Sejarah Jamu Tradisional
Jamu tradisional yang telah kita kenal sekarang ternyata sudah mulai dibuat sejak sekitar 1.300 tahun lalu pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Ramuan berbahan dasar rempah-rempah ini menjadi bukti kearifan lokal Nusantara dalam bidang pengobatan, dan kini telah resmi diakui dunia sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO.
Berikut Kronologi Fase Perkembangan Jamu Tradisional:
- Asal Usul Kata:Istilah "jamu" berasal dari bahasa Jawa Kuno atau "jampi" yang berarti doa atau obat dan "husada" yang berarti kesehatan atau penyembuhan.
- Pada Zaman Kerajaan (Abad Ke-5 hingga Ke-15): Pengetahuan dan praktik meramu jamu awalnya hanya berkembang di lingkungan Kerajaan. Bukti keberadaannya telah ditemukan berupa relief peracikan jamu di Candi Borobudur dan Candi Prambanan, serta penyebutan istilah "acaraki" (peracik jamu) pada Prasasti Madawapura dari era Majapahit.
- Pada Zaman Penjajahan: Pada abad ke-17, khasiat jamu menarik perhatian para ilmuwan dan dokter dari Eropa (seperti Belanda dan Inggris) yang mulai mendokumentasikan dan meneliti tanaman-tanaman obat yang ada di Nusantara.
- Tradisi Jamu Gendong: Pada masa Kerajaan Hindu-Buddha hingga pada era modern, jamu tradisional didistribusikan secara masif dari rumah ke rumah dengan cara di gendong oleh para wanita yang mengenakan kain jarik dan bakul. Praktik ini telah menjadi ikon penting dalam memasyarakatkan jamu tradisional.
- Inovasi Era Modern: Dari masa ke masa, bentuk jamu berinovasi, berkembang dari jamu godog (rebus) dan jamu gendong, menjadi bentuk serbuk, kapsul cair instan, hingga kafe jamu kekinian yang diminati kalangan muda.
Penelitian jamu oleh Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes seiring dengan makin meluasnya pemanfaatan jamu di kalangan masyarakat, pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tidak tinggal diam dan memberikan perhatian khusus dengan cara mengadakan penelitian jamu tradisional yang berfocus pada program Saintifikasi Jamu, yakni pembuktian ilmiah (evidence-based) khasiat dan keamanan jamu melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan formal. Program ini lebih lanjut menjadi langkah untuk mengintegrasikan pengobatan tradisional dengan kedokteran modern dengan Dasar Hukum pada Permenkes Nomor 003/MENKES/PER/I/2010 tentang Saintifikasi Jamu dengan Pusat Riset Utama dilakukan oleh Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes, dengan menggunakan fasilitas utama di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) di Tawangmangu.
Tahapan-Tahapan Penelitian Jamu Tradisional
Penelitian jamu dilakukan melalui serangkaian tahapan-tahapan secara ilmiah yang ketat sebelum ramuan jamu tradisional direkomendasikan kepada seluruh masyarakat:
- Etnofarmakologi: (cabang ilmu interdisipliner yang mempelajari bahan-bahan alami) adalah langkah pengumpulan data empiris terkait penggunaan dan resep jamu yang diwariskan secara turun-temurun di berbagai daerah.
- Seleksi Formula: Dilakukan pemilihan ramuan jamu tradisional yang potensial sesuai khasiatnya, misalnya ramuan untuk gangguan lambung, hipertensi atau kolesterol.
- Uji Praklinik: Sebuah tahap pengujian formula/ramuan dengan menggunakan hewan uji untuk memastikan mekanisme kerja dan keamanannya sebelum diuji pada manusia (pasien).
- Uji Klinik: Sebuah pengujian pada subjek manusia (pasien) di fasilitas kesehatan untuk melihat sejauh mana efektivitas klinis dan memantau efek samping yang mungkin ditimbulkan.
- Integrasi di Wilayah Yogyakarta: Sebagai basis wilayah dengan akar budaya jamu yang kuat, Daerah Istimewa Yogyakarta selanjutnya menjadi lokasi penelitian dan pelayanan Saintifikasi Jamu. Dalam proses ini penelitian medis sering kali menggunakan data rekam medik dari fasilitas kesehatan setempat, seperti Puskesmas Gondomanan, untuk mengevaluasi terapi jamu pada pasien.
Bahan-Bahan Jamu Tradisional
Jamu tradisional Indonesia diramu dari bahan-bahan alami dari tumbuh-tumbuhan yang banyak ditemukan di Indonesia seperti rempah, rimpang, akar, daun, dan buah-buahan. Bahan-bahan ini dipercaya memiliki berbagai khasiat, misalnya sebagai antioksidan, antiradang, dan penambah imunitas. Berikut adalah bahan-bahan untuk membuat racikan jamu tradisional.
Bahan Utama: Rimpang (Empon-empon)
- Kunyit: Dipercaya kaya akan kandungan kurkumin, untuk membuat ramuan jamu Kunyit Asam/Kunir Asem dan Sinom, mempunyai khasiat meredakan nyeri haid, antiradang/anti inflamasi, dan menjaga kesehatan lambung.
- Kencur: Sebagai bahan utama untuk membuat racikan jamu Beras Kencur, dapat berfungsi mengatasi pegal-pegal, masuk angin, dan menyegarkan tubuh.
- Jahe: Adalah bahan yang dapat memberikan efek hangat dan melegakan tenggorokan. Bahan ini sangat cocok untuk membuat Wedang Jahe dan Gepyokan. Khasiatnya dapat meredakan mual, nyeri otot, dan meningkatkan imun.
- Temulawak: Bahan yang mempunyai khasiat untuk memperbaiki nafsu makan, menjaga kesehatan fungsi hati, dan menurunkan kolesterol.
- Temu Kunci: Bahan ini digunakan untuk membuat jamu Kunci Sirih, yang berkhasiat mengatasi keputihan, merapatkan organ kewanitaan, dan menghilangkan bau badan.
Bahan Daun dan Akar
- Daun Sirih dan Daun Luntas: Menjadi komponen utama ramuan jamu Kunci Sirih, dikenal sebagai antiseptik alami yang efektif membersihkan area kewanitaan dan mengurangi bau mulut.
- Daun Sambiloto dan Brotowali: Sebagai bahan utama untuk membuat jamu Pahitan. Mempunyai ciri khas rasa yang sangat pahit, sangat ampuh untuk membersihkan darah kotor, menurunkan gula darah, dan menambah nafsu makan.
Bahan Jamu Penambah Rasa dan Aroma
- Asam Jawa: Dapat memberikan rasa segar dan asam, sangat baik untuk melancarkan pencernaan.
- Gula Merah/Gula Aren: Bahan tambahan sebagai pemanis alami dan pemberi warna kecokelatan yang pekat pada jamu.
- Serai, Kayu Manis, dan Kapulaga: Berupa rempah aromatik yang dapat menambah kehangatan dan kenikmatan rasa jamu.
Cara Membuat Jamu Tradisional
Seiring dengan permintaan pasar, ramuan jamu tradisional kini tidak hanya dibuat menjadi jamu rebus namun juga instan/dalam bentuk bubuk.
Langkah-langkah membuat jamu rebus.
Membuat jamu rebus sangat mudah: cuci dan memarkan rimpang (jahe/kunyit/temulawak), lalu rebus bersama air dan bahan tambahan (asam jawa/gula aren) dengan api kecil. Biarkan air menyusut hingga separuhnya, saring, dan jamu siap dinikmati.
- Membersihkan semua bahan rimpang segar seperti kunyit, jahe, temulawak, atau kencur, lalu memarkan, iris tipis, atau diparut.
- Memilih wadah (panci) yang berbahan stainless steel,kaca atau gerabah (tanah liat), hindari panci aluminium karena bisa bereaksi dengan asam pada jamu.
- Memasukkan bahan ke dalam panci dengan perbandingan air yang sesuai (misalnya, 500 ml untuk sekali minum).
- Merebus dengan api kecil hingga mendidih dan air menyusut sekitar sepertiga atau setengahnya atau sekitar 15-20 menit agar sari rempah keluar sempurna.
- Tambahkan bahan pemberi rasa, di akhir proses perebusan, tambahkan gula aren, daun pandan untuk aroma, atau asam jawa untuk memberikan rasa segar.
- Proses penyaringan, matikan mati, kemudian saring jamu ke dalam gelas atau wadah kaca agar ampas terpisah dari air.
Berikut Contoh Membuat Jamu
1. Jamu rebus Kunyit Asam, khasiat untuk Pereda Nyeri dan Segar.
- Bahan: 1 ruas kunyit, 3 buah asam jawa, 1 keping gula aren, sedikit garam, dan 600 ml air.
- Cara buat: Parut kunyit lalu peras airnya (bisa juga langsung merebus irisan kunyit). Rebus semua bahan bersama air hingga mendidih dan gula larut. Saring dan minum selagi hangat atau simpan di kulkas.
Tips Penting dalam membuat jamu
- Penyimpanan: Jamu rebus paling baik dikonsumsi langsung. Jika ingin menyimpannya untuk stok, masukkan ke dalam botol kaca tertutup di dalam kulkas dan habiskan dalam 2-3 hari.
- Aturan Minum: Untuk hasil optimal, minum secara teratur sesuai kebutuhan, namun jangan berlebihan agar tidak membebani pencernaan.
- Keamanan: Untuk ibu hamil atau menyusui, pilih jamu yang lebih ringan seperti jahe atau kencur, dan hindari jamu peluntur atau jamu keras.
2. Membuat bubuk Jamu/Instan
Agar lebih tahan lama dan siap seduh, Anda bisa membuat serbuk jamu instan (versi manis) dengan metode kristalisasi. Berikut adalah langkah-langkah detailnya:
- Bahan-bahan yang disiapkan
- 500 gram rimpang segar (kunyit, jahe, temulawak, atau kencur)
- 250-300 gram gula pasir/gula merah (sesuaikan selera)
- 100 ml air matang
- 1-2 lembar daun pandan (untuk perasa/aroma)
- Sedikit garam
2. Langkah Pembuatan
- Pencucian, cuci bersih rimpang hingga tidak ada tanah yang menempel. Kupas kulitnya jika perlu, lalu cuci kembali.
- Pembuatan sari jamu, parut rimpang atau potong-potong lalu blender dengan sedikit air. Peras airnya dengan menggunakan saringan atau kain bersih hingga sarinya keluar. Endapkan air perasan selama 15 menit, lalu buang air bening di bagian atas dan ambil endapan patinya saja.
- Pemasakan, masak sari/endapan jamu bersama gula, daun pandan, dan garam dalam wajan dengan api sedang. Aduk secara terus-menerus.
- Kristalisasi, ketika air mulai menyusut dan gula mulai berpasir/mengkristal, kecilkan api sekecil mungkin. Terus diaduk tanpa henti hingga campuran benar-benar kering dan berubah menjadi serbuk kristal.
- Pengayakan, angkat dan biarkan hingga dingin. Setelah itu, haluskan atau saring serbuk jamu agar ukurannya seragam.
3. Cara Penyimpanan
Simpan bubuk jamu di dalam toples kaca atau wadah kedap udara. Pastikan wadah benar-benar kering agar jamu awet tidak menggumpal atau berjamur.
Pengrajin Jamu Tradisional "Larisna"
Larisna adalah produsen jamu tradisional milik Ibu Suratinah yang beralamat di Pedukuhan Dingkikan, Kalurahan Argodadi, Kapanewon Sedayu. Jamu ini awalnya dibuat sejak tahun 1998 secara manual dengan berbekal pengetahuannya membuat jamu dari orang tuanya yang juga pembuat jamu tradisional. Pada waktu itu jamu tradisional dipasarkan ke pasar-pasar tradisional atau dijual keliling door to door. Begitu juga Ibu Suratinah memasarkan jamu racikannya yang dimasukkan ke dalam botol-botol dan ditaruh di dalam tenggok kemudian digendong, diedarkan rumah ke rumah mulai daerah Jambon, Argorejo ke timur hingga wilayah Ngenthak Argorejo dengan berjalan kaki dari pagi hingga sore. Kegiatan ini masih dijalani hingga sekarang namun tidak lagi berjalan kaki, tetapi dengan kendaraan motor.
Inovasi Produksi
Seperti pengrajin jamu pada umumnya, lima tahun kemudian Larisna juga berinovasi dalam berproduksi. Jika pada awalnya hanya memproduksi jamu rebus, kini mulai memproduksi dalam bentuk serbuk/instan dengan tujuan jamu dapat bertahan lebih lama. Dengan bimbingan dari dinas terkait, Larisna mampu memproduksi jamu instan dan penerbitan PIRT dan label halal. Pangsa pasar juga berkembang dari pemasaran door to door hingga ke toko atau warung di sekitar. Ke depan pemasaran jamu tradisional Larisna perlu terus didorong melalui berbagai media yang populer sekarang ini.
Demikian sedikit ulasan tentang pengrajin jamu "Larisna", semoga bermanfaat.
Wassalam