Tanaman Padi (Oryza sativa L.) Desa Argodadi

🗓 08 May 2026 ✍ Kojrat Wiyana 👁 134x dibaca
Tanaman Padi (Oryza sativa L.) Desa Argodadi

Sejauh mata memandang, terlihat hamparan sawah di beberapa wilayah Desa Argodadi. Tanaman padi sudah mulai menguning sebagai pertanda terwujudnya sebuah harapan yang telah ditunggu-tunggu selama berbulan-bulan bagi kaum tani di pedesaan. Apalagi jika bulir-bulir padinya nampak padat, penuh isi semua ujungnya melengkung ke bawah dengan warna kuning keemasan, tidak ada satupun yang tegak berdiri itu pertanda hasil panen melimpah. Inilah jenis tanaman andalan bagi sebagian besar warga Desa Argodadi yang notabenenya adalah petani. Tanaman padi ini adalah jenis tanaman sejak jaman nenek moyang karena sebagai sumber makanan pokok mayoritas penduduk Indonesia yang menyediakan karbohidrat dan energi.

Varitas unggulan yang ditanam

Warga tani di Desa Argodadi sekarang ini memilih menanam varitas padi unggul di Indonesia (2025-2026) yang berfocus pada produktivitas tinggi ( di atas 10 ton/ha), ketahanan terhadap hama/penyakit, dan umur genjah (cepat panen). Varietas populer meliputi Inpari 32 (tahan hawar), Inpari 42, Sidenuk, Mekongga, Ciherang, Hibrida seperti Mapan P-05 dan Kalimasada yang potensinya mencapai 12 ton/ha. Pilihan varitas itu tentu saja juga karena berbagai pertimbangan. Berikut sedikit ulasan tentang perbedaannya.

Varietas Inpari 32 dan 42 adalah beni padi unggul irigasi dengan potensi hasil tinggi (6-12 ton/ha) dan anakan banyak. Inpari 32 unggul dalam ketahanan penyakit HDB dan rasa nasi pulen, tapi rawan rebah. Inpari 42 (tipe Green Super Rice) lebih tahan rebah, tahan wereng, dan tahan kekeringan, namun rentan jamur saat musim hujan.

Berikut adalah perbandingan rinci antara varietas Inpari 32 dan Inpari 42:

1. Inpari 32 HDB (Hawar Daun Bakteri)

   - Keunggulan: Tahan terhadap penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB/blight) ras III, IV, dan VIII. Rasa nasi pulen, mirip Ciherang.

   - Karakteristik: Anakan produktif tinggi (mencapai 27 per rumpun). Batang cukup kuat, tapi masih rawan rebah.

   - Kelemahan: Rentan terhadap hama wereng batang coklat penyakit hawar daun bakteri pada kondisi tertentu.

2. Inpari 42 Agritan GSR (Green Super Rice)

   - Keunggulan: Tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri, wereng batang coklat biotipe 1,2, dan 3, serta lebih toleran terhadap kekeringan. Batang lebih kokoh sehingga tidak mudah rebah.

   - Karakteristik: Umur panen sekitar 112 hari. Bentuk gabah ramping, kecil, dan lancip. Anakan mencapai 25 produktif per rumpun.

   - Kelemahan: Cenderung rentan terkena jamur oncom/ustilago saat musim hujan.

   - Cocok untuk: Lahan irigasi yang rawan serangan wereng atau daerah dengan resiko kekurangan air.

Lahan menjadi benteng dalam ketahanan pangan di Desa Argodadi

Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara hingga perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, aman, bergizi, merata, dan terjangkau. Ini mencakup ketersediaan fisik, akses ekonomi serta pemanfaatan pangan yang berkelanjutan  untuk hidup sehat dan produktif. Pilar utamanya meliputi ketersediaan, distribusi, dan konsumsi. Berbicara ketahanan berarti terkait dengan tingkat ketersediaannya. Berdasarkan data dari Desa Argodadi jumlah penduduk adalah 11.402 jiwa. Jumlah kebutuhan beras per kapita adalah 90-130 kg per tahun. Jadi kebutuhan beras untuk seluruh warga Argodadi per tahun adalah 90 kg x 11.402 = 1.026.180 kg. Sedangkan luas lahan sawah dari 14 pedukuhan adalah 215 ha. Dalam satu kali panen akan diperoleh hasil 6000 kg x 215 ha = 1.290.000 kg gabah dengan asumsi hasil panen adalah 6 ton gabah kering giling per ha. Dari gabah kering giling (gkg) tersebut akan diperoleh beras sebanyak 60% x 1.290.000 kg hasilnya adalah 774.000 kg beras dalam satu kali tanam. Jika dalam setahun bisa menanam padi 2 kali maka diperoleh beras kurang lebih 1.548.000 kg. Sedangkan kebutuhan beras untuk seluruh warga Argodadi adalah 1.026.180 kg, kesimpulannya adalah mencukupi bahkan surplus. Angka-angka di atas adalah hasil perhitungan secara kasar tentu saja, pada kenyataannya bisa kurang bisa lebih. Karena hasil panen sangat dipengaruhi banyak faktor, uraian di atas adalah jika kondisinya normative. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah kebutuhan orang itu hanya beras ? Tentu saja tidak. Untuk memenuhi kebutuhan makan selain beras yang mungkin lebih banyak orang harus berinovasi dalam bertani dengan sistem tumpangsari dan memanfaatkan musim tanam ketiga (periode tanam Juli/Agustus - Oktober) untuk tanaman palawija, sayur - sayuran dll untuk menghadapi jikalau krisis pangan benar-benar terjadi.

Menanam padi sebagai mata pencaharian

Sudah sewajarnya jika sebagian penduduk Desa Argodadi memilih bertani sebagai pekerjaan karena memang wilayah Argodadi adalah wilayah pedesaan. Luas wilayah Desa Argodadi adalah 10.676 km2 atau kalau dikonversi menjadi 1.000.676 ha, terdiri dari 215 ha (2,01%) berupa lahan sawah sisanya adalah wilayah pedesaan dan sebagian berupa perbukitan yang dimanfaatkan untuk perkebunan, peternakan dan lain-lain. Angka yang terlalu kecil sebenarnya jika dibandingkan dengan luas wilayah keseluruhan. Sehingga jumlah keseluruhan petani hanya sebanyak 847 orang dari jumlah penduduk 11.402 jiwa atau hanya 7,43%, menurut data penduduk Argodadi pada semester I tahun 2025. Mereka meliputi petani pemilik sawah dan penggarap. Sisanya praktis berprofesi lain seperti pegawai, pedagang, pengrajin, buruh dan lain-lain. Dengan melihat profil penduduk beserta pekerjaan, untuk segera mendongkrak tingkat kesejahteraan masyarakat Argodadi di masa depan, Desa ini perlu perhatian lebih serius, perlu strategi baru sebagai solusi misalnya dengan cara menggali dan mengembangkan potensi desa yang lain. Semoga!!!

Terima kasih telah membaca artikel ini.

Wassalam

Artikel Terkait

← Kembali ke Berita