Seni Karawitan "Sekar Melati Rinonce"

🗓 21 June 2026 ✍ Kojrat Wiyana 👁 86x dibaca
Seni Karawitan

Seni Karawitan adalah seni menabuh gamelan secara orkestra yang menghasilkan alunan suara indah, yang secara filosofis menggambarkan kehidupan masyarakat Jawa yang penuh Harmoni dan Kebersamaan, Ngemong (Saling Menjaga) dan Kehalusan Budi Pekerti.

Seni karawitan gamelan adalah sebuah karya musik tradisional yang bernada pentatonis (slendro dan pelog) yang berasal dari Jawa dan Bali. Istilah ini berasal dari bahasa Jawa Kuno, "rawit", yang berarti halus, lembut, rumit, dan indah. Karawitan merujuk pada perpaduan yang harmonis antara permainan alat musik gamelan dan seni olah suara (vokal).

Sejarah Singkat dan Perkembangan Seni Karawitan

  • Era Kerajaan Hindu-Buddha, Karawitan tumbuh dan berkembang pesat di lingkungan kerajaan besar di Nusantara, seperti Majapahit dan Mataram. Gending dan perangkat instrumen gamelan digunakan untuk upacara adat, ritual keagamaan hingga hiburan istana.
  • Fase Akulturasi Budaya, menurut penelitian, istilah karawitan baru muncul kemudian untuk mendeskripsikan keindahan dan kelembutan musik gamelan. Kesenian karawitan ini sangat erat kaitannya dengan filosofi kehidupan masyarakat Jawa dan Sunda yang menjunjung tinggi keharmonisan.
  • Pusat-pusat Pelestarian: Saat ini, seni karawitan terus dilestarikan dan dikembangkan, salah satunya di wilayah Yogyakarta atas dukungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, serta melalui lembaga pendidikan tinggi seperti ISI Yogyakarta dan berbagai sanggar di sekitarnya.

Apresiasi Dunia

Di mata dunia, seni karawitan dan gamelan mendapat apresiasi sangat tinggi, bahkan dianggap sebagai warisan budaya adiluhung yang mempesona. Banyak bangsa lain mengagumi kompleksitas harmoninya sehingga menjadikannya sebagai materi akademis bergengsi di berbagai kampus internasional.

Berikut adalah fakta dunia mengapresiasi seni karawitan

  • Terintegrasi dalam Kurikulum Universitas Bergengsi, faktanya gamelan dipelajari secara akademis di berbagai negara seperti di Berkeley University, Amerika Serikat yang memiliki kelompok karawitan "Sari Raras", Hawai dan Michigan University menjadikan karawitan sebagai mata kuliah wajib dan pilihan.
  • Daya Tarik Komunitas Internasional, saat ini semakin banyak warga negara asing yang semakin terampil menabuh gamelan. Di Belanda, gamelan bukan sekedar sebagai hiburan, namun sudah menjadi kegiatan rutin yang populer. Di negara Jerman, ada kelompok karawitan/gamelan yang anggotanya semua warga lokal.
  • Pentas Panggung Tingkat Dunia, pertunjukan seni karawitan sering menjadi pusat perhatian dalam acara kebudayaan internasional, seperti misalnya pagelaran karawitan di New York University yang memukau audiens lintas negara.
  • Kekaguman Terhadap Filosofi: Menurut pandangan para akademisi dan musisi dunia, seni karawitan unik karena menuntut kebersamaan dan kerja sama antar penabuh. Tidak ada satupun yang lebih dominan/menonjol (solois), namun lebih mengutamakan keselarasan bunyi.

Alat Musik Gamelan

Berbicara tentang kesenian karawitan tidak lepas dari pembicaraan tentang gamelan, karena seni karawitan adalah seni tabuhan gamelan. Gamelan yang kita kenal sekarang ini diperkirakan telah ada dan berkembang di Nusantara sejak tahun 404 Masehi. Bukti sejarah awal mula alat musik ini dapat ditemukan dalam bentuk relief yang menggambarkan seperangkat instrumen gamelan pada dinding Candi Borobudur yang diperkirakan dibangun pada abad ke-8 Masehi.

Catatan Sejarah Perkembangan Gamelan

  • Asal Usul Istilah, berasal dari kata "gamel" bahasa Jawa yang berarti memukul/menabuh yang diberi akhiran "-an".
  • Mitologi Jawa, dipercaya bahwa instrumen gamelan diciptakan oleh Sang Hyang Guru, Dewa penguasa tanah Jawa dengan istananya di Gunung Mahendra.
  • Catatan Sejarah: Ensiklopedia dunia mencatat bahwa gamelan telah ada sejak zaman Hindu-Buddha pada abad ke-4 Masehi dan berkembang sangat pesat pada era Kerajaan Majapahit.
  • Bukti Visual, terdapat relief alat musik gamelan paling tua tergambar jelas di Candi Borobudur dan Candi Prambanan pada abad ke-8 hingga abad ke-9.

Filosofi Gamelan

Selaras dengan filosofi karawitan, gamelan adalah cerminan filosofi kehidupan masyarakat Jawa yang sangat menjunjung tinggi asas kebersamaan, keharmonisan, pengendalian diri, dan keseimbangan. Setiap instrumen yang dimainkan secara ansambel (bersama-sama) melambangkan suasana kehidupan sosial, di mana tidak ada satu alat musik yang lebih dominan melainkan saling melengkapi untuk menciptakan alunan yang indah.

Gamelan Resmi Diakui oleh UNESCO

Gamelan telah resmi diakui dan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage) oleh UNESCO pada 15 Desember 2021. Instrumen musik tradisional kebanggaan Indonesia ini menjadi warisan budaya ke-12 yang masuk dalam daftar prestisius UNESCO.

Fakta Penting Pengakuan Gamelan Indonesia

  • Sidang Penetapan, pengakuan ini telah ditetapkan dalam sebuah Sidang Komite Antar pemerintah untuk Warisan Budaya Takbenda UNESCO sesi ke-16 yang digelar di Paris, Prancis.
  • Nilai Filosofis, UNESCO mengakui bahwa gamelan bukan sekadar alat musik biasa, namun sebagai ekspresi budaya dan media untuk membangun hubungan antara manusia dan semesta. Gamelan yang dimainkan secara orkestra mengajarkan nilai-nilai harmoni, saling menghormati, kepedulian, dan kebersamaan.
  • Pewarisan Budaya, musik gamelan ini diturunkan dari generasi ke generasi melalui sistem pendidikan informal maupun formal (seperti di sanggar atau institusi seni).

Kapan Gamelan Ditabuh

Pada zaman dahulu, gamelan tidak hanya ditabuh sebagai pentas hiburan, namun digunakan sebagai media syiar agama, upacara sakral, dan penanda waktu kerajaan. Gamelan pusaka keraton (seperangkat gamelan yang bernilai sakral) hanya dibunyikan pada momen-momen tertentu yang sangat penting dan hanya ditabuh pada acara-acara khusus berikut.

  1. Perayaan Sekaten (Grebeg Mulud), sebagai momen yang paling ikonik. Gamelan khusus, Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari di Yogyakarta hanya ditabuh selama sepekan, yakni pada tanggal 6 hingga 11 bulan Mulud (Rabiul Awal) dalam kalender Jawa untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi Grebeg Maulud sudah ada sejak era Kerajaan Demak pada abad ke-15. Tradisi ini digunakan oleh Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga, sebagai sarana dakwah penyebaran ajaran Islam melalui akulturasi budaya Jawa.
  2. Upacara Penobatan dan Hajat Dalem, gamelan juga ditabuh secara khusus pada acara penobatan raja baru (Jumenengan), peringatan kenaikan tahta, atau upacara ritual kerajaan lainnya.
  3. Wiyosan Dalem (peringatan hari kelahiran Sri Sultan), dikumandangkan dalam pergelaran khusus yang disebut Uyon-Uyon Hadiluhung. Pagelaran ini dilaksanakan oleh kerabat dan Abdi Dalem Kridhamardawa yang bertanggung jawab penuh dalam pelestarian dan pengembangan seni pertunjukan, seperti tari (beksa), karawitan, musik, dan pewayangan dengan menyajikan gending-gending klasik, terkadang diiringi tari-tarian sakral keraton.
  4. Pentas Harian Keraton, pertunjukan gamelan, wayang, dan tari yang dipentaskan setiap hari Senin hingga Kamis di Bangsal Sri Manganti, Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Selain itu juga ada tabuhan gamelan yang diselenggarakan di Museum Sonobudoyo, Plaza Ngasem, Taman Embung Giwangan atau Yogyakarta Gamelan Festival setiap bulan.
  5. Ritual dan Pertunjukan Tradisional ( di Luar Keraton), tabuhan gamelan digunakan sebagai pengiring upacara adat, tari-tarian sakral, dan pertunjukan wayang kulit yang sering kali diselenggarakan semalam suntuk.

Gamelan Sebagai Iringan Kesenian Tradisional dan Ritual

  • Berbagai Seni Tari, sebagai iringan tarian klasik Tari Gambyong, Bedhaya, Serimpi, hingga tari kreasi baru dan tari rakyat seperti Tari Gandrung.
  • Pertunjukan Wayang, sebagai iringan pentas Wayang Kulit, Wayang Golek, dan Wayang Orang.
  • Upacara Ritual dan Adat, sebagai musik sakral dalam acara Upacara Sekaten, Bersih Desa, Pernikahan Adat, dan Upacara Kematian.
  • Drama dan Teater,  gamelan untuk mengiringi teater tradisional daerah, Ketoprak, Ludruk, dan Lenong.

Seni Karawitan "Sekar Melati Rinonce"

Berdiri sejak tahung 1997, di Pedukuhan Sungapan, Kalurahan Argodadi, Kapanewon Sedayu oleh Bapak Listiya Purwa Kaliyanta (pemilik/pengurus), yang sekarang menjabat sebagai Kaur Tata Laksana Kalurahan Argodadi. Beliau berniat mendirikan kelompok karawitan ini karena mengemban amanah dari Sang Ibu yang mempunyai warisan dari orang tuanya (eyang Bapak Listiya Purwa Kaliyanta), seperangkat gamelan slendro pelog buatan tahun 1930 disamping juga merasa terpanggil untuk ikut serta melestarikan budaya tradisional warisan nenek moyang yang adiluhung ini. Seni karawitan ini diawali dengan kegiatan latihan menabuh yang diikuti oleh 20 orang kadang lebih, termasuk 3-4 orang penyanyi/sinden dari warga sekitar dan luar Argodadi. Lambat laun para penabuh makin terampil menambuh dengan baik tanpa bimbingan pelatih. Seni karawitan uyon-uyon ini berlanjut pentas secara rutin pada setiap malam Selasa Kliwon (35 hari sekali) mulai pukul 20.00 hingga pukul 24.00, melanjutkan tradisi Eyangnya, pemilik gamelan. Seni karawitan ini juga pernah digelar untuk mengiringi pentas wayang kulit pada tanggal 1 Syuro sebagai wujud rasa syukur dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar senantiasa melimpahkan keselamatan, ketentraman dan kebahagiaan kepada masyarakat. Acara ini menjadi potensi hiburan bagi masyarakat dan potensi pasar bagi padagang untuk lebih menggiatkan ekonomi UMKM. Sedangkan nama Sekar Melati Rinonce dipilih sebagai wujud doa dan agar selalu ingat dan berbakti kepada yang telah memberikan.

Sebagai wujud komitmen untuk mendukung pelestarian budaya yang adiluhung ini, masih ada beberapa kelompok karawitan di Kalurahan Argodadi yang masih eksis dan terus berkembang sampai sekarang, antara lain:

  1. Kelompok Karawitan "Putri Wiromo Laras" milik Kalurahan Argodadi.
  2. Kelompok Karawitan "Manggolo Laras" milik Pedukuhan Brongkol.
  3. Kelompok Karawitan "Sekar Melati Rinonce" milik Bapak Listiya Purwa Kaliyanta, Pedukuhan Sungapan.
  4. Kelompok Karawitan Pedukuhan Kadibeso.
  5. Kelompok Karawitan Demangan.

Seni karawitan yang adiluhung dan sarat dengan nilai filosofi ini semoga tetap lestari dan terus berkembang di masa yang akan datang. Terima Kasih semoga bermanfaat.

Wassalam

Artikel Terkait

← Kembali ke Berita