Suka duka dan rintangan bagi seorang pengusaha sebelum mencapai puncak kesuksesan bukanlah sebuah rahasia. Enak diceritakan ketika sudah dilewati. Begitu juga apa oleh Bapak Poniman, yang beralamat di Pedukuhan Kadibeso, Argodadi ini, seorang pengrajin/pembuat blangkon ini. Blangkon adalah penutup kepala tradisional pria Jawa yang terbuat dari kain batik, dibentuk menjadi topi siap pakai. Berasal dari kata "blangko" (siap pakai), blangkon merupakan evolusi dari iket yang melambangkan pengendalian diri dan simbol kebijaksanaan. Umumnya, blangkon terbagi dua, yaitu gaya Yogyakarta (dengan mondolan/tonjolan) dan Surakarta (datar/trepes). Blangkon merupakan bagian dari seperangkat pakaian adat Jawa, Jogjakarta dan Solo, yang biasa dikenakan masyarakat dalam acara-acara tradisional hingga sebagai pakaian kebesaran kerabat Kraton. Sudah diakui bahwa pakaian adat Jawa bukan hanya sekadar penutup tubuh, melainkan lebih sebagai simbol kebesaran, status sosial, dan kearifan lokal yang sarat filosofi. Pakain adat Jawa ini mulai ada sejak jaman Mataram Islam pada abad 16-18 Masehi. Awalnya, busana ini merupakan pakaian eksklusif untuk kalangan keraton, bangsawan, dan abdi dalem sebagai penanda status sosial namun sekarang digunakan oleh seluruh kalangan masyarakat dalam acara-acara khusus dan juga sebagai bentuk pelestarian budaya tradisional. Sehingga tradisi budaya ini pantas untuk dilestarikan khususnya di lingkungan masyarakat Yogyakarta. Berangkat dari rasa kekhawatiran akan kepunahan budaya ini Bapak Poniman bertekat ikut andil untuk melestarikannya disamping sebagai sarana untuk merintis profesi.
Bertekat membuat blangkon sejak usia 9 tahun sebagai pahlawan keluarga
Dapat dibayangkan betapa hebatnya tekat seorang anak yang mestinya sedang senang-senangnya menikmati masa bermain bersama teman-teman sebaya, pada tahun 1983 dia harus berhenti belajar ketika berada di bangku kelas III Sekolah Dasar karena kondisi keluarga yang tidak mendukung, sang Ibu meninggal dunia, sang Ayah pergi meninggalkan rumah, sementara 2 adiknya yang masih harus diasuh tinggal bersamanya. Praktis dia menjadi tulang punggung keluarga. Bayangkan seorang anak yang baru berumur 9 tahun harus menghidupi dirinya sendiri dan kedua adiknya. Bersyukur tetapi bagi dia, bukannya putus asa, justru dalam kondisi seperti ini menjadi motivasi, dia mampu bangkit dari keterpurukan yang paling dalam menjadi seorang Pahlawan dalam keluarga. Sungguh luar biasa!! Mungkin hanya satu dari seratus orang yang dapat melakukannya. Tanpa pikir panjang sebagai seorang kakak yang harus bertanggung jawab dia bertekat untuk tetap survive. Dia harus ikhlas meninggalkan bangku sekolah dan seolah tak bergeming dengan dunia bermain yang mestinya menjadi masa indah dalam hidupnya. Dia memilih bermain-main dengan kain, jarum dan benang belajar membuat blangkon. Ini sebuah piilhan yang paling sulit baginya dan tak bisa ditawar lagi, namun itu bukanlah sebuah penyesalan bagi dia, justru menjadi kenangan pahit yang menjadi buah manis di kelak kemudian hari. Awalnya dia bermain dengan kawan-kawannya yang salah satunya dari keluarga pengrajin blangkon di daerah Bugisan Yogyakarta. Untuk dapat membuat blangkon bagi kebanyakan orang bukanlah hal yang mudah karena harus dengan belajar dan berlatih. Dalam kurun waktu kurang dari 1 minggu, tidak sia-sia, dia mampu membuat blangkon. Merasa lega tentu saja bagi dia karena target pertamanya tercapai, mendapatkan upah untuk menghidupi adik-adiknya di rumah. Ini suatu kepuasan tersendiri tentunya. Hari demi hari dia lalui dan akhirnya dia terampil membuat blangkon. Profesi ini dilakukan selama kurang lebih 15 tahun dan karena alasan pendapatan yang kurang mencukupi akhirnya dia beralih profesi sebagai tukang tebang kayu bersama orang lain. Namun profesi inipun akhirnya dia tinggalkan karena kondisi badannya yang sakit tidak kuat lagi untuk menggotong kayu yang besar. Bahkan bertahun-tahun dia harus tidak bisa bekerja seperti semula, menjadi tukang tebang kayu. Tentu ini menjadi masalah baru bagi dia, bagaimana dia harus menghidupi anak istrinya agar tetap survive. Hari demi hari dia renungi, teringatlah pada profesi terdahulu "menjadi pengrajin blangkon", sehingga pada tahun 2020 dia bertekat kembali ke seorang pengusaha blangkon di Kawasan Bugisan Yogyakarta. Dengan sisa-sisa ketrampilan yang masih ada, hanya dalam waktu 3 hari dia mampu membuat blangkon hingga sekarang, selamatlah keluarganya.
Blangkon karya Bapak Poniman (Galih Blangkon)
Blangkon memiliki beberapa model yang umumnya dibedakan berdasarkan gaya daerahnya asalnya (Yogyakarta, Surakarta, Sunda, Banyumasan. Perbedaan utama terletak pada bagian belakang (mondolan)-pipih atau menonjol- serta motif batiknya. Modelnya meliputi tipe klasik (kuncung/mondol) hingga modern (lipat). Bapak Poniman mampu membuat berbagai model blangkon sesuai permintaan pelanggan. Berdasarkan cara pembuatannya, blangkon dibedakan menjadi 2, yaitu blangkon koden dan blangkon custome atau handmade. Blangkon koden adalah istilah untuk blangkon yang dibuat dengan kualitas standar atau paling murah dan diproduksi secara massal. Blangkon ini biasanya diproduksi untuk segmen pasar kelas bawah atau dijual di pasar tradisional atau di tempat wisata sebagai souvenir. Dalam pembuatan blangkon koden ini digunakan bahan karton yang dipasang bagian dalam dan dijahit dengan kain pelapis bagian dalam sehingga blangkon ini tidak bisa dilipat atau dicuci. Berbeda dengan blangkon premium yang dibuat secara custome atau hand-made dengan detail yang halus. Bahan yang digunakan juga berbeda, yang pertama biasanya kualitas kainnya yang halus dan tidak luntur. Bahan pelapis didalamnya sebagai kerangka adalah kain kasa sehingga blangkon dapat dilipat dan dicuci. Harga blangkon sangat bervariasi mulai dari Rp 80.000; (koden) hingga jutaan rupiah (custome) yang biasanya dipesan oleh pejabat atau seniman dalang.
Suka duka sebagai pengrajin blangkon
Untuk membuat blangkon ini sebenarnya bukanlah pekerjaan yang sulit dan berat secara fisik. Pekerjaan yang bisa dilakukan oleh orang kebanyakan tidak perlu skill yang tinggi. Hanya saja diperlukan ketekunan tingkat tinggi karena pekerja harus duduk berlama-lama. Untuk bisa membuat blangkon orang bisa belajar dimulai dengan mengamati kemudian praktik dan dalam waktu tidak sampai 1 minggu orang sudah mampu membuat blangkon. Semakin lama orang akan semakin terampil membuat blangkon. Sekarang ini Bapak Galih sudah dapat dikatakan terampil dan mampu membuat blangkon 8-10 buah jenis koden dan hanya 1 buah blangkon jenis custome. Untuk suka dan dukanya sebagai pengrajin blangkon, Bapak Galih ini mengatakan banyak sukanya, pekerjaan yang bisa dinikmati. Sedangkan dukanya adalah ketika banyak pelanggan yang semuanya ingin cepat jadi, persoalannya adalah pada dukungan tenaga kerja karena Bapak ini masih bekerja sendiri tanpa pembantu atau karyawan.
Permintaan pasar yang stabil
Berbicara permintaan pasar, kebutuhan akan produk ini bisa dikatakan stabil sehingga Bapak Poniman tidak pernah menganggur, permintaan akan blangkon tidak pernah sepi karena pemasarannya masih menjadi tanggung jawab pengusaha (juragan). Jadi dengan kata lain Bapak Poniman ini adalah sebagai karyawan sehingga semua bahan dan alat sudah disediakan, kecuali ada pesanan dari pelanggan pribadi semua dilayani sesuai permintaan. Ada 2 macam bahan kain yang disediakan oleh juragan, yang pertama adalah bahan kain yang dilipat/diwiru (bagian luar) dan bahan untuk bagian dalam yang sudah dijahit bersama lapisan penguat (karton atau kain kasa). Bapak ini membuat blangkon sistem borongan. Dalam kurun waktu satu minggu Bapak Poniman mampu membuat 40 hingga 60 blangkon koden. Permintaan pasar melonjak biasanya pada bulan-bulan menjelang bulan besar, bulan baik untuk hajatan atau menjelang tahun ajaran baru.
Terima Kasih telah membaca artikel ini.
Wassalam