Sejarah Perahu Rakit atau "Gethek" sejak zaman Prasejarah
Perahu rakit atau perahu "gethek" dalam bahasa Jawa, merupakan bentuk transportasi air paling dasar tanpa lambung, yang dibuat dengan mengikat atau menyambungkan material ringan dan mengapung seperti bambu, batang pohon, atau buluh. Perahu rakit ini sudah ada sejak zaman nenek moyang. Berikut penelusuran sejarahnya yang lebih rinci:
Sungai Progo Sebagai Benteng Pertahanan Pasukan Pangeran Diponegoro
Pada masa perang Pangeran Diponegoro selama Perang Jawa (1825-1830) Sungai Progo berfungsi sebagai benteng pertahanan alam yang krusial dan rute gerilya. Sungai ini berulang kali menjadi batas wilayah pertempuran, lokasi penyeberangan dramatis yang menghindari kejaran Belanda, hingga titik perkemahan bersejarah.
Berikut adalah catatan sejarah penting Kali Progo dalam perang Diponegoro:
Sejarah Kali Progo, Jembatan dan Perahu Penyeberangan Bantul-Kulon Progo
Kabupaten Bantul dan Kulon Progo secara geografis dipisahkan oleh Sungai Progo dari ujung utara Sedayu hingga ujung selatan Srandakan/Trisik kurang lebih sepanjang 20 km. Kali Progo adalah sungai yang mengaliri provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta di Indonesia menjadi batas alami Bantul dan Kulon Progo. Hulu terjauh Kali Progo berada di lereng timur laut hingga tenggara Gunung Sindoro yang bertemu dengan aliran lereng barat laut Gunung Sumbing yang melintasi daerah Parakan ke arah tenggara laut ke selatan sepanjang 140 km. Pada jaman dahulu hanya ada dua jembatan penghubung yaitu jembatan Bantar yang selesai dan resmi dibuka tanggal 17 Juni 1929 dan jembatan Brosot-Srandakan diresmikan pada 12 Juni 1952. Selanjutnya Taman Bendungan Sudo/Sapon dibangun tahun 2005 jalur transportasi roda 2, Taman Bendung Kamijoro dibangun tahun 2016, dan pada tahun 2026 dibangun satu jembatan baru (Kabanaran) di JJLS. Dapat dibayangkan betapa sulitnya akses mobilisasi bagi penduduk yang tinggal di Ngentakrejo Kulon Progo jika harus ke kota Jogja, atau para pedagang yang mau ke pasar Bantul, jauh dari jembatan Bantar atau Brosot mereka harus berjalan puluhan kilo untuk dapat sampai ke tujuan, atau sebaliknya orang timur sungai yang mau ke Kulon Progo. Namun dengan dibangunnya jalur transportasi air dengan perahu rakit (gethek) ini dapat memperlancar akses perjalanan terlebih bagi para pedagang yang dampaknya sangat dirasakan. Ada tiga titik penyeberangan yang dibangun waktu itu. Pertama, penyeberangan Ringin, transportasi Mangir (Bantul) - Ngentakrejo (Kulon Progo), kedua penyeberangan Temben, transportasi Manukan - Ngentakrejo, Ketiga Kali Nambangan (sekarang Praon Cawan), menghubungkan Cawan, Argodadi dengan Salamrejo, Sentolo.
Praon Cawan Adalah "Kali Nambangan" Tempo Dulu yang Legendaris
Praktik penyeberangan dengan rakit ini pada dasarnya sudah ada semenjak zaman kerajaan Mataram. Kali Nambangan adalah sebutan sebuah penyeberangan yang berada di Pedukuhan Cawan, Argodadi sejak tempo dulu. Kali Nambangan ini tentu saja sangat vital karena digunakan oleh warga sekitar untuk mendapatkan akses lebih dekat, lebar Kali Progo hanya sekitar 250 meter, dibanding perjalanan melewati jembatan Bantar yang kurang lebih berjarak 5 km untuk mencapai tujuan yang sama. Jalur penyeberangan disinyalir ada kaitan erat dengan Sejarah Makam Niten di Cawan, Argodadi (Sedayu) dan Dusun Cawan, yang merupakan kawasan jejak perlintasan transportasi air yang penting sejak era Kerajaan Mataram.
Sejarah dan Cikal Bakal Kawasan Cawan-Niten:
Praktik penyeberangan di Kali Penambangan ini masih berlangsung hingga tahun 1990-an yang digunakan oleh para pelajar, pegawai, pedagang dan sebagainya. Namun seiring berjalannya waktu, lokasi penyeberangan ini kini telah dikembangkan menjadi sebuah kawasan wisata budaya mulai tahun 2018 dengan sebutan Praon Cawan karena berlokasi di Pedukuhan Cawan, Argodadi.
Praon Cawan, Wahana Wisata Air yang Eksotik
Seiring dengan dinamika kehidupan masyarakat, Praon Cawan kini sudah tidak lagi menjadi jalur transportasi air utama penghubung Bantul-Kulon Progo bagi masyarakat, namun hanya kadang-kadang saja untuk kepentingan sosial ke seberang sungai. Selanjutnya karena sarat dengan nilai historis dan lingkungan alamnya yang eksotik, Praon Cawan dikembangkan menjadi sebuah destinasi wisata alam sejak tahun 2018 dengan berbagai fasilitas dan sarana prasarana yang diperlukan. Destinasi wisata ini sangat mudah dijangkau dengan kenderaan bermotor roda 2 atau 4 melalui jalan beraspal sampai tujuan karena hanya berjarak 5 km dari jalan Wates km 13 ke arah selatan. Berikut berbagai wahana wisata yang ditawarkan di Praon Cawan.
Praon Cawan, Spot Wisata Alam yang Ideal untuk Healing
Seperti sungai pada umumnya, Kali Progo di pedukuhan Cawan mempunyai bantaran sungai yang landai dan cukup luas. Orang yang datang dapat menikmati view Kali Progo dengan nyaman dan aman. Sejauh mata memandang dari selatan sampai utara membentang tebing Kali Progo di bawah rimbunnya pepohonan yang menghijau, sebuah pemandangan yang sayang untuk dilewatkan. Bagi mereka yang kesehariannya tinggal di kawasan perkotaan yang padat, bising, pengap dengan udara yang tercemar karbonmonoksida, tempat ini menjadi pilihan yang tepat sebagai tempat untuk healing bersama teman dan keluarga karena mereka dapat dengan leluasa menghirup oksigen bersama hembusan angin sepoi-sepoi di antara pepohonan sekitar yang masih lebat. Selain pemandangan alam yang mempesona, suara aliran sungai juga dipercaya sebagai sarana terapi suara air karena efeknya yang menenangkan. Terapi suara air adalah jenis terapi relaksasi yang populer. Diperkirakan bahwa frekuensi dan ritme suara air yang mengalir, seperti suara hujan, ombak di pantai, atau sungai, dapat membantu menenangkan tubuh dan pikiran. Suara air sungai yang mengalir di sela-sela gundukan bebatuan yang bersatu dengan suara pohon bambu yang tertiup angin dan suara kicau burung menjadi sebuah harmoni alam yang semakin menambah suasana yang menyejukkan hati dan pikiran kembali fresh.
Taman Bunga dan Gazebo Menjadi Spot Foto Kenangan
Belum lengkap kiranya jika pengunjung belum mengabadikan momen-momen indahnya dengan sejumlah foto kenangan. Taman bunga yang ditata sedemikian rupa bersama gazebo bambu dengan atap ilalangnya yang bernuansa natural memberikan kesan seolah kita berada dalam kehidupan alam tempo dulu yang natural, asri penuh harmoni. Terlebih lagi pesona indah Kali Progo dapat menjadi latar belakang foto kenangan yang tak akan pernah terlupakan. Gundukan bebatuan yang meliuk-liuk diterjang oleh derasnya aliran air membentuk gelombang air yang berkilau-kilau kehijauan dan menjadi pemandangan yang langka dan sungguh menakjubkan.
Pendhopo Bambu yang Natural dan Multifungsi
Seakan sudah menjadi tuntutan bahwa di sebuah spot wisata harus dilengkapi oleh bangunan yang ikonik dan berfungsi sebagai tempat berkumpul yang nyaman, indah dan asri. Ada 2 buah pendhopo yang telah berdiri di Praon Cawan. Pertama pendhopo bambu yang berukuran 10 x 15 meter dengan kapasitas 50-60 orang yang sengaja dirancang untuk berbagai acara-acara seremonial mulai dari acara perayaan, sosialisasi, rapat, upacara adat (baritan) hingga pentas seni. Yang kedua pendhopo yang berukuran 3 x 5 meter dengan kapasitas 25 orang. Pendhopo ini bisa disewa setiap saat, lengkap dengan fasilitas tikar dan sound system/wireless. Jikalau pengunjung menyewa kedua pendhopo ini sekaligus, mereka akan diberi bonus free charge toilet dan parkir kendaraan. Semenjak dibangun, pendhopo ini pernah digunakan sebagai tempat rekaman video untuk program tayangan televisi Sabadesa TVRI Jogja di lokasi wisata Praon Cawan, Argodadi, Sedayu, Bantul, Senin (20-9-2021) dengan mengangkat tema tentang wisata budaya yang sedang dikembangkan di Praon Cawan yang di pandu oleh Angger Suwongso dan dihadiri Wakil Bupati Bantul, Joko B.Purnomo, yang diadakan untuk meningkatkan daya tarik wisata seiring dengan status Kalurahan Argodadi sebagai Desa Rintisan Budaya. Praon Cawan juga pernah menjadi Lokasi shooting video lagu Praon Cawan (Official Music Video) dengan penyanyi Yossie Riyani pada tanggal 9 November 2021.
Berbagai Wahana Wisata Air yang Ditawarkan
Perahu rakit ala getheknya Joko Tingkir, yang dahulu kala adalah sarana penyeberangan utama Bantul-Kulon Progo kini berubah fungsi sebagai sarana wisata air dan hanya sekali tempo digunakan oleh warga untuk kepentingan sosial. Dengan dipandu oleh dua tukang satang, rombongan wisatawan (maksimal 8) dapat menikmati trip penyeberangan sungai yang lebarnya sekitar 250 meter atau trip penjelajahan sungai ke atas atau ke bawah kurang lebih sejauh 400 meter tergantung genangan air dengan durasi sekitar 15 menit. Penumpang cukup membayar Rp 10.000; per orang dan wajib menggunakan jaket pelampung. Di sini penumpang dapat menikmati sensasi petualangan yang menyenangkan sekaligus mungkin menakutkan. Sungguh sebuah pengalaman berpetualangan yang sangat special dan langka yang jarang ditemukan di tempat lain.
Ada 2 macam cano yang disediakan, cano kecil untuk 1 orang dan cano besar untuk 2 orang. Dengan dilengkapi sarana keselamatan yang cukup dan pengawasan pemandu, penumpang dapat mengayuhnya sendiri dengan durasi sekitar 1 jam atau lebih tergantung antrian berikutnya hanya dengan tiket Rp 10.000; per orang. Wisatawan juga dapat memilih paket susur sungai dengan minimal peserta 5 orang. Susur sungai dimulai dari atas dermaga Praon Cawan tepatnya di Kalijoho (sebelah selatan jembatan Bantar) dengan jarak sekitar 3.000 meter dari dermaga.
Didukung oleh lokasi bantaran yang cukup luas, wisata Praon Cawan dapat digunakan untuk kegiatan camping, outbound, pentas kesenian dan gathering komunitas gowes atau untuk acara adat bagi masyarakat. Pengelola senantiasa siap sedia membantu dan menyediakan fasilitas yang diperlukan seperti misalnya panggung, meja, kursi, sound system dan lain sebagainya. Berbagai acara adat juga pernah digelar antara lain : Merti Dusun, Baritan dan Kirab Budaya pada hari Minggu, 4 Agustus 2024 dan Minggu, 13 Juli 2025. Kirab Budaya ini tentu dimeriahkan oleh seluruh elemen masyarakat mulai dari anak-anak hingga para sesepuh, dan berbagai kelompok seni tradisional dan tidak ketinggalan yang sangat unik dan special adalah Bregodo dengan kostum khas keprajuritan. Menjadi sebuah pemandangan yang langka bagaikan di zaman kerajaan Mataram waktu itu. Sungguh suatu kearifan lokal yang sangat tinggi nilainya dan perlu dilestarikan.
Wahana lain yang tidak kalah menariknya adalah spot mancing di pinggir Kali Progo di sekitar Lokasi Wisata. Untuk menambah kenyamanan pemancing, pengelola menyediakan fasilitas power listrik untuk keperluan charge HP. Pengelola juga siap untuk menemani para pemancing terutama di malam hari.
Untuk menambah kenyamanan dan keasyikan pengunjung, Praon Cawan menyediakan warung- warung kuliner makanan tradisional seperti menu ingkung, emping garut, minuman tradisional, dan lain sebagainya. Namun untuk sementara makanan akan disediakan jika ada reservasi (made by order).
Itulah gambaran sekilas tentang wisata alam Praon Cawan yang eksotik. Agar tidak semakin penasaran segera kunjungi pada setiap hari jam 07.00 - malam hari untuk berbagai kepentingan pengunjung.
Terima Kasih. Selamat berpetualang di Wisata Alam Praon Cawan.
Wassalam.