyilang melambangkan filosofi gotong royong dan keterikatan sosial antar sesama manusia dalam kehidupan bermasyarakat untuk menciptakan sebuah kekuatan. Pada saat ini masih ditemukan kerajinan besek tradisional yang dibuat oleh para perajin lokal di perkampungan.

Belajar Membuat Besek Sejak Usia Dini

Pekerjaan menganyam besek sebenarnya tidaklah sulit, tidak perlu training khusus, tidak perlu memerlukan skill yang tinggi, namun hanya dengan mengamati dan mempraktikan, dengan bekal niat, semangat dan ketekunan, seseorang akan mampu membuat besek. Ibu maya (33 tahun) mulai belajar membuat besek sejak usia 12 tahun atau kelas VI SD di rumah orang tuanya yang tinggal di lingkungan pengrajin besek (sentra) di wilayah Bandongan, Magelang. Produk besek waktu itu dibeli oleh pengepul dan selanjutnya dikirim sampai ke Jogja. Hari demi hari dilalui sebagai pengrajin besek bersama saudara-saudaranya di Bandongan namun karena harus mengikuti suami akhirnya sekitar 10 tahun yang lalu dia tinggal di Sungapan, RT 73, Kalurahan Argodadi hingga sekarang. Dengan melihat realita di lapangan ternyata belum banyak pengrajin besek di wilayah Argodadi dan dia melihat ini sebuah peluang usaha, disamping ketersediaan bahan baku yang masih melimpah. Tak perlu modal besar sebenarnya, yang penting ada niat, kemauan dan ketekunan yang menjadi kunci awal suksesnya sebuah usaha. Dengan dorongan dan bantuan sang suami, mulailah dia membuat besek untuk dijual.

Merintis Jaringan Pemasaran

Pemasaran suatu produk adalah hal yang sangat penting bagi sebuah usaha. Betapapun bagusnya sebuah produk namun jika tidak dikenal, tidak bisa dijual apalah artinya. Ini sebuah persoalan. Sehingga Ibu Maya memulai memasarkan beseknya dengan cara konsinyasi di warung/toko-toko sekitar. Hari demi hari dilalui dan lambat laun produk beseknya mulai dikenal banyak orang dan akhirnya dia tidak perlu lagi menitipkan besek ke toko-toko. Lambat laun pelanggan baru mulai berdatangan ke rumahnya. Ini tentu menjadi sebuah keuntungan tersendiri bagi penjual dan pembeli karena bisa memotong jaringan pemasaran, tidak perlu pihak ketiga yang terkadang justru menjadi penghambat sebuah usaha, sekarang jaringan pemasarannya sangat pendek dan simple, produsen-konsumen. Sampai saat ini permintaan pasar cukup stabil bahkan kadang kebanjiran order. Sehingga untuk mengatasi masalah ini Ibu Maya tetap membuat besek setiap hari ketika ada order maupun tidak.

Besek Karya Ibu Maya

Berdasarkan pengamatan pada permintaan pelanggan, besek yang diminati adalah yang kurang lebih berukuran 22 cm. Namun tak jarang ada permintaan besek yang berukuran lebih kecil. Proses membuat besek dimulai dari memotong bambu putih yang masih basah dan dihilangkan ruasnya. Kemudian bambu dibelah dengan lebar menurut kebutuhan (untuk besek besar atau kecil) kemudian diirat, dijemur sampai kering (agar awet) kemudian dianyam. Dalam sehari rata-rata dapat membuat sebanyak 20 pasang besek jika tinggal menganyam namun jika pekerjaan dimulai dari mengirat maka hanya akan mampu membuat 15 pasang (30 buah) dari pagi sampai siang. Dari hasil penjualan itu tentu diperoleh keuntungan yang bisa menopang kebutuhan sehari-hari. Namun yang kadang menjadi kendala adalah ketika banyak order yang disanggupi namun tiba-tiba ada kegiatan sosial atau keluarga yang harus diselesaikan.

Harapan ke Depan

Dengan melihat prospek apalagi jika harga plastik terus melonjak, dan masih melimpahnya bahan dasar usaha membuat besek ini masih menjadi peluang usaha yang cukup menjanjikan, apalagi jika mampu membuat karya kerajinan lain dari bambu yang lebih unik dan estetik tentu akan menjadi usaha yang lebih bercuan. Semoga.

Terima Kasih telah membaca artikel ini, semoga menjadi inspirasi dan bermanfaat.

Wassalam

Artikel Terkait

← Kembali ke Berita