Tradisi Malam 1 Syuro di Argodadi

🗓 04 July 2026 ✍ Kojrat Wiyana 👁 78x dibaca
Tradisi Malam 1 Syuro di Argodadi

Sebuah kearifan lokal yang bernuansa religius dan tradisional yang masih lestari hingga sekarang untuk membangun kebersamaan, kegotongroyongan dan toleransi seluruh lapisan masyarakat yang bersatu padu dalam satu tekad.

Sejarah Tradisi Malam 1 Syuro

Tradisi malam 1 Syuro yang masih dilestarikan masyarakat Jogja hingga saat ini berasal dari penetapan kalender Jawa oleh Sultan Agung pada abat ke-17. Ia menggabungkan penanggalan Hindu (Saka) dengan Islam (Hijriah) untuk menyatukan rakyatnya. Istilah "Syuro" diambil dari kata Arab "Asyura" (hari ke-10 Muharam) yang kemudian menjadi nama bulan pertama penanggalan Jawa. Penyatuan kalender ini dimulai sejak hari Jumat Legi bulan Jumadil Akhir tahun 1555 Saka atau 8 Juli 1633 Masehi. Satu Syuro adalah hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Syuro, bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah (kalender Islam).

Makna Tradisi Budaya Malam 1 Syuro

Tidak hanya di Jawa, momen pergantian tahun baru seperti Imlek, Nyepi, Masehi juga dirayakan oleh bangsa-bangsa lain di dunia dengan cara yang berbeda. Masyarakat Jawa dalam merayakan tahun barunya, tanggal 1 Syuro dengan cara yang unik karena tanggal 1 Syuro memiliki momen sakral sehingga tidak dirayakan dengan acara-acara selebrasi yang berlebihan. Orang Jawa lebih memaknainya sebagai momen yang sarat akan nilai spiritual, introspeksi diri (eling lan waspodo), dan penghormatan kepada para leluhur. Berikut adalah beberapa fakta penting seputar sejarah dan pelaksanaannya.

  1. Sarana Penyatuan Budaya, momen ini dirancang dengan latar belakang keinginan Sultan Agung untuk menyatukan masyarakat Jawa tanpa sekat antara golongan santri dan abangan yaitu kelompok masyarakat Jawa yang memeluk Islam tetapi praktik keagamaannya dipadukan dengan unsur-unsur tradisi lokal, Hindu-Buddha, dan animisme (sering disebut Kejawen). Istilah ini dipopulerkan oleh antropolog Clifford Geertz.
  2. Perayaan Keraton, pusat tradisi ini sangat kental di Keraton Yogyakarta dan Surakarta, pada momen itu diselenggarakan ritual sakral seperti kirab pusaka dan topo bisu (mengelilingi benteng tanpa bicara).
  3. Laku Spiritual, sebagian masyarakat melakukan tirakat, bermeditasi, membersihkan pusaka, berziarah ke makam leluhur, dan berdoa memohon keselamatan.

Perayaan Tradisi 1 Syuro di Solo

  1. Pura Mangkunegaran

         Di Pura Mangkunegaran, prosesi dimulai pada malam hari (1 Syuro) sekitar pukul 20.00 WIB.                     Prosesi ini diikuti oleh kerabat keraton dan ribuan abdi dalem yang berjalan mengitari kompleks             Pura tanpa alas kaki sambil melakukan tapa bisu (tidak berbicara, makan, dan minum). Prosesi ini           ditutup dengan pembagian udik-udik (sebaran koin dan beras kuning) oleh Kanjeng Gusti                       Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara kepada warga yang hadir.

     2. Keraton Kasunanan Surakarta

         Pusat kemeriahan dan kesakralan lainnya berada di Keraton Kasunanan Surakarta. Tradisi ini                   sangat ikonik dengan kehadiran Kebo Bule Kyai Slamet yang menjadi cucuk lampah (garda                     terdepan) diikuti oleh barisan pembawa pusaka dan keluarga keraton. Kirab biasanya dimulai                 tengah malam dan menempuh rute mengelilingi area benteng keraton sembari dikawal oleh                   ribuan masyarakat yang memadati jalanan Solo. Orang-orang berdesak-desakan di sekitar                     Keraton Surakarta hingga memenuhi jalanan kota. Malam 1 Syuro adalah malam yang istimewa             yang sering dianggap mistis dan keramat sekaligus penuh berkah dan sakral.

Perayaan Tradisi 1 Syuro di Yogyakarta

  1. Keraton Yogyakarta dan Pura Pakualaman

         Di Yogyakarta perayaan 1 Syuro diperingati dengan serangkaian ritual sakral yang dipusatkan di Keraton Yogyakarta dan Pura Pakualaman. Acara utamanya meliputi tradisi Mubeng Beteng (mengelilingi kompleks benteng keraton tanpa alas kaki dan tapa bisu), Jamasan Pusaka (penyucian benda pusaka), dan menyantap Bubur Suran. Tradisi ini bukanlah sekadar pertunjukan biasa, namun lebih sebagai laku spiritual dan refleksi diri masyarakat Jawa untuk memohon keselamatan di tahun yang baru.

          Rangkaian Perayaan meliputi:

  • Mubeng Beteng dan Tapa Bisu, prosesi ini diikuti oleh ratusan hingga ribuan abdi dalem dan masyarakat, berjalan kaki sejauh 4-5 km mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta. Prosesi biasanya dimulai dari Bangsal Pancaniti ini, selama prosesi peserta berjalan dalam keheningan total (tanpa berbicara) sebagai wujud instropeksi diri.
  • Lampah Ratri (Pura Pakualaman), adalah ritual serupa yang diselenggarakan oleh Pura Pakualaman dengan rute mengelilingi benteng kadipaten.
  • Jamasan Pusaka, dalam upacara sakral ini dilakukan pencucian pusaka-pusaka keraton, seperti keris, gamelan, hingga kereta kencana, yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu di bulan Syuro.
  • Tradisi Bubur Suran, dalam tradisi ini disajikan atau dibagikan bubur khusus yang dimasak dengan kuah gurih dan dilengkapi berbagai lauk pauk serta tujuh jenis kacang, sebagai lambang rasa syukur.

      2. Makam Raja-Raja Imogiri, Bantul

  • Jamasan: Ritual penyucian empat enceh (gentong) bernama Kyai Mendung, Nyai Danumurti, Kyai Siyem, dan Kyai Tuk.
  • Rebutan Berkah: Air sisa kurasan dan bunga yang digunakan sering kali diperebutkan oleh warga dan peziarah karena dipercaya membawa berkah, kesehatan, dan kelancaran rejeki.
  • Tirakatan dan Doa Bersama: Masyarakat setempat menggelar doa bersama di sekitar makam untuk memohon keselamatan menyambut tahun baru.

Di samping di tempat-tempat tersebut di atas, perayaan 1 Syuro juga dilaksanakan di luar lingkungan Kraton oleh komunitas-komunitas tertentu dengan berbagai macam prosesi.

Mandi di Tujuh Mata Air

Bentuk lain tradisi 1 Syuro yang mungkin terdengar agak ekstrem adalah mandi di tujuh mata air pada malam 1 Syuro. Ritual ini dipercaya sebagai sarana untuk menyucikan diri lahir dan batin, membuang energi negatif, memohon keselamatan, hingga meminta kelancaran rejeki atau jodoh di tahun yang baru.

Tradisi ini biasanya dilakukan dengan dua cara:

  1. Mandi Langsung (Jamasan), orang langsung mengunjungi tujuh sumber mata air (sendang) atau tempuran (pertemuan dua sungai) di tengah malam untuk membersihkan diri.
  2. Pengambilan Air Suci (Ngala Cai Kukulu/Nyangkrip): Sesepuh adat mengumpulkan air dari tujuh mata air yang berbeda untuk disatukan dan digunakan dalam kirab atau dipercikkan kepada warga sebagai tolak bala.

Tradisi 1 Syuro di Argodadi

Ada beberapa titik lokasi perayaan tradisi 1 Syuro di Argodadi, antara lain:

  1. Rumah Budaya Sanggrahan/Pedukuhan Sungapan Dukuh
  • Pada hari Rabu, tanggal 20 September 2017

         Adalah Rumah Budaya/Joglo Sanggrahan (cagar Budaya) yang berada di Pedukuhan Sungapan              Dukuh, Kalurahan Argodadi, Kapanewon Sedayu milik Bapak H. Setyo Pranyoto, S.Sos pada hari              Rabu, tanggal 20 September 2017 telah diselenggarakan acara Rasulan Malam 1 Syuro sekaligus            Peresmian Rumah Budaya "Sanggrahan". Serangkaian acara yang digelar mulai dari prosesi kirab            dengan membawa "jodang" yang berisi hasil bumi masyarakat petani, ogoh-ogoh berupa raksasa          yang melambangkan sifat angkara murka (sifat jahat) yang kemudian dibakar sebagai simbol                  sirnanya kejahatan di muka bumi. Selanjutnya acara ditutup dengan berbagai pertunjukan                      kesenian yang ada di wilayah Desa Argodadi antara lain Wayang Orang dari Pedukuhan                          Demangan, Gejok Lesung dari Pedukuhan Sungapan, Jathilan Kudho Asmoro dari Pedukuhan                  Brongkol dan Chadisiswa dari Pedukuhan Sungapan Dukuh.

  • Pada hari Sabtu, tanggal 31 Agustus 2019

         Acara penyambutan tahun baru Islam 1441 hijriah masyarakat menggelar adat suran, yang diisi             dengan kirab budaya, mujahadah, dan pentas kesenian. Acara ini dihadiri oleh Camat Sedayu,                 Sarjiman, Lurah beserta pamong Desa Argodadi, Dukuh se-Desa Argodadi, tokoh masyarakat                 Desa Argodadi, dan warga masyarakat yang sangat antusias untuk mengikuti acara ini. Acara                 diawali dengan kirab yang diikuti masyarakat Dusun Sungapan Dukuh yang berasal dari 10                     (sepuluh) RT, menuju Rumah Budaya/Joglo Sanggrahan, Sungapan Dukuh. Dalam kirab tersebut,           masyarakat membawa aneka makanan dalam jodang, untuk acara makan bersama. Usai kirab               dilanjutkan dengan mujahadah yang dipimpin oleh Rois Waluyo, dan pembacaan doa yang                     dipimpin oleh Setyo Pranyoto, S.Sos. Usai mujahadah dilanjutkan makan bersama, dan ditutup               dengan penampilan pentas kesenian Khadisiswo dari Sungapan Dukuh, dan Jatilan dari Dusun               Bakal.

  • Pada hari Jumat, tanggal 29 Agustus 2022

         Tradisi menyambut tahun baru Islam 1444 hijriah kembali digelar di Joglo Sanggrahan. Hadir                   dalam acara tersebut, Sekretaris Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul (Drs. Fauzan Muarifin),                 Lurah dan Pamong Kalurahan Argodadi, Bamuskal, dan tokoh masyarakat. Kegiatan diawali                     dengan kirab bregodo, diikuti warga Padukuhan Sungapan Dukuh menuju Joglo Sanggrahan,                 dengan dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan kesenian. Tidak ketinggalan para warga                           membawa jodang yang berisi berbagai makanan menuju Joglo Sanggarahan, berkumpul untuk               berdoa bersama, dilanjutkan pengajian, dan diakhiri dengan makan bersama.

  • Pada hari Sabtu, tanggal 6 Juli 2024

         Kegiatan ini dilakukan dalam memperingati malam 1 Muharram 1446 hijriah. Pada kegiatan ini               masyarakat memanjatkan doa bersama-sama untuk meminta perlindungan dan keselamatan                 agar dihindari dari marabahaya. Masyarakat setempat masih mempercayai tradisi suran                           mengandung cerita mistis, maka dari itu, tradisi ini harus diperingati agar masyarakat terhindar             dari bala, marabahaya. Dengan adanya kegiatan ini, harapannya masyarakat Kalurahan Argodadi           diberikan perlindungan dan keselamatan dari marabahaya. Masyarakat juga dapat menjalin                     silaturahmi dan meningkatkan solidaritas dengan adanya kegiatan ini.

  • Pada hari Senin Pon, tanggal 15 Juni 2026

         Tradisi budaya malam 1 Muharram 1448 hijriah kembali digelar dan kali ini dipusatkan di                         lapangan Cemoro Gadhing, Sungapan Dukuh. Acara tahunan ini biasanya dipusatkan di Rumah               Budaya Sanggrahan milik Bapak H. Setyo Pranyoto, S.Sos (Sungapan Dukuh). Dalam acara                       tersebut dihadiri oleh para pejabat dari Kapanewon, Polsek, Koramil Sedayu, Lurah Argodadi dan           Pamong Argodadi, Dukuh, Unsur Kelembagaan Argodadi, Pendamping Budaya, petugas                         monitoring dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul, warga Sungapan Dukuh dan masyarakat               sekitar yang sangat antusias untuk menyaksikan. Prosesi diawali dengan kirab budaya, star di                 simpang tiga TK PKK 32 Argodadi, Sungapan Dukuh ke arah barat kemudian belok ke                               selatan/kiri, ke timur dan kembali ke utara dan finish di lapangan Cemara Gading dari sisi Timur,             di depan SDN Sungapan dengan jarak tempuh sekitar 1 km. Kirab ini dimulai pukul 20.00 wib,                 diikuti semua warga Sungapan Dukuh dalam kelompok RT, mulai dari RT 62 sampai dengan RT               71. Kirab dimeriahkan oleh prajurit Bregodo dengan mengenakan kostum special sikepan (baju)             lurik sebagai ciri khas pakaian kaprajuritan, figur raksasa (buto) yang diarak sebagai simbol sifat             jahat yang nantinya akan dibakar sebagai simbol menumpas sifat jahat tersebut. Tidak                             ketinggalan warga masyarakat Sungapan Dukuh yang tergabung dalam kelompok RT masing-               masing dengan kostum yang bermacam-macam, sebagian kelompok tampil dengan                               menggotong jodang yang berisi makanan dan hasil bumi. Warga peserta kirab selanjutnya                       masuk ke lapangan duduk berkumpul bersama di bawah tribun masing-masing. Acara                             selanjutnya dimeriahkan dengan display ogoh-ogoh, penyerahan air suci dari 7 mata air kepada             para tokoh masyarakat, display prajurit bregodo, amaliah tahlil (kaum Rois/Bapak Waluyo),                       sambutan dari Dukuh Sungapan Dukuh (Bapak Edy Nasikun S.Pd), ketua Desa Budaya (Bapak                 Wintala S.Pd), Lurah Argodadi (Bapak Prayitno) dan petugas Monitoring dari Dinas Kebudayaan               Kabupaten Bantul (Bapak Sutarya) dan diakhiri dengan pembakaran ogoh-ogoh, makan bersama           dan penutup. Acara tradisi 1 Syuro kali ini cukup lancar dan meriah di malam yang cerah berkat             semangat gotong royong dan kebersamaan dari semua warga, bersatu padu, berkumpul                         bertekat bulat untuk melestarikan budaya warisan para leluhur. Acara ini diharapkan dapat                     diselenggarakan pada waktu-waktu mendatang, lebih sukses, lebih meriah dan dapat                             menghibur masyarakat. Acara seperti ini juga merupakan momen yang penting dan sangat                     bermanfaat bagi para pelaku UMKM sekitar, karena dapat memberikan peluang kepada mereka             untuk dapat berjualan, demikian penuturan Dukuh Pedukuhan Sungapan Dukuh, Argodadi,                     Bapak Edy Nasikun S.Pd.

Pedukuhan Selogedong

Warga Dusun Selogedong Desa Argodadi menyambut tahun baru Islam 1441 hijriah dengan menggelar acara pengajian. Pengajian ini dilaksanakan di Dusun Selogedong pada hari Sabtu 31 Agustus 2019. Hadir dalam pengajian tersebut, Lurah Desa Argodadi (Bapak Prayitno), Dukuh dan warga masyarakat Dusun Selogedong, Argodadi, Sedayu, Bantul. Tausiyah disampaikan oleh Gimanto Abdul Dayat.

Tempat-tempat lain

Di beberapa tempat lain di wilayah Argodadi tradisi malam 1 Muharram 1448 hijriah dirayakan dengan berbagai kegiatan yang bersifat religius seperti sholawatan, pengajian, amaliah tahlil di masjid atau mushola dan tirakatan hingga larut malam.

Demikian gambaran sekilas tentang acara tahunan yang bernuansa tradisional dan religius yang masih eksis di Argodadi.

Terima Kasih telah membaca artikel ini, semoga bermanfaat.

Wassalam.

Artikel Terkait

← Kembali ke Berita