Surjan Lurik

🗓 01 June 2026 ✍ Kojrat Wiyana 👁 75x dibaca
Surjan Lurik

Surjan Lurik adalah busana adat Yogyakarta untuk laki-laki yang sarat filosofi, dirancang oleh Sunan Kalijaga untuk mengatasi ketimpangan sosial yang terjadi di kalangan masyarakat Majapahit.

Surjan adalah busana hasil karya Sunan Kalijaga sebagai busana resmi atau (baju) adat Jawa untuk laki-laki. Bahan dasar Surjan pada umumnya adalah kain tenun Lurik, meskipun ada juga yang bermotif bunga atau tanpa motif/polos. Sunan Kalijaga menganggap bahwa ada ketimpangan sosial yang terjadi di kalangan masyarakat Majapahit, karena masyarakat kasta bawah tidak mengenakan pakaian atasan (baju) sehingga dibuatlah baju atasan dengan tujuan sebagai penutup aurat. Pakaian Surjan, Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata  "Surjan" berarti baju jas laki-laki khas jawa berkerah tegak; berlengan panjang, terbuat dari bahan lurik atau cita berkembang. Busana Surjan pada masa Kerajaan Majapahit dikenal sebagai salah satu busana adat dan cikal bakal pakaian takwa. Pakaian ini diyakini diciptakan pada masa transisi Kerajaan Majapahit menuju Kesultanan Demak oleh Sunan Kalijaga untuk menutup aurat dan untuk mengatasi ketimpangan sosial masyarakat.

Sejarah dan Makna Surjan Majapahit

Rancangan busana surjan tentu saja tidak lepas kaitannya dengan olah pikir para pendahulu sehingga segala bentuk karya mengandung makna yang dalam sekaligus untuk mengedukasi masyarakat.

  • Filosofi Sunan Kalijaga: Pada akhir era Kerajaan Majapahit, strata masyarakat bawah sering tidak mengenakan busana atasan sehingga Sunan Kalijaga merancang surjan sebagai busana yang merakyat namun sarat akan nilai-nilai spiritual.
  • Asal -Usul Kata: Kata "Surjan" berasal dari kata serapan bahasa Arab "sirojan" atau "sirojan munira" yang berarti pelita atau cahaya penerang.
  • Kancing Dada: Kancing di dada kiri dan kanan melambangkan dua kalimat syahadat.
  • Kancing Leher: Surjan memiliki filosofi tinggi, seperti 6 kancing di bagian leher yang merepresentasikan Rukun Iman.
  • Potongan Kerah yang Tegak: Mempunyai makna agar manusia selalu ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  • Motif Lurik: Bahan dengan motif garis-garis (lurik) sebagai simbol kesederhanaan. Pada zaman dahulu, semakin besar ukuran motif lurik, semakin tinggi pula jabatan pemakainya di lingkungan keraton. Kain Lurik merupakan salah satu budaya kain tenun yang diwariskan sejak zaman Majapahit dan tetap lestari hingga sekarang.

Jenis-Jenis Surjan:

  • Surjan Lurik: Bermotif garis-garis, umumnya dipakai oleh rakyat biasa, abdi dalem, dan bragada/prajurit kraton.
  • Surjan Ontrokusuma: Bermotif bunga atau taburan emas/megah, dikhususkan bagi para raja, bangsawan, dan kerabat keraton.

Surjan Sebagai Pelengkap Busana Adat Yogyakarta

Busana adat Yogyakarta selain sebagai busana baku bagi abdi dalem keraton Yogyakarta juga sering dipakai pada acara-acara tradisional seperti acara hajatan, kirab, perayaan, pentas seni tradisioanal. Mulai tahun 2016, pakaian tradisional adat Jawa ini wajib dikenakan di kalangan ASN, pelajar pada setiap hari Kamis Pahing yang kemudian diubah menjadi hari Kamis Pon menepati hari resmi berdirinya Kesultanan Yogyakarta atau Hadeging Nagari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada 13 Maret 1755. Busana/pakaian adat lengkap untuk laki-laki meliputi surjan, kain jarik batik (bawahan), blangkon (penutup kepala), dan keris.

Penggunaan surjan lurik bagi bregada/prajurit keraton:

  • Bregada yang Memakai Lurik: Ada empat bregada utama yang menggunakan seragam bermotif lurik, yaitu Bregada Ketanggung, Patangpuluh, Mantrijero, dan Jagakarya. Pada umumnya motif yang dipakai adalah Lurik Ginggang, sebagai simbol kesederhanaan dan kesetiaan.
  • Makna Ukuran Garis: Ukuran garis pada surjan lurik mempunyai makna semakin besar ukurannya, semakin tinggi pula pangkat atau jabatan pemakainya.
  • Pembeda Antar Bregada: Bregada biasanya dilengkapi dengan atribut tambahan seperti warna celana, topi (seperti songkok atau mancungan), dan kaos kaki untuk membedakan kesatuannya.

Demikian ulasan sekilas tentang busana surjan sebagai pakaian adat Jawa gagrag Yogyakarta yang merupakan warisan budaya nenek moyang yang perlu dilestarikan.

Terima Kasih telah membaca artikel ini, semoga bermanfaat.

Wassalam

Artikel Terkait

← Kembali ke Berita