Sebuah kearifan lokal yang bernuansa religius dan tradisional yang masih lestari hingga sekarang untuk membangun kebersamaan, kegotongroyongan dan toleransi seluruh lapisan masyarakat yang bersatu padu dalam satu tekad.
Sejarah Tradisi Malam 1 Syuro
Tradisi malam 1 Syuro yang masih dilestarikan masyarakat Jogja hingga saat ini berasal dari penetapan kalender Jawa oleh Sultan Agung pada abat ke-17. Ia menggabungkan penanggalan Hindu (Saka) dengan Islam (Hijriah) untuk menyatukan rakyatnya. Istilah "Syuro" diambil dari kata Arab "Asyura" (hari ke-10 Muharam) yang kemudian menjadi nama bulan pertama penanggalan Jawa. Penyatuan kalender ini dimulai sejak hari Jumat Legi bulan Jumadil Akhir tahun 1555 Saka atau 8 Juli 1633 Masehi. Satu Syuro adalah hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Syuro, bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah (kalender Islam).
Makna Tradisi Budaya Malam 1 Syuro
Tidak hanya di Jawa, momen pergantian tahun baru seperti Imlek, Nyepi, Masehi juga dirayakan oleh bangsa-bangsa lain di dunia dengan cara yang berbeda. Masyarakat Jawa dalam merayakan tahun barunya, tanggal 1 Syuro dengan cara yang unik karena tanggal 1 Syuro memiliki momen sakral sehingga tidak dirayakan dengan acara-acara selebrasi yang berlebihan. Orang Jawa lebih memaknainya sebagai momen yang sarat akan nilai spiritual, introspeksi diri (eling lan waspodo), dan penghormatan kepada para leluhur. Berikut adalah beberapa fakta penting seputar sejarah dan pelaksanaannya.
Perayaan Tradisi 1 Syuro di Solo
Di Pura Mangkunegaran, prosesi dimulai pada malam hari (1 Syuro) sekitar pukul 20.00 WIB. Prosesi ini diikuti oleh kerabat keraton dan ribuan abdi dalem yang berjalan mengitari kompleks Pura tanpa alas kaki sambil melakukan tapa bisu (tidak berbicara, makan, dan minum). Prosesi ini ditutup dengan pembagian udik-udik (sebaran koin dan beras kuning) oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara kepada warga yang hadir.
2. Keraton Kasunanan Surakarta
Pusat kemeriahan dan kesakralan lainnya berada di Keraton Kasunanan Surakarta. Tradisi ini sangat ikonik dengan kehadiran Kebo Bule Kyai Slamet yang menjadi cucuk lampah (garda terdepan) diikuti oleh barisan pembawa pusaka dan keluarga keraton. Kirab biasanya dimulai tengah malam dan menempuh rute mengelilingi area benteng keraton sembari dikawal oleh ribuan masyarakat yang memadati jalanan Solo. Orang-orang berdesak-desakan di sekitar Keraton Surakarta hingga memenuhi jalanan kota. Malam 1 Syuro adalah malam yang istimewa yang sering dianggap mistis dan keramat sekaligus penuh berkah dan sakral.
Perayaan Tradisi 1 Syuro di Yogyakarta
Di Yogyakarta perayaan 1 Syuro diperingati dengan serangkaian ritual sakral yang dipusatkan di Keraton Yogyakarta dan Pura Pakualaman. Acara utamanya meliputi tradisi Mubeng Beteng (mengelilingi kompleks benteng keraton tanpa alas kaki dan tapa bisu), Jamasan Pusaka (penyucian benda pusaka), dan menyantap Bubur Suran. Tradisi ini bukanlah sekadar pertunjukan biasa, namun lebih sebagai laku spiritual dan refleksi diri masyarakat Jawa untuk memohon keselamatan di tahun yang baru.
Rangkaian Perayaan meliputi:
2. Makam Raja-Raja Imogiri, Bantul
Di samping di tempat-tempat tersebut di atas, perayaan 1 Syuro juga dilaksanakan di luar lingkungan Kraton oleh komunitas-komunitas tertentu dengan berbagai macam prosesi.
Mandi di Tujuh Mata Air
Bentuk lain tradisi 1 Syuro yang mungkin terdengar agak ekstrem adalah mandi di tujuh mata air pada malam 1 Syuro. Ritual ini dipercaya sebagai sarana untuk menyucikan diri lahir dan batin, membuang energi negatif, memohon keselamatan, hingga meminta kelancaran rejeki atau jodoh di tahun yang baru.
Tradisi ini biasanya dilakukan dengan dua cara:
Tradisi 1 Syuro di Argodadi
Ada beberapa titik lokasi perayaan tradisi 1 Syuro di Argodadi, antara lain:
Adalah Rumah Budaya/Joglo Sanggrahan (cagar Budaya) yang berada di Pedukuhan Sungapan Dukuh, Kalurahan Argodadi, Kapanewon Sedayu milik Bapak H. Setyo Pranyoto, S.Sos pada hari Rabu, tanggal 20 September 2017 telah diselenggarakan acara Rasulan Malam 1 Syuro sekaligus Peresmian Rumah Budaya "Sanggrahan". Serangkaian acara yang digelar mulai dari prosesi kirab dengan membawa "jodang" yang berisi hasil bumi masyarakat petani, ogoh-ogoh berupa raksasa yang melambangkan sifat angkara murka (sifat jahat) yang kemudian dibakar sebagai simbol sirnanya kejahatan di muka bumi. Selanjutnya acara ditutup dengan berbagai pertunjukan kesenian yang ada di wilayah Desa Argodadi antara lain Wayang Orang dari Pedukuhan Demangan, Gejok Lesung dari Pedukuhan Sungapan, Jathilan Kudho Asmoro dari Pedukuhan Brongkol dan Chadisiswa dari Pedukuhan Sungapan Dukuh.
Acara penyambutan tahun baru Islam 1441 hijriah masyarakat menggelar adat suran, yang diisi dengan kirab budaya, mujahadah, dan pentas kesenian. Acara ini dihadiri oleh Camat Sedayu, Sarjiman, Lurah beserta pamong Desa Argodadi, Dukuh se-Desa Argodadi, tokoh masyarakat Desa Argodadi, dan warga masyarakat yang sangat antusias untuk mengikuti acara ini. Acara diawali dengan kirab yang diikuti masyarakat Dusun Sungapan Dukuh yang berasal dari 10 (sepuluh) RT, menuju Rumah Budaya/Joglo Sanggrahan, Sungapan Dukuh. Dalam kirab tersebut, masyarakat membawa aneka makanan dalam jodang, untuk acara makan bersama. Usai kirab dilanjutkan dengan mujahadah yang dipimpin oleh Rois Waluyo, dan pembacaan doa yang dipimpin oleh Setyo Pranyoto, S.Sos. Usai mujahadah dilanjutkan makan bersama, dan ditutup dengan penampilan pentas kesenian Khadisiswo dari Sungapan Dukuh, dan Jatilan dari Dusun Bakal.
Tradisi menyambut tahun baru Islam 1444 hijriah kembali digelar di Joglo Sanggrahan. Hadir dalam acara tersebut, Sekretaris Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul (Drs. Fauzan Muarifin), Lurah dan Pamong Kalurahan Argodadi, Bamuskal, dan tokoh masyarakat. Kegiatan diawali dengan kirab bregodo, diikuti warga Padukuhan Sungapan Dukuh menuju Joglo Sanggrahan, dengan dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan kesenian. Tidak ketinggalan para warga membawa jodang yang berisi berbagai makanan menuju Joglo Sanggarahan, berkumpul untuk berdoa bersama, dilanjutkan pengajian, dan diakhiri dengan makan bersama.
Kegiatan ini dilakukan dalam memperingati malam 1 Muharram 1446 hijriah. Pada kegiatan ini masyarakat memanjatkan doa bersama-sama untuk meminta perlindungan dan keselamatan agar dihindari dari marabahaya. Masyarakat setempat masih mempercayai tradisi suran mengandung cerita mistis, maka dari itu, tradisi ini harus diperingati agar masyarakat terhindar dari bala, marabahaya. Dengan adanya kegiatan ini, harapannya masyarakat Kalurahan Argodadi diberikan perlindungan dan keselamatan dari marabahaya. Masyarakat juga dapat menjalin silaturahmi dan meningkatkan solidaritas dengan adanya kegiatan ini.
Tradisi budaya malam 1 Muharram 1448 hijriah kembali digelar dan kali ini dipusatkan di lapangan Cemoro Gadhing, Sungapan Dukuh. Acara tahunan ini biasanya dipusatkan di Rumah Budaya Sanggrahan milik Bapak H. Setyo Pranyoto, S.Sos (Sungapan Dukuh). Dalam acara tersebut dihadiri oleh para pejabat dari Kapanewon, Polsek, Koramil Sedayu, Lurah Argodadi dan Pamong Argodadi, Dukuh, Unsur Kelembagaan Argodadi, Pendamping Budaya, petugas monitoring dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul, warga Sungapan Dukuh dan masyarakat sekitar yang sangat antusias untuk menyaksikan. Prosesi diawali dengan kirab budaya, star di simpang tiga TK PKK 32 Argodadi, Sungapan Dukuh ke arah barat kemudian belok ke selatan/kiri, ke timur dan kembali ke utara dan finish di lapangan Cemara Gading dari sisi Timur, di depan SDN Sungapan dengan jarak tempuh sekitar 1 km. Kirab ini dimulai pukul 20.00 wib, diikuti semua warga Sungapan Dukuh dalam kelompok RT, mulai dari RT 62 sampai dengan RT 71. Kirab dimeriahkan oleh prajurit Bregodo dengan mengenakan kostum special sikepan (baju) lurik sebagai ciri khas pakaian kaprajuritan, figur raksasa (buto) yang diarak sebagai simbol sifat jahat yang nantinya akan dibakar sebagai simbol menumpas sifat jahat tersebut. Tidak ketinggalan warga masyarakat Sungapan Dukuh yang tergabung dalam kelompok RT masing- masing dengan kostum yang bermacam-macam, sebagian kelompok tampil dengan menggotong jodang yang berisi makanan dan hasil bumi. Warga peserta kirab selanjutnya masuk ke lapangan duduk berkumpul bersama di bawah tribun masing-masing. Acara selanjutnya dimeriahkan dengan display ogoh-ogoh, penyerahan air suci dari 7 mata air kepada para tokoh masyarakat, display prajurit bregodo, amaliah tahlil (kaum Rois/Bapak Waluyo), sambutan dari Dukuh Sungapan Dukuh (Bapak Edy Nasikun S.Pd), ketua Desa Budaya (Bapak Wintala S.Pd), Lurah Argodadi (Bapak Prayitno) dan petugas Monitoring dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul (Bapak Sutarya) dan diakhiri dengan pembakaran ogoh-ogoh, makan bersama dan penutup. Acara tradisi 1 Syuro kali ini cukup lancar dan meriah di malam yang cerah berkat semangat gotong royong dan kebersamaan dari semua warga, bersatu padu, berkumpul bertekat bulat untuk melestarikan budaya warisan para leluhur. Acara ini diharapkan dapat diselenggarakan pada waktu-waktu mendatang, lebih sukses, lebih meriah dan dapat menghibur masyarakat. Acara seperti ini juga merupakan momen yang penting dan sangat bermanfaat bagi para pelaku UMKM sekitar, karena dapat memberikan peluang kepada mereka untuk dapat berjualan, demikian penuturan Dukuh Pedukuhan Sungapan Dukuh, Argodadi, Bapak Edy Nasikun S.Pd.
Pedukuhan Selogedong
Warga Dusun Selogedong Desa Argodadi menyambut tahun baru Islam 1441 hijriah dengan menggelar acara pengajian. Pengajian ini dilaksanakan di Dusun Selogedong pada hari Sabtu 31 Agustus 2019. Hadir dalam pengajian tersebut, Lurah Desa Argodadi (Bapak Prayitno), Dukuh dan warga masyarakat Dusun Selogedong, Argodadi, Sedayu, Bantul. Tausiyah disampaikan oleh Gimanto Abdul Dayat.
Tempat-tempat lain
Di beberapa tempat lain di wilayah Argodadi tradisi malam 1 Muharram 1448 hijriah dirayakan dengan berbagai kegiatan yang bersifat religius seperti sholawatan, pengajian, amaliah tahlil di masjid atau mushola dan tirakatan hingga larut malam.
Demikian gambaran sekilas tentang acara tahunan yang bernuansa tradisional dan religius yang masih eksis di Argodadi.
Terima Kasih telah membaca artikel ini, semoga bermanfaat.
Wassalam.